• Latest
Abu Ibrahim Budi Lamno: Ulama Kharismatik Lamno dan Seorang Syeikhul Masyaikh. - fdc0b06d 66a7 42f6 a74b 976a8a189cd7 | #Ulama Kharismatik Aceh | Potret Online

Abu Ibrahim Budi Lamno: Ulama Kharismatik Lamno dan Seorang Syeikhul Masyaikh.

Juli 18, 2025

Dialektika Dalam Seni, Sastra, Pendidikan, dan Pageant.

April 20, 2026
56b8b820-aa0d-4796-86af-eee26b4e8bbc

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

April 20, 2026
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
Abu Ibrahim Budi Lamno: Ulama Kharismatik Lamno dan Seorang Syeikhul Masyaikh. - IMG_9514 | #Ulama Kharismatik Aceh | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Abu Ibrahim Budi Lamno: Ulama Kharismatik Lamno dan Seorang Syeikhul Masyaikh.

Nurkhalis Muchtar by Nurkhalis Muchtar
Juli 18, 2025
in #Ulama Kharismatik Aceh, #Ulama Nusantara, ulama, Ulama Kharismatik Aceh
Reading Time: 3 mins read
0
Abu Ibrahim Budi Lamno: Ulama Kharismatik Lamno dan Seorang Syeikhul Masyaikh. - fdc0b06d 66a7 42f6 a74b 976a8a189cd7 | #Ulama Kharismatik Aceh | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc, MA

Beliau merupakan Tokoh yang banyak mengkader ulama sesudahnya. Abu Ibrahim Budi lahir di daerah Lamno yang masih dalam kawasan Aceh Jaya, dulunya Aceh Barat. Mengawali karier keilmuannya Abu Ibrahim Budi mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di desanya Mukhan. 

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Abu Ibrahim Budi mulai mengembara untuk memperdalam pengetahuan agamanya. 

Setelah belajar di Dayah Bustanul Aidarusiah yang didirikan oleh Abu Haji Aidarus Mesjid Sabang Lamno, pada tahun 1949. Beliau mengembara ke Labuhan Haji, tepatnya di Dayah Darussalam, Labuhan Haji yang pemimpinnya ketika itu adalah Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidi. 

Pada tahun kedatangan Abu Ibrahim Budi ke Labuhan Haji di masa itu, masih banyak ulama yang masih mengenyam pendidikan di Dayah Darussalam Labuhan Haji. Sebut saja misalnya: Teungku  Syekh Aidarus Abdul Ghani Kampari, Teungku Syekh Imam Syamsuddin, Teungku Syekh Abdullah Tanoh Mirah, Teungku Syekh Syahabuddin Syah, Teungku Syekh Abdul Aziz Samalanga dan para ulama lainnya yang umumnya mereka menjadi Syekhul Masyayikh. 

Lebih kurang sembilan tahun Abu Ibrahim Budi memperdalam ilmunya di Labuhan Haji dengan kesungguhan dan ketekunan telah mengantarkan Abu Ibrahim Budi sebagai seorang yang alim dan mendalam ilmunya. 

Walaupun telah alim, Abu Ibrahim Budi kemudian melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Dayah Mudi Mesra Samalanga belajar langsung kepada gurunya Teungku Syekh Abdul Aziz yang dikenal dengan Abon Samalanga yang baru pulang dari Labuhan Haji di tahun 1958. 

Beberapa tahun berikutnya Abu Ibrahim Budi belajar dan mengajar di Dayah Mudi Mesra tersebut. Pada era ini di Mudi Mesra masih banyak ulama yang masih menimba ilmu dari Abon Samalanga, seperti Abu Kasem TB yang juga teman Abu Ibrahim Budi yang sama-sama pernah di Darussalam. Abon Teupin Raya, Abu Kuta Krueng, Abu Lhoknibong dan banyak ulama lainnya. 

Di tahun 1963 setelah mengenyam pendidikan di Dayah Mudi Mesra. Abu Ibrahim Budi kemudian berangkat ke Padang untuk belajar kepada salah seorang ulama Padang yang juga sahabat Abuya Syekh Muda Waly yaitu Syekh Zakaria Labaisati Malalo, seorang ulama yang dikenal ahli dalam bidang Ushul dan Mantiq yang merupakan murid dari Ulama terkenal Syekh Muhammad Jamil Jaho yang juga murid dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekhul Masyayikh ulama Indonesia. 

Selain Abu Ibrahim Budi yang belajar di Malalo Padang, ada beberapa ulama lainnya seperti: Abuya Syekh Baharuddin Tawar Tanah Merah, Abuya Teungku Zamzami Syam Singkildan para ulama lainnya. Lebih kurang tiga tahun Abu Ibrahim Budi di Malalo Padang belajar dan mengajar, maka di tahun 1966 beliau pulang ke wilayahnya Lamno, kembali setelah 17 tahun mengembara untuk menimba ilmu di berbagai Perguruan Tinggi Islam. 

Setelah menjadi alim besar, Abu Ibrahim Budi mendirikan sebuah lembaga pendidikan Dayah yang bernama Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah yang kemudian dikenal dengan Dayah Budi Lamno dan melekat kepada nama Teungku Syekh Ibrahim Budi Lamno. 

Mulai tahun 1987 beliau menjadi guru besar, mendidik para santri-santrinya dengan penuh komitmen dan dedikasi agar menjadi ulama-ulama yang mengawal agama masyarakatnya. Tidak terhitung banyaknya lulusan dari Dayah Budi Lamno, bahkan banyak yang kemudian menjadi ulama-ulama kharismatik yang diperhitungkan di wilayahnya masing masing. 

Selain mengkader banyak ulama, Abu Ibrahim Budi juga banyak membangun usaha kewirausahaan di Dayah agar para santrinya menjadi para ilmuwan yang mandiri dan hebat. Sehingga begitu banyak aset yang dimiliki oleh Dayah Budi Lamno yang diperuntukkan bagi kemaslahatan ummat. 

Abu Ibrahim Budi juga dikenal sebagai seorang ulama yang aktif dalam setiap Kajian Keilmuan Tingkat Tinggi Keislaman atau yang dikenal dengan Mubahasah dan Muzakarah Ulama baik di level Aceh Barat maupun Aceh secara umum. 

Dengan kedalaman ilmunya, beliau sering menjadi penengah atas berbagai polemik yang muncul dan berkembang. Sehingga disebutkan apabila sebuah Muzakarah tidak hadir Abu Ibrahim Budi, maka akan terasa hambar.

Setelah pengabdian yang panjang dan kontribusi yang tulus, di tahun 1997 dalam usia 61 wafatlah sang ulama tersebut. Namun, sebelum wafatnya, beliau telah mengkader banyak ulama yang melanjutkan estafet keilmuan dan keulamaannya, di antara ulama itu adalah: Aba H Asnawi Ramli pelanjut kepemimpinan Dayah Budi, Abu Muhammad Amin Keumala, Abati Babah Buloh, Abu Hasballah Nisam, Abu Ataillah Ishaq Ulee Titi, Abu Zulkifli Cotmanee dan puluhan ulama lainnya yang tersebar di seluruh Aceh.

Share234SendTweet146Share
Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Next Post
Abu Ibrahim Budi Lamno: Ulama Kharismatik Lamno dan Seorang Syeikhul Masyaikh. - 2025 07 18 17 09 35 | #Ulama Kharismatik Aceh | Potret Online

Generasi Emas 2045 dan Pondasi Pendidikan Kita Masih Retak

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com