POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
July 19, 2025
Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Ririe Aiko

Tak semua kisah besar lahir di panggung gemerlap. Ada kisah keberanian yang tumbuh tanpa sorotan kamera, tanpa kemewahan panggung, tanpa tepuk tangan publik.

Ketika berkesempatan mengunjungi para pelaku UMKM perempuan bersama Kompasianer sebagai exclusive writer, saya menemukan sekelompok perempuan hebat yang tak hanya menjadi tulang punggung keluarga, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.

Di balik kesederhanaan desa itu, saya menyaksikan semangat juang yang begitu murni. Mereka tak sekadar berjuang untuk diri sendiri, tapi juga untuk lingkungannya. Salah satunya adalah seorang perempuan yang merintis usaha minuman dari hasil pertanian lokal.

Ia tak hanya menjual minuman segar, tapi juga menghidupkan perekonomian petani-petani kecil di daerahnya. Setiap botol yang terjual membawa cerita, bahwa di balik rasanya yang menyegarkan ada kontribusi petani desa yang semakin sejahtera. Usahanya tumbuh seiring dengan meningkatnya penghasilan para petani di sekitar, karena setiap produksi berarti hasil panen mereka terserap lebih banyak.

📚 Artikel Terkait

Etika Menyikapi Khilafiyah Dalam Islam

Aceh Butuh Komando Tunggal Darurat Banjir: Saatnya Bertindak, Bukan Rapat

Bahaya Sampah Plastik Bagi Lingkungan

Menelisik Rumah Adat Situbondo Bersama Cak Tutun, Guru Tari Topeng dan Budayawan Lokal

Di sudut desa lain, saya berjumpa dengan seorang perempuan pengrajin rajutan. Dari tangan-tangan terampilnya lahir beragam kerajinan tangan bernilai jual tinggi. Yang lebih mengagumkan, ia tak berjalan sendiri. Usaha kecilnya membuka lapangan kerja bagi perempuan-perempuan lain di desanya. Ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya tak punya penghasilan kini bisa membantu ekonomi keluarga dengan merajut dari rumah. Mereka tak perlu meninggalkan anak-anak, tak perlu pergi ke kota, cukup berkarya dari desa—dan hasilnya mampu menopang kehidupan sehari-hari.

Di kota, seringkali usaha dianggap ajang kompetisi. Di desa, saya menyaksikan usaha adalah ruang gotong royong. Ketika satu orang tumbuh, banyak orang ikut terangkat. Ketika pesanan meningkat, lebih banyak tangan yang diajak bekerja. Tidak ada yang takut orang lain ikut sukses. Justru kesuksesan bersama adalah tujuan yang mereka pegang erat.

Saya merenung dalam perjalanan pulang, betapa jauh bedanya dengan realitas yang kerap kita temui di kota besar. Individualisme begitu kuat mengakar. Bahkan di lingkungan keluarga sekalipun, saling menopang terkadang terasa asing. Banyak yang berlomba memperkaya diri, tapi enggan berpikir bagaimana bisa membuka penghidupan untuk orang lain. Di hotel-hotel megah, para elite sibuk merumuskan janji kesejahteraan, sambil menyaksikan deretan pengangguran di jalanan yang semakin panjang.

Dari perempuan-perempuan desa ini, saya belajar bahwa keberanian sejati bukan tentang seberapa besar keuntungan yang bisa kita raup, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kita bagikan. Mereka mungkin tak masuk headline media nasional, tapi langkah kecil mereka menggerakkan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, dan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi sesamanya, merupakan tindakan yang sangat mulia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
HABA Si PATok

HABA Si PATok

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00