• Latest
Ada Rindu, Tawa, Air Mata yang Harus Dibalas Dengan Rasa Bangga Untuk Orangtua - 2025 07 28 18 13 50 | Essay | Potret Online

Ada Rindu, Tawa, Air Mata yang Harus Dibalas Dengan Rasa Bangga Untuk Orangtua

Juli 28, 2025

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
IMG_0835

Menurunnya Religiusitas Pada Remaja Muslim

April 18, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ada Rindu, Tawa, Air Mata yang Harus Dibalas Dengan Rasa Bangga Untuk Orangtua

Rivaldi by Rivaldi
Juli 28, 2025
in Essay, Lesson Learned
Reading Time: 3 mins read
0
Ada Rindu, Tawa, Air Mata yang Harus Dibalas Dengan Rasa Bangga Untuk Orangtua - 2025 07 28 18 13 50 | Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rivaldi

Dalam setiap langkah yang kutempuh jauh dari kampung halaman, ada rindu yang diam-diam tumbuh di dada. Rindu yang tak pernah benar-benar padam, bahkan ketika senyum tersungging dan tawa menggema di tengah keramaian kota. Rindu itu datang dari suara mamak yang mulai pelan saat menelepon, dari pesan ayah yang singkat, namun sarat makna, dan dari bayangan rumah di sudut selatan Aceh yang selalu hangat dalam ingatan.

Ada tawa juga—tawa yang terkadang muncul untuk menyembunyikan sepi. Tawa bersama kawan seperjuangan di perantauan, tawa di tengah lelah mengerjakan tugas, tawa getir karena sadar bahwa menjadi dewasa adalah memilih untuk tetap kuat ketika hati ingin pulang.

Tapi di balik tawa itu, air mata seringkali jatuh tanpa suara. Saat malam tiba dan pelukan orangtua hanya bisa diingat, bukan dirasakan. Saat makanan hangat buatan mamak hanya tersisa dalam ingatan, bukan di meja makan.

Aku berasal dari sebuah sudut sunyi di sebuah desa yang berada di Aceh Selatan. Tempat di mana suara azan terdengar lembut seperti bisikan mamak disaat membangunkan aku sahur, seperti suara ikhlas tapak kaki mamak yang beranjak dari kamar di saat aku pulang tengah malam untuk sekadar membuka pintu. Padahal ia sudah lelah dihantam lelah oleh dunia di siang hari , dan aroma kopi hitam terasa lebih dari sekadar minuman, ia adalah pengikat cerita, pelipur rindu, dan saksi percakapan paling jujur antara anak dan orangtua.

Dari sanalah aku melangkah, menjejak jalan panjang menuju ibu kota provinsi. Bukan untuk mengejar gemerlap kota, tapi untuk memenuhi sebuah janji yang tak terucap, yang diam-diam diselipkan mamak di balik doa dan pelukannya di pagi perpisahan itu.

Pergi dari kampung bukan perkara mudah. Setiap langkah yang kutempuh adalah tawar-menawar antara cita-cita dan air mata. Ada rindu yang menggantung di setiap helai baju yang tak sempat dicuci mamak sebelum aku pergi. Ada pesan-pesan sederhana yang terus mengiang: “Jangan lupa shalat nak, Jangan lupa jadi orang baik.” Dan yang paling sering, “Ingat, nak, ilmu itu penting, tapi lebih penting lagi cara kamu memperlakukan orang.”

Di kota, aku belajar banyak hal—tentang dunia, tentang sistem, tentang betapa manusia bisa begitu pintar, tapi juga begitu dingin. Aku melihat bagaimana ijazah bisa membuka pintu, tetapi hanya adab dan etika yang bisa membuat kita diterima di dalamnya. Di ruang kelas, aku menulis makalah tentang ekonomi dan ketimpangan sosial, tapi di jalanan dan lorong-lorong gelap aku belajar tentang anak-anak yang putus sekolah, tentang senyum yang dijual demi sesuap nasi, dan tentang bagaimana tidak semua orang punya kemewahan untuk bermimpi.

Semakin lama di sini, aku semakin mengerti pesan ayah saat mengantar ke halaman rumah sebelum aku berangkat: “Pulanglah nanti, bukan hanya membawa kertas, tapi bawalah sesuatu yang bisa membuatmu jadi cahaya di kampung halaman.” Dulu aku mengira itu hanya kalimat perpisahan. Tapi kini aku tahu, ia sedang menitipkan harapan agar aku tidak hanya jadi sarjana, tapi jadi manusia yang utuh—yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengar, dan kapan harus berdiri di sisi yang benar meskipun sendirian.

Menempuh pendidikan jauh dari rumah adalah ujian yang lebih dari sekadar akademik. Ini tentang kesetiaan pada nilai, pada akar, dan pada mereka yang diam-diam selalu menyebut namaku dalam doanya. Aku ingin pulang, bukan sebagai orang yang sekadar pintar bicara soal teori, tapi sebagai seorang anak dari sebuah desa yang ada di Aceh Selatan yang tidak lupa jalan pulang, tidak lupa cara bersyukur, dan tidak lupa pada siapa ia pertama kali belajar kasih sayang—di rumah yang tak pernah megah, tapi selalu hangat.

Dan jika kelak aku berhasil, itu bukan semata karena kepintaranku, tapi karena rindu yang kujaga, air mata yang kutahan, dan doa yang tak pernah absen dari mereka yang selalu menungguku kembali.

Teruntuk ayah dan mamak terima kasih telah memberi bekal yang dibaluti dengan payung doa kalian yang selalu membersamaku setiap langkah ini, mereka pernah berucap ” Nak kami takut jika kelak kamu tak jadi apa-apa nak” sekarang aku jawab dengan lantang ” Mak, ayah, aku takut jika kelak aku sukses kalian tak dapat merasakannya”. Salam hangat dan penuh cinta dari anakmu Rivaldi.

Share234SendTweet146Share
Rivaldi

Rivaldi

Rivaldi Ketua umum HMI komisariat FKIP USK, Banda Aceh

Next Post
Ada Rindu, Tawa, Air Mata yang Harus Dibalas Dengan Rasa Bangga Untuk Orangtua - 2025 07 29 06 36 29 | Essay | Potret Online

Kembangkan Lestari, SMA Negeri 1 Matangkuli, Aceh Utara Terapkan Pembelajaran Mendalam

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com