• Latest

Maradona, Italia dan Rektor

Juli 24, 2021
29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
3271b064-e5af-478a-be77-3253443f27da

Media Sosial: Meningkatkan atau Menurunkan Kepercayaan Diri Remaja?

April 10, 2026
IMG_0722

Make-Up dan Self-Confidence Pada Remaja Perempuan dalam Perspektif Psikologi

April 10, 2026
Kota Batavia abad ke-18 dengan kanal, bangunan kolonial, dan suasana senja yang muram di sekitar Kali Besar.

Geger Pecinan 1740 Mengubah Wajah Nusantara Selamanya

April 10, 2026
667109a2-c370-4108-8a9c-7dcb1a0a1d44

Normalisasi “Chatting” Tanpa Batas: Pergeseran Makna Khalwat di Era Digital

April 10, 2026
Maradona, Italia dan Rektor - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Essay | Potret Online

Dari Instrumen ke Otoritas: Ketika Algoritma Menggeser Kedaulatan Keputusan Manusia

April 10, 2026
Ilustrasi korban perempuan mengalami tekanan dan diskriminasi akibat pelecehan seksual di media sosial

Diskriminasi terhadap Korban Pelecehan Seksual di Media Sosial

April 10, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Maradona, Italia dan Rektor

Redaksi by Redaksi
Juli 24, 2021
in Essay, Perguruan tinggi, Rektor Jakarta, UI
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Ahmad Rizali 

Baca Juga:
  • Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa
  • Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi
  • Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Berdomisili di Depok

Baca Juga

IMG_0651

UNIGHA Sigli dan Cerita Panjang Tentang Pendidikan, Perjuangan, dan Harapan

April 6, 2026
a94b2e7b-9a15-4874-921b-98e123348821

Antara Kafe dan Kelas: Saatnya Kampus Aceh Keluar dari Kekakuan

April 5, 2026
Maradona, Italia dan Rektor - 5f25a00b 8e97 467e ad24 edc1cc1204a1 | Essay | Potret Online

Di Antara Idealisme dan Honorarium

Maret 17, 2026

Peristiwa gaduh terbitnya PP75 Tahun 2021 tentang Statuta UI yang akhirnya melegalkan jabatan rangkap rektor dengan komisaris BUMN, memberi saya banyak inspirasi dan pembenaran, mengapa saya sangat mengagumi sosok Maradona sebagai pemain dan Italia sebagai tim sepakbola. 

Jika menonton Pele, membosankan sekali karena seakan malaikat yang bermain. Menonton rerata tim Eropa lain juga sama, sungguh bersih dalam permainan sepakbola dan peluit dan kartu hukuman wasit kebanyakan menganggur saking bersihnya. Berbeda jika Italia sedang bermain. Mereka faham bahwa kemenangan itu boleh dengan cara apapun selama risiko terukur. Lakukan apapun dan serahkan sepenuhnya kepada wasit dan hakim garis.

Jika rektor itu dimisalkan pemain Itali, atau Maradona, maka sungguh naif jika tak faham “dont-do” sebagai rektor, seperti naifnya pemain piala dunia atau Maradona bahwa bola kena tangan itu sengaja atau tidak adalah pelanggaran. Namun, Maradona menyerahkan kepada wasit dan wasit membiarkan. Tidak salah jika rektorpun menyerahkan kepada MWA dan MWA diam saja. Sehingga gol dan jabatan terlarang sah. 

Hingga saat ini, tidak pernah ada keputusan dari FIFA yang menganulir gol “tangan tuhan” Maradona dan hanya menganggap sebagai skandal memalukan dalam dunia persepakbolaan. Apakah karena yang melakukan Maradona? Entahlah. Kasus rektor juga, meski tidak hanya satu kasus “tangan tuhan”, namun “FIFA” juga membiarkan, apakah karena “Maradona” yang melakukan, wallahu alam.

Bedanya sungguh ikonik. Dalam dunia sepakbola, “fairplay” tetap dijadikan acuan dan jelas “HandsBall” adalah pelanggaran dan Maradona tetap bermain hingga akhir hayat. Namun di dunia “Sepakbola” ternyata ketua “FIFA” mengubah aturan bahwa “HandsBall” sudah diperbolehkan, serunya “Maradona” gantung sepatu dan stop merumput. Kasihan ketua “FIFA” yang sudah mati matian membolehkan “HandsBall”, jebule mandeg tembungan

SummarizeShare234Tweet146
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Related Posts

29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de
Artikel

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”
Psikologi Sosial

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
3271b064-e5af-478a-be77-3253443f27da
BIngkai Remaja

Media Sosial: Meningkatkan atau Menurunkan Kepercayaan Diri Remaja?

April 10, 2026
IMG_0722
Artikel

Make-Up dan Self-Confidence Pada Remaja Perempuan dalam Perspektif Psikologi

April 10, 2026
Next Post

Konselor Punya Masa Depan Gemilang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com