• Latest
Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal - 2025 07 19 17 38 05 | #Ekonomi | Potret Online

Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal

Juli 19, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Juli 19, 2025
in #Ekonomi, #Perempuan Hebat, desa, Ekonomi, Perempuan, UMKM
Reading Time: 2 mins read
0
Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal - 2025 07 19 17 38 05 | #Ekonomi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh : Ririe Aiko

Tak semua kisah besar lahir di panggung gemerlap. Ada kisah keberanian yang tumbuh tanpa sorotan kamera, tanpa kemewahan panggung, tanpa tepuk tangan publik.

Ketika berkesempatan mengunjungi para pelaku UMKM perempuan bersama Kompasianer sebagai exclusive writer, saya menemukan sekelompok perempuan hebat yang tak hanya menjadi tulang punggung keluarga, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.

Di balik kesederhanaan desa itu, saya menyaksikan semangat juang yang begitu murni. Mereka tak sekadar berjuang untuk diri sendiri, tapi juga untuk lingkungannya. Salah satunya adalah seorang perempuan yang merintis usaha minuman dari hasil pertanian lokal.

Ia tak hanya menjual minuman segar, tapi juga menghidupkan perekonomian petani-petani kecil di daerahnya. Setiap botol yang terjual membawa cerita, bahwa di balik rasanya yang menyegarkan ada kontribusi petani desa yang semakin sejahtera. Usahanya tumbuh seiring dengan meningkatnya penghasilan para petani di sekitar, karena setiap produksi berarti hasil panen mereka terserap lebih banyak.

Di sudut desa lain, saya berjumpa dengan seorang perempuan pengrajin rajutan. Dari tangan-tangan terampilnya lahir beragam kerajinan tangan bernilai jual tinggi. Yang lebih mengagumkan, ia tak berjalan sendiri. Usaha kecilnya membuka lapangan kerja bagi perempuan-perempuan lain di desanya. Ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya tak punya penghasilan kini bisa membantu ekonomi keluarga dengan merajut dari rumah. Mereka tak perlu meninggalkan anak-anak, tak perlu pergi ke kota, cukup berkarya dari desa—dan hasilnya mampu menopang kehidupan sehari-hari.

Di kota, seringkali usaha dianggap ajang kompetisi. Di desa, saya menyaksikan usaha adalah ruang gotong royong. Ketika satu orang tumbuh, banyak orang ikut terangkat. Ketika pesanan meningkat, lebih banyak tangan yang diajak bekerja. Tidak ada yang takut orang lain ikut sukses. Justru kesuksesan bersama adalah tujuan yang mereka pegang erat.

Saya merenung dalam perjalanan pulang, betapa jauh bedanya dengan realitas yang kerap kita temui di kota besar. Individualisme begitu kuat mengakar. Bahkan di lingkungan keluarga sekalipun, saling menopang terkadang terasa asing. Banyak yang berlomba memperkaya diri, tapi enggan berpikir bagaimana bisa membuka penghidupan untuk orang lain. Di hotel-hotel megah, para elite sibuk merumuskan janji kesejahteraan, sambil menyaksikan deretan pengangguran di jalanan yang semakin panjang.

Dari perempuan-perempuan desa ini, saya belajar bahwa keberanian sejati bukan tentang seberapa besar keuntungan yang bisa kita raup, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kita bagikan. Mereka mungkin tak masuk headline media nasional, tapi langkah kecil mereka menggerakkan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, dan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi sesamanya, merupakan tindakan yang sangat mulia.

Share234SendTweet146Share
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Next Post
Potret Ketangguhan Perempuan Desa dalam Membangun Ekonomi Lokal - 2025 07 19 17 55 09 | #Ekonomi | Potret Online

HABA Si PATok

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com