Dengarkan Artikel
Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc, MA
Beliau merupakan Tokoh yang banyak mengkader ulama sesudahnya. Abu Ibrahim Budi lahir di daerah Lamno yang masih dalam kawasan Aceh Jaya, dulunya Aceh Barat. Mengawali karier keilmuannya Abu Ibrahim Budi mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di desanya Mukhan.
Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Abu Ibrahim Budi mulai mengembara untuk memperdalam pengetahuan agamanya.
Setelah belajar di Dayah Bustanul Aidarusiah yang didirikan oleh Abu Haji Aidarus Mesjid Sabang Lamno, pada tahun 1949. Beliau mengembara ke Labuhan Haji, tepatnya di Dayah Darussalam, Labuhan Haji yang pemimpinnya ketika itu adalah Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidi.
Pada tahun kedatangan Abu Ibrahim Budi ke Labuhan Haji di masa itu, masih banyak ulama yang masih mengenyam pendidikan di Dayah Darussalam Labuhan Haji. Sebut saja misalnya: Teungku Syekh Aidarus Abdul Ghani Kampari, Teungku Syekh Imam Syamsuddin, Teungku Syekh Abdullah Tanoh Mirah, Teungku Syekh Syahabuddin Syah, Teungku Syekh Abdul Aziz Samalanga dan para ulama lainnya yang umumnya mereka menjadi Syekhul Masyayikh.
Lebih kurang sembilan tahun Abu Ibrahim Budi memperdalam ilmunya di Labuhan Haji dengan kesungguhan dan ketekunan telah mengantarkan Abu Ibrahim Budi sebagai seorang yang alim dan mendalam ilmunya.
Walaupun telah alim, Abu Ibrahim Budi kemudian melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Dayah Mudi Mesra Samalanga belajar langsung kepada gurunya Teungku Syekh Abdul Aziz yang dikenal dengan Abon Samalanga yang baru pulang dari Labuhan Haji di tahun 1958.
📚 Artikel Terkait
Beberapa tahun berikutnya Abu Ibrahim Budi belajar dan mengajar di Dayah Mudi Mesra tersebut. Pada era ini di Mudi Mesra masih banyak ulama yang masih menimba ilmu dari Abon Samalanga, seperti Abu Kasem TB yang juga teman Abu Ibrahim Budi yang sama-sama pernah di Darussalam. Abon Teupin Raya, Abu Kuta Krueng, Abu Lhoknibong dan banyak ulama lainnya.
Di tahun 1963 setelah mengenyam pendidikan di Dayah Mudi Mesra. Abu Ibrahim Budi kemudian berangkat ke Padang untuk belajar kepada salah seorang ulama Padang yang juga sahabat Abuya Syekh Muda Waly yaitu Syekh Zakaria Labaisati Malalo, seorang ulama yang dikenal ahli dalam bidang Ushul dan Mantiq yang merupakan murid dari Ulama terkenal Syekh Muhammad Jamil Jaho yang juga murid dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekhul Masyayikh ulama Indonesia.
Selain Abu Ibrahim Budi yang belajar di Malalo Padang, ada beberapa ulama lainnya seperti: Abuya Syekh Baharuddin Tawar Tanah Merah, Abuya Teungku Zamzami Syam Singkildan para ulama lainnya. Lebih kurang tiga tahun Abu Ibrahim Budi di Malalo Padang belajar dan mengajar, maka di tahun 1966 beliau pulang ke wilayahnya Lamno, kembali setelah 17 tahun mengembara untuk menimba ilmu di berbagai Perguruan Tinggi Islam.
Setelah menjadi alim besar, Abu Ibrahim Budi mendirikan sebuah lembaga pendidikan Dayah yang bernama Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah yang kemudian dikenal dengan Dayah Budi Lamno dan melekat kepada nama Teungku Syekh Ibrahim Budi Lamno.
Mulai tahun 1987 beliau menjadi guru besar, mendidik para santri-santrinya dengan penuh komitmen dan dedikasi agar menjadi ulama-ulama yang mengawal agama masyarakatnya. Tidak terhitung banyaknya lulusan dari Dayah Budi Lamno, bahkan banyak yang kemudian menjadi ulama-ulama kharismatik yang diperhitungkan di wilayahnya masing masing.
Selain mengkader banyak ulama, Abu Ibrahim Budi juga banyak membangun usaha kewirausahaan di Dayah agar para santrinya menjadi para ilmuwan yang mandiri dan hebat. Sehingga begitu banyak aset yang dimiliki oleh Dayah Budi Lamno yang diperuntukkan bagi kemaslahatan ummat.
Abu Ibrahim Budi juga dikenal sebagai seorang ulama yang aktif dalam setiap Kajian Keilmuan Tingkat Tinggi Keislaman atau yang dikenal dengan Mubahasah dan Muzakarah Ulama baik di level Aceh Barat maupun Aceh secara umum.
Dengan kedalaman ilmunya, beliau sering menjadi penengah atas berbagai polemik yang muncul dan berkembang. Sehingga disebutkan apabila sebuah Muzakarah tidak hadir Abu Ibrahim Budi, maka akan terasa hambar.
Setelah pengabdian yang panjang dan kontribusi yang tulus, di tahun 1997 dalam usia 61 wafatlah sang ulama tersebut. Namun, sebelum wafatnya, beliau telah mengkader banyak ulama yang melanjutkan estafet keilmuan dan keulamaannya, di antara ulama itu adalah: Aba H Asnawi Ramli pelanjut kepemimpinan Dayah Budi, Abu Muhammad Amin Keumala, Abati Babah Buloh, Abu Hasballah Nisam, Abu Ataillah Ishaq Ulee Titi, Abu Zulkifli Cotmanee dan puluhan ulama lainnya yang tersebar di seluruh Aceh.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






