• Latest

Seribu Senja di Blangpidie

Juli 23, 2021
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Seribu Senja di Blangpidie - 1001348646_11zon | Essay | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Seribu Senja di Blangpidie - 1001353319_11zon | Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Seribu Senja di Blangpidie - 1001361361_11zon | Essay | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Seribu Senja di Blangpidie

Redaksi by Redaksi
Juli 23, 2021
in Essay, Kenangan, nostalgia
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

 

Oleh Syamsuarni Setia

Baca Juga
  • Derita Ribuan Buruh Sritex dan Yamaha
  • RERASAN: SETERIKA ARANG

Di Banda Aceh

Baca Juga
  • “ASA ANAK NEGERI” MIMPI YANG MENJADI NYATA
  • PERAN KELUARGA DALAM PENGEMBANGAN ANAK BERBAKAT

       Foto ini mengingatkan semua peristiwa tanggal 23 Juli 2013 dalam perjalanan ke Bakongan. Berangkat dari Banda Aceh usai shalat subuh, lebih kurang pukul 5.30 wib. Nyetir sendiri dengan melafadkan: “Bismillahirrahmanirrahim”. 

       Kalau tidak salah ingat sekitar pukul 08.00 tiba di Calang untuk ngopi dan sarapan pagi keluarga. Ada sekitar 1 jam di Calang dan pukul 09.00 wib meninggalkan Calang dan tiba di Meulaboh  sekitar pukul 10 WIB atau 1 jam perjalanan dari Calang. Tidak lama di Meulaboh karena tidak ada acara makan minum, kecuali hanya untuk membeli “pisang brat” atau sering disebut di Banda Aceh pisang ambon. Beda dengan di Banda Aceh, di Meulaboh pisang brat bukan barang langka karena banyak dijual. 

Baca Juga
  • Haji dan Dua Kota Suci: Miniatur Perjalanan Kehidupan
  • Mengenang Ridwan Saidi

      Dari Meulaboh perjalanan agak santai karena rencana menginap di Blangpidie. Lebih kurang pukul 11.30 wib tiba di persimpangan tugu Cot Mane mendekati Kota Blangpidie. Disini saya berhenti sejenak dipersimpangan antara dua jalan lewat Pulau Kayu Susoh atau melalui Guhang untuk tiba di Blangpidie. 

Perasaan ingin lewat Pulau Kayu, walaupun perjalanan agak lama berhubung dengan kilometer yang panjang. Tapi, akhirnya kenangan mengalahkan keinginan, karena waktu saya sekolah SMA di Blangpidie, Guhang punya kenangan tersendiri bagi saya, walaupun kini hanya tinggal kenangan. Maka saya tetapkan hati lewat Guhang dan tiba di Blangpidie pukul 11.30 wib. 

      Sudah menjadi konvensi yang tidak tertulis bahwa tiba di Blangpidie harus santap mie kocok. Mie kocok Blangpidie memang ada cita rasa agak lebih bagi selera. Ibaratnya seperti kata Rustam Efendi dalam “Bunda dan Anak” melihatnya saja bisa terpercik liur di bawah lidah, membangkitkan rasa bagi selera. 

       Usai menikmati cita rasa mie kocok putih atau lebih dikenal mie tiau, entah pengaruh apa, saran keluarga membatalkan menginap di Blangpidie mengganti menginap di Tapaktuan. Jelang berangkat menuju Tapaktuan mutar muter sebentar keliling Blangpidie dan Susoh, mungkin khusus bagi saya suasana memori yang terpateri dalam amigdala dan cortex di pikiran (otak) beda dengan orang-orang yang tidak pernah lama tinggal di “Kota Breuh Sigupai” ini (Blangpidie dulu dikenal dengan breuh/beras sigupai). Bagi saya banyak membawa ingatan ke masa lalu sehingga setiap tiba di sini ada saja yang diingat. Kalau ditulis bisa menjadi satu novel dengan judul: “Seribu Senja di Blangpidie” mengadopsi judul novel “1000 Senja di Roma” karya Motinggo Boesye. Coba bayangkan 3 tahun di Blangpidie, sama dengan 1000 hari (lebih dikit/95 hari). Mungkin teman-teman ada membaca novel tersebut, tak terkecuali Bung Wahidin Wahidin dan Tabrani Yunis sebagai pencinta susastra (sastra indah) ada membacanya. 

       Hmm … !, lama mutar muter di daerah breuh sigupai ini dan lebih kurang pukul 13.00 wib saya meninggalkan Blangpidie langsung menuju Kota Tapaktuan. Meskipun masih siang hari, tapi berketetapan hati menginap di Tapaktuan dan kami pilih di Hotel Metro, meskipun ada rumah famili dan teman-teman seperti Irfanullah Nullah. 

       Pagi hari usai sarapan,  terlihat di pekarangan samping hotel ada kura-kura Metro ditunggangi pemilik, muter-muter sambil ketawa ketiwi. Asyik juga melihatnya. Saat itulah saya abadikan even dalam foto tersebut. 

       Oke … , cukup memori ini saya padai dan simpan disini yang secara kebetulan terbersit saat melihat foto ini di album.

      (Dahlia11, Bna 23 Juli 2021)

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Maradona, Italia dan Rektor

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com