POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Essay

Maradona, Italia dan Rektor

Redaksi by Redaksi
Juli 24, 2021
in Essay, Perguruan tinggi, Rektor Jakarta, UI
0

Oleh Ahmad Rizali 

Maradona, Italia dan Rektor - 6FFB03DE 5D22 4678 90C2 CC5F5D0532FA | Essay | Potret Online
Baca Juga
Berbagi
KETIKA MINYAK GORENG MENGGORENG PEMERINTAH DAN RAKYAT INDONESIA
25 Mar 2022

Berdomisili di Depok

IMG_0956
Baca Juga
#Pendidikan
Membenahi Pendidikan Tinggi: Dari Logika Pasar Menuju Keadilan Sosial
27 Apr 2026

Peristiwa gaduh terbitnya PP75 Tahun 2021 tentang Statuta UI yang akhirnya melegalkan jabatan rangkap rektor dengan komisaris BUMN, memberi saya banyak inspirasi dan pembenaran, mengapa saya sangat mengagumi sosok Maradona sebagai pemain dan Italia sebagai tim sepakbola. 

IMG_1095
Baca Juga
Artikel
Kampus yang Tersesat di Jalan Terang: Sebuah Alegori tentang Ambisi, Kebodohan, dan Senat yang Terlambat Bangun
08 Mei 2026

Jika menonton Pele, membosankan sekali karena seakan malaikat yang bermain. Menonton rerata tim Eropa lain juga sama, sungguh bersih dalam permainan sepakbola dan peluit dan kartu hukuman wasit kebanyakan menganggur saking bersihnya. Berbeda jika Italia sedang bermain. Mereka faham bahwa kemenangan itu boleh dengan cara apapun selama risiko terukur. Lakukan apapun dan serahkan sepenuhnya kepada wasit dan hakim garis.

Jika rektor itu dimisalkan pemain Itali, atau Maradona, maka sungguh naif jika tak faham “dont-do” sebagai rektor, seperti naifnya pemain piala dunia atau Maradona bahwa bola kena tangan itu sengaja atau tidak adalah pelanggaran. Namun, Maradona menyerahkan kepada wasit dan wasit membiarkan. Tidak salah jika rektorpun menyerahkan kepada MWA dan MWA diam saja. Sehingga gol dan jabatan terlarang sah. 

Hingga saat ini, tidak pernah ada keputusan dari FIFA yang menganulir gol “tangan tuhan” Maradona dan hanya menganggap sebagai skandal memalukan dalam dunia persepakbolaan. Apakah karena yang melakukan Maradona? Entahlah. Kasus rektor juga, meski tidak hanya satu kasus “tangan tuhan”, namun “FIFA” juga membiarkan, apakah karena “Maradona” yang melakukan, wallahu alam.

Bedanya sungguh ikonik. Dalam dunia sepakbola, “fairplay” tetap dijadikan acuan dan jelas “HandsBall” adalah pelanggaran dan Maradona tetap bermain hingga akhir hayat. Namun di dunia “Sepakbola” ternyata ketua “FIFA” mengubah aturan bahwa “HandsBall” sudah diperbolehkan, serunya “Maradona” gantung sepatu dan stop merumput. Kasihan ketua “FIFA” yang sudah mati matian membolehkan “HandsBall”, jebule mandeg tembungan

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post

Konselor Punya Masa Depan Gemilang

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah