POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home # Ironi

Di Antara Idealisme dan Honorarium

Potret Memalukan dalam Praktik Kolegalitas Akademik

Nuriman Abdullah, M.Ed. Ph.D by Nuriman Abdullah, M.Ed. Ph.D
Maret 17, 2026
in # Ironi, Dosen, Perguruan tinggi
0
Di Antara Idealisme dan Honorarium - 5f25a00b 8e97 467e ad24 edc1cc1204a1 | # Ironi | Potret Online

Oleh: Nuriman Abdullah, M.Ed. Ph.D
Dosen UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe


Di balik bahasa formal tentang pemerataan beban mengajar dan semangat kolegalitas, tersembunyi realitas pahit bahwa distribusi mata kuliah telah menjadi ajang perebutan honorium yang dibungkus dengan jubah idealisme akademik. Inilah wajah buram di beberapa perguruan tinggi yang jarang dibicarakan, namun praktiknya berlangsung setiap semester.


Di permukaan, kolegalitas tampil sebagai nilai luhur. Namun di balik meja rapat, kolegalitas telah bermetamorfosis. Mata kuliah yang otomatis menghasilkan honorium besar, menjadi rebutan. Sementara mata kuliah yang secara finansial tidak menguntungkan, justru menjadi “wilayah buangan” yang diberikan kepada dosen yang tidak punya pengaruh.

Baca Juga
  • 01
    # Ironi
    BENGKEL OPINI RAKyat
    27 Apr 2025
  • Di Antara Idealisme dan Honorarium - 2025 08 09 18 54 35 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Kemerdekaan Apalagi yang Kau Tanamkan?
    17 Agu 2025


Ironisnya, semua ini dilakukan dengan senyuman dan jabat tangan. Politik kolegalitas yang sesungguhnya adalah politik dagang sapi kau beri aku mata kuliah strategis, aku dukung kebijakanmu di rapat senat. Kau dapat jatah besar semester ini, semester depan giliranku. Transaksi ini berlangsung halus, tanpa surat kontrak, namun lebih mengikat daripada dokumen formal mana pun.


Ketika dosen tertentu mendapatkan mata kuliah dengan honor besar bertahun-tahun, itu disebut “kontinuitas pengajaran”. Ketika dosen lain hanya mendapat mata kuliah pengantar dengan honor kecil, itu disebut “kaderisasi” atau “penyegaran”.

Baca Juga
  • Di Antara Idealisme dan Honorarium - IMG_4122 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Ijazah Penting
    15 Apr 2025
  • 02
    # Ironi
    HABA Si PATok
    31 Jul 2025


Idealisme juga dipakai untuk membungkam kritik. Dosen yang berani mempertanyakan ketimpangan distribusi akan dituduh “tidak punya semangat pengabdian”, atau “mengganggu harmoni kolegial”.

Dalam iklim seperti ini, keberanian berbicara tentang keadilan honorium dianggap sebagai dosa akademik. Padahal, di balik tuduhan itu, tersembunyi kepentingan ekonomi segelintir orang yang mempertahankan status quo.

Baca Juga
  • 01
    # Ironi
    🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    31 Agu 2025
  • 02
    # Ironi
    🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    11 Nov 2025


Tidak ada dosen yang hidup dari udara. Honorium mengajar adalah bagian penting dari penghasilan. Ketika distribusi mata kuliah tidak adil, yang terjadi adalah ketimpangan ekonomi di antara para pengajar. Ada dosen yang hidup berkecukupan dari honor per semester, sementara yang lain harus pontang-panting mencari tambahan di luar kampus untuk meningkatkan kenerja.


Dosen yang dekat dengan pimpinan menikmati “zona nyaman” dengan mata kuliah andalan yang tidak pernah berpindah tangan. Sementara dosen yang kritis justru dipaksa menjadi “guru keliling” dengan mata kuliah yang berpindah-pindah, tanpa kesempatan membangun kedalaman di bidang tertentu.


Yang lebih memprihatinkan, pertimbangan honorium seringkali mengalahkan pertimbangan kompetensi. Seorang dosen dengan kepakaran di bidang tertentu bisa saja tidak kebagian mata kuliah yang sesuai karena mata kuliah itu sudah “dikuasai” oleh kelompok tertentu selama bertahun-tahun.

Sebaliknya, dosen yang tidak memiliki kompetensi di suatu bidang bisa terus mengampunya karena “sudah biasa” dan tentu saja karena honoriumnya tidak ingin dilepaskan.


Politik kolegalitas yang berorientasi honorium menciptakan dampak ganda yang menghancurkan. Dari sisi akademik, mahasiswa menjadi korban karena tidak mendapatkan pengajar terbaik di bidangnya. Kualitas pembelajaran menurun, penguasaan materi dangkal, dan pada akhirnya kompetensi lulusan terdegradasi.


Dari sisi ekonomi, praktik ini menciptakan ketidakadilan struktural di kalangan dosen. Mereka yang seharusnya fokus mengembangkan diri justru disibukkan dengan urusan mencari mata kuliah tambahan di luar. Kesenjangan ekonomi memicu iri hati, merusak solidaritas, dan mengubah hubungan kolegial menjadi hubungan transaksional.

Kesimpulan


Kolegalitas tanpa keadilan hanyalah kolusi yang dibalut kesopanan. Idealisme tanpa keberpihakan pada kesejahteraan adalah kemunafikan kelas menengah. Perguruan tinggi tidak bisa terus mempertahankan praktik distribusi mata kuliah yang timpang dengan dalih nilai-nilai luhur, sementara di belakangnya terjadi perebutan honorium yang tidak sehat.


Integritas akademik dan keadilan honorium adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Jika dosen diperlakukan tidak adil secara ekonomi, bagaimana mungkin mereka dapat mengajar dengan penuh idealisme? Jika distribusi mata kuliah didasarkan pada kedekatan, bagaimana mungkin kualitas akademik dapat dipertahankan?


Oleh sebab itu, sudah waktunya membuka tabir politik kolegalitas yang selama ini menyelimuti distribusi mata kuliah. Biarkan cahaya transparansi masuk, agar yang tersisa hanya kompetensi dan keadilan bukan kepentingan dan kemunafikan.

Previous Post

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Next Post

Separuh Nafas Untuk Paruh Waktu

Next Post
Di Antara Idealisme dan Honorarium - 1001361941_11zon | # Ironi | Potret Online

Separuh Nafas Untuk Paruh Waktu

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah