POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Discount 19% Dari Trump, Banyak Memuji Prabowo

RedaksiOleh Redaksi
July 17, 2025
Discount 19% Dari Trump, Banyak Memuji Prabowo
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Banyak memuji kesuksesan delegasi dagang Prabowo minta discount ke Donald Trump. Hasilnya, dari 32 persen turun jadi 19 persen. Barang dari Amerika, nol tarif. Sukses? Entahlah, tapi ramai memuji Prabowo. Mari kita ungkap lagi kisah negeri kita yang mencoba “melawan” negara super power sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Inilah kisah cinta sepihak paling menyayat hati dalam sejarah perdagangan internasional. Indonesia, negara yang selama 61 bulan berturut-turut mencatat surplus dagang dengan Amerika Serikat, sejak Mei 2020 sampai Mei 2025, akhirnya harus menerima hadiah yang mengejutkan, tarif impor sebesar 19%. Hadiah ini, tentu saja, diberikan dengan senyum manis oleh Donald Trump. Senyum yang kira-kira berarti, “Kamu terlalu untung, jadi izinkan aku menyeimbangkan semesta… dengan hukuman.”

Ya, pada 2024 saja, Indonesia surplus sebesar US$17,9 miliar dari perdagangan barang dengan AS. Sebuah rekor yang bikin bangga, sekaligus bikin gemetar, karena di dunia dagang internasional, kalau you terlalu sukses, sampeyan dicurigai. Apalagi kalau ikam bukan sekutu NATO. Apalagi kalau akang ekspor terlalu banyak minyak sawit, bahan bakar mineral, dan baja, sementara panjenengan cuma impor jagung dan mesin dari Amerika.

Surplus ini membuat Indonesia terlihat seperti murid pintar yang terlalu sering dapat ranking satu, sampai akhirnya guru, dalam hal ini Presiden Trump, memutuskan untuk mengacak-ngacak lembar jawaban ujian. Sejak 1980-an, Indonesia memang langganan diintervensi, kuota tekstil, tuduhan dumping, pencabutan fasilitas GSP, dan sekarang… diskon tarif dari 32% ke 19% yang lebih mirip potongan kuku dari potongan harga.

Menteri Airlangga Hartarto pun tampil di layar kaca dengan senyum yang ambigu. Bersama juru bicara Haryo Limanseto, mereka menjelaskan bahwa ini adalah hasil negosiasi. Bahwa kita berhasil mencegah bencana. Bahwa tarif 32% telah diubah menjadi tarif 19%. Bahwa kita seharusnya bersyukur. Karena lebih baik jatuh dari sepeda daripada ditabrak truk trailer.

Tapi tunggu dulu. “Diskon” ini tidak gratis. Sebagai gantinya, Indonesia harus membeli energi dari AS senilai US$15 miliar. Ditambah produk pertanian sebesar US$4,5 miliar. Dan ya, 50 pesawat Boeing, termasuk seri 777. Boeing, yang kadang lebih banyak recall-nya dari berita cerai selebriti.

📚 Artikel Terkait

‎Sejak Datang Pagi

Fenomena ‘Salah Jurusan’: Mimpi Lama yang Didaur Ulang

DPR Kini Punya “Remote Control” untuk Pejabat

Perempuan Yang Melahirkan Bait Puisi

Kita juga membebaskan barang AS dari segala tarif dan hambatan. Apple dan Microsoft tak lagi diwajibkan memenuhi aturan TKDN. Sepuluh komoditas impor kita longgarkan. Produk AS diberi status Most Favored Nation, dengan tarif hanya 0–5%.

Apa yang kita dapat? Kesempatan mengekspor minyak sawit dan sandal jepit tanpa dibakar tarif 32%. Peluang kerja sama strategis di bidang mineral dan teknologi, yang mungkin akan terwujud… jika dunia tidak kiamat duluan.

Tapi realitasnya, industri dalam negeri bersiap dihantam. Barang Amerika masuk tanpa hambatan. Pasar lokal terancam dikuasai mereka. Kita mungkin tetap ekspor, tapi dengan posisi jongkok.

Inilah paradoksnya, kita surplus, lalu kita dihukum. Kita unggul, lalu kita dituduh nakal. Kita terlalu menang, dan karena itu kita diminta membayar lebih. Dunia dagang tak suka pemenang diam. Dunia dagang hanya suka pemenang yang tunduk.

So, tarif 19% ini bukan sekadar angka. Ini adalah hukuman yang dibungkus dengan stiker diskon. Sebuah pesan dari Trump kepada Indonesia, “Kau terlalu pintar, sekarang belajarlah jadi bodoh yang patuh.”

Beginilah kisah ekonomi global. Kita tidak benar-benar bernegosiasi. Kita hanya menunggu untuk tidak ditinggal. Kita tidak sedang berdagang. Kita sedang menjual kedaulatan, dibungkus dengan pita bernama “hubungan strategis.” Silakan sebut ini kemenangan diplomasi. Atau kalau mau jujur, ini cinta sepihak yang disponsori neraca perdagangan.

Lalu kita pengopi di warkop? Tetap ngopi tanpa gula. Pendukung Prabowo semakin cinta. “Apa yang diputuskan Prabowo tentu untuk kebaikan rakyatnya.” Inilah negeri saya, negeri ente, negeri kita, wak.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Anak Negeri Tak Kenal Negerinya - Ulasan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00