POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Essay

Maradona, Italia dan Rektor

Redaksi by Redaksi
Juli 24, 2021
in Essay, Perguruan tinggi, Rektor Jakarta, UI
0

Oleh Ahmad Rizali 

Baca Juga
  • Maradona, Italia dan Rektor - F70C17E4 5C36 43D7 B45A E551053E2C48 | Essay | Potret Online
    Artikel
    Elliott Ness
    13 Agu 2022
  • 02
    Essay
    Memilah Sampah Dari Rumah
    11 Des 2021

Berdomisili di Depok

Baca Juga
  • Maradona, Italia dan Rektor - c46e505c 5900 4461 8ca3 3aa771006c32 1 | Essay | Potret Online
    Banjir
    Bumi Aceh Lon Sayang, Ketika Banjir Menghapus Jejak
    14 Des 2025
  • Maradona, Italia dan Rektor - b4654f4d dc1c 4611 b1bc 982b3692e7d1 | Essay | Potret Online
    Essay
    Tahun Baru yang Sunyi di Kampung
    02 Jan 2026

Peristiwa gaduh terbitnya PP75 Tahun 2021 tentang Statuta UI yang akhirnya melegalkan jabatan rangkap rektor dengan komisaris BUMN, memberi saya banyak inspirasi dan pembenaran, mengapa saya sangat mengagumi sosok Maradona sebagai pemain dan Italia sebagai tim sepakbola. 

Baca Juga
  • 01
    Essay
    KALA REMAJA BERMAIN GAME
    03 Agu 2021
  • 02
    Analisis
    Teka Teki RUU Sisdiknas: Madrasah
    31 Mar 2022

Jika menonton Pele, membosankan sekali karena seakan malaikat yang bermain. Menonton rerata tim Eropa lain juga sama, sungguh bersih dalam permainan sepakbola dan peluit dan kartu hukuman wasit kebanyakan menganggur saking bersihnya. Berbeda jika Italia sedang bermain. Mereka faham bahwa kemenangan itu boleh dengan cara apapun selama risiko terukur. Lakukan apapun dan serahkan sepenuhnya kepada wasit dan hakim garis.

Jika rektor itu dimisalkan pemain Itali, atau Maradona, maka sungguh naif jika tak faham “dont-do” sebagai rektor, seperti naifnya pemain piala dunia atau Maradona bahwa bola kena tangan itu sengaja atau tidak adalah pelanggaran. Namun, Maradona menyerahkan kepada wasit dan wasit membiarkan. Tidak salah jika rektorpun menyerahkan kepada MWA dan MWA diam saja. Sehingga gol dan jabatan terlarang sah. 

Hingga saat ini, tidak pernah ada keputusan dari FIFA yang menganulir gol “tangan tuhan” Maradona dan hanya menganggap sebagai skandal memalukan dalam dunia persepakbolaan. Apakah karena yang melakukan Maradona? Entahlah. Kasus rektor juga, meski tidak hanya satu kasus “tangan tuhan”, namun “FIFA” juga membiarkan, apakah karena “Maradona” yang melakukan, wallahu alam.

Bedanya sungguh ikonik. Dalam dunia sepakbola, “fairplay” tetap dijadikan acuan dan jelas “HandsBall” adalah pelanggaran dan Maradona tetap bermain hingga akhir hayat. Namun di dunia “Sepakbola” ternyata ketua “FIFA” mengubah aturan bahwa “HandsBall” sudah diperbolehkan, serunya “Maradona” gantung sepatu dan stop merumput. Kasihan ketua “FIFA” yang sudah mati matian membolehkan “HandsBall”, jebule mandeg tembungan

Previous Post

Seribu Senja di Blangpidie

Next Post

Konselor Punya Masa Depan Gemilang

Next Post

Konselor Punya Masa Depan Gemilang

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah