HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Generasi Emas 2045 dan Pondasi Pendidikan Kita Masih Retak

Redaksi by Redaksi
Juli 18, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
0
Generasi Emas 2045 dan Pondasi Pendidikan Kita Masih Retak
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Juni Ahyar, S.Pd., M.Pd.

Akademisi dan Pemerhati Pendidikan dan Bahasa Universitas Malikussaleh

Baca Juga

Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Maret 13, 2026

Narasi Generasi Emas 2045 begitu sering kita dengar. Pemerintah, pakar, bahkan dunia pendidikan kita berulang kali menegaskan bahwa Indonesia akan menikmati bonus demografi, di mana mayoritas penduduknya berada pada usia produktif. Untuk menyongsong momentum ini, berbagai jargon modern diluncurkan: digitalisasi sekolah, kelas coding, pembelajaran berbasis teknologi, hingga integrasi Artificial Intelligence (AI) ke ruang kelas. Seolah-olah, kita siap melangkah dengan penuh percaya diri ke masa depan.

Namun, pertanyaan mendasar pun mengusik pikiran: apakah kita benar-benar siap? Di balik sorot lampu digitalisasi, ada kenyataan pahit yang jarang dibicarakan. Masih banyak anak SMP hingga SMA di Indonesia yang belum mampu membaca dengan lancar, apalagi memahami bacaan dengan baik. Kemampuan berhitung sederhana pun masih menjadi tantangan di sejumlah daerah. 

Jika kita jujur menatap cermin, apakah kita sudah benar-benar menyiapkan pondasi pendidikan yang kokoh untuk menyambut tahun 2045?

Pondasi yang Retak Pendidikan ibarat sebuah rumah. Fondasi yang kokoh akan membuat bangunan berdiri tegak, tak mudah runtuh oleh badai zaman. Tetapi, bagaimana mungkin kita berbicara tentang membangun rumah mewah dengan hiasan teknologi canggih, jika pondasinya sendiri retak? 

Pemerintah kerap memamerkan kemajuan, seakan kualitas pendidikan Indonesia sudah merata. Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan kesenjangan yang menganga: banyak anak di daerah pedesaan dan pelosok masih berjuang untuk lulus dari “revolusi abjad dan angka.”

Jika kesenjangan dasar ini terus diabaikan, narasi Generasi Emas 2045 hanya akan menjadi mitos. Kita tidak bisa berharap pada pohon yang berbuah manis, jika akarnya saja belum tertanam dengan baik.

Kilau teknologi yang membutakan tak ada yang salah dengan kemajuan teknologi. Digitalisasi dan AI bisa menjadi alat yang luar biasa untuk mempercepat pembelajaran. Tetapi, masalah muncul ketika kita terlalu terpesona oleh kilau teknologi, hingga lupa bahwa pendidikan bukan sekadar adu cepat dalam mengadopsi inovasi. 

Pendidikan adalah tentang keadilan akses dan kualitas, tentang memastikan semua anak — dari kota besar hingga desa terpencil — punya kesempatan belajar yang sama.

Membuka kelas coding di sekolah unggulan di Jakarta tidak otomatis memperbaiki kemampuan membaca anak-anak di pelosok Papua atau daerah perbatasan. Kemajuan teknologi hanya berarti jika ia berjalan berdampingan dengan pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan: guru yang berkualitas, infrastruktur yang layak, serta kurikulum yang membumi.

Keadilan Pendidikan: Mulai dari yang Tertinggal Keadilan pendidikan tidak dimulai dari siapa yang tercepat, tetapi dari siapa yang paling tertinggal. Selama kita tidak serius membenahi dasar-dasar pendidikan, generasi yang kita banggakan tidak akan pernah siap menghadapi masa depan. Apa artinya berbicara tentang AI, robotika, atau sekolah pintar, jika banyak anak kita masih tidak mampu memahami arti kalimat sederhana?

Kita butuh kejujuran untuk mengakui posisi kita hari ini. Pendidikan bukan panggung kontes elitis, tetapi hak semua anak bangsa untuk belajar, berpikir kritis, dan berjalan di jalan hidup yang mereka pilih. Membangun pendidikan berarti memastikan setiap anak Indonesia mampu membaca, berhitung, dan berpikir jernih sebagai langkah awal menuju kemajuan.

Ajakan untuk Sadar Generasi Emas 2045 hanya akan menjadi kenyataan jika kita berani menata ulang prioritas. Bukan dengan menolak kemajuan, tetapi dengan memastikan kemajuan itu berpijak pada fondasi yang kuat. Jika akar pendidikan kita rapuh, jangan pernah bermimpi pohon ini akan berbuah emas. Sebab, emas bukan lahir dari janji manis, melainkan dari kerja keras, kesadaran, dan keberanian untuk memperbaiki dari akar.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 187x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 106x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post

Selamatkan Pendidikan - Ulasan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com