• Latest
Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal - 2025 07 19 17 38 05 | #Ekonomi | Potret Online

Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal

Juli 19, 2025
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Ekonomi | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal - 2025 07 19 17 38 05 | #Ekonomi | Potret Online

Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Juli 19, 2025
in #Ekonomi, #Perempuan Hebat, desa, Ekonomi, Perempuan, UMKM
Reading Time: 2 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Ririe Aiko

Tak semua kisah besar lahir di panggung gemerlap. Ada kisah keberanian yang tumbuh tanpa sorotan kamera, tanpa kemewahan panggung, tanpa tepuk tangan publik.

Ketika berkesempatan mengunjungi para pelaku UMKM perempuan bersama Kompasianer sebagai exclusive writer, saya menemukan sekelompok perempuan hebat yang tak hanya menjadi tulang punggung keluarga, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.

Baca Juga

8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026
Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026

Di balik kesederhanaan desa itu, saya menyaksikan semangat juang yang begitu murni. Mereka tak sekadar berjuang untuk diri sendiri, tapi juga untuk lingkungannya. Salah satunya adalah seorang perempuan yang merintis usaha minuman dari hasil pertanian lokal.

Ia tak hanya menjual minuman segar, tapi juga menghidupkan perekonomian petani-petani kecil di daerahnya. Setiap botol yang terjual membawa cerita, bahwa di balik rasanya yang menyegarkan ada kontribusi petani desa yang semakin sejahtera. Usahanya tumbuh seiring dengan meningkatnya penghasilan para petani di sekitar, karena setiap produksi berarti hasil panen mereka terserap lebih banyak.

Di sudut desa lain, saya berjumpa dengan seorang perempuan pengrajin rajutan. Dari tangan-tangan terampilnya lahir beragam kerajinan tangan bernilai jual tinggi. Yang lebih mengagumkan, ia tak berjalan sendiri. Usaha kecilnya membuka lapangan kerja bagi perempuan-perempuan lain di desanya. Ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya tak punya penghasilan kini bisa membantu ekonomi keluarga dengan merajut dari rumah. Mereka tak perlu meninggalkan anak-anak, tak perlu pergi ke kota, cukup berkarya dari desa—dan hasilnya mampu menopang kehidupan sehari-hari.

Di kota, seringkali usaha dianggap ajang kompetisi. Di desa, saya menyaksikan usaha adalah ruang gotong royong. Ketika satu orang tumbuh, banyak orang ikut terangkat. Ketika pesanan meningkat, lebih banyak tangan yang diajak bekerja. Tidak ada yang takut orang lain ikut sukses. Justru kesuksesan bersama adalah tujuan yang mereka pegang erat.

Saya merenung dalam perjalanan pulang, betapa jauh bedanya dengan realitas yang kerap kita temui di kota besar. Individualisme begitu kuat mengakar. Bahkan di lingkungan keluarga sekalipun, saling menopang terkadang terasa asing. Banyak yang berlomba memperkaya diri, tapi enggan berpikir bagaimana bisa membuka penghidupan untuk orang lain. Di hotel-hotel megah, para elite sibuk merumuskan janji kesejahteraan, sambil menyaksikan deretan pengangguran di jalanan yang semakin panjang.

Dari perempuan-perempuan desa ini, saya belajar bahwa keberanian sejati bukan tentang seberapa besar keuntungan yang bisa kita raup, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kita bagikan. Mereka mungkin tak masuk headline media nasional, tapi langkah kecil mereka menggerakkan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, dan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi sesamanya, merupakan tindakan yang sangat mulia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Baca Juga

Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Next Post
Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal - 2025 07 19 17 55 09 | #Ekonomi | Potret Online

HABA Si PATok

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com