POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Essay

Maradona, Italia dan Rektor

Redaksi by Redaksi
Juli 24, 2021
in Essay, Perguruan tinggi, Rektor Jakarta, UI
0

Oleh Ahmad Rizali 

Baca Juga
  • 01
    Anak
    PERAN KELUARGA DALAM PENGEMBANGAN ANAK BERBAKAT
    26 Mei 2021
  • 02
    Essay
    Pindah Kuliah
    20 Jun 2021

Berdomisili di Depok

Baca Juga
  • 01
    Arabica coffee
    Kuliner, Kopi dan Kebebasan
    09 Agu 2021
  • Maradona, Italia dan Rektor - 5f25a00b 8e97 467e ad24 edc1cc1204a1 | Essay | Potret Online
    # Ironi
    Di Antara Idealisme dan Honorarium
    17 Mar 2026

Peristiwa gaduh terbitnya PP75 Tahun 2021 tentang Statuta UI yang akhirnya melegalkan jabatan rangkap rektor dengan komisaris BUMN, memberi saya banyak inspirasi dan pembenaran, mengapa saya sangat mengagumi sosok Maradona sebagai pemain dan Italia sebagai tim sepakbola. 

Baca Juga
  • 01
    Diafragma
    KIDUNG KEMATIAN
    18 Mar 2024
  • Maradona, Italia dan Rektor - 3e9b60a1 45e7 42c0 811f 85cdab43f330 | Essay | Potret Online
    #Ultah POTRET
    Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa
    18 Jan 2026

Jika menonton Pele, membosankan sekali karena seakan malaikat yang bermain. Menonton rerata tim Eropa lain juga sama, sungguh bersih dalam permainan sepakbola dan peluit dan kartu hukuman wasit kebanyakan menganggur saking bersihnya. Berbeda jika Italia sedang bermain. Mereka faham bahwa kemenangan itu boleh dengan cara apapun selama risiko terukur. Lakukan apapun dan serahkan sepenuhnya kepada wasit dan hakim garis.

Jika rektor itu dimisalkan pemain Itali, atau Maradona, maka sungguh naif jika tak faham “dont-do” sebagai rektor, seperti naifnya pemain piala dunia atau Maradona bahwa bola kena tangan itu sengaja atau tidak adalah pelanggaran. Namun, Maradona menyerahkan kepada wasit dan wasit membiarkan. Tidak salah jika rektorpun menyerahkan kepada MWA dan MWA diam saja. Sehingga gol dan jabatan terlarang sah. 

Hingga saat ini, tidak pernah ada keputusan dari FIFA yang menganulir gol “tangan tuhan” Maradona dan hanya menganggap sebagai skandal memalukan dalam dunia persepakbolaan. Apakah karena yang melakukan Maradona? Entahlah. Kasus rektor juga, meski tidak hanya satu kasus “tangan tuhan”, namun “FIFA” juga membiarkan, apakah karena “Maradona” yang melakukan, wallahu alam.

Bedanya sungguh ikonik. Dalam dunia sepakbola, “fairplay” tetap dijadikan acuan dan jelas “HandsBall” adalah pelanggaran dan Maradona tetap bermain hingga akhir hayat. Namun di dunia “Sepakbola” ternyata ketua “FIFA” mengubah aturan bahwa “HandsBall” sudah diperbolehkan, serunya “Maradona” gantung sepatu dan stop merumput. Kasihan ketua “FIFA” yang sudah mati matian membolehkan “HandsBall”, jebule mandeg tembungan

Previous Post

Seribu Senja di Blangpidie

Next Post

Konselor Punya Masa Depan Gemilang

Next Post

Konselor Punya Masa Depan Gemilang

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah