POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pahitnya Kopi Tak Sepahit Nasib Guru

Refleksi Pendidikan Aceh di Meja Kopi

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
July 12, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Salah satu tradisi pertemanan di Aceh yang mengakar kuat ialah ngopi. Sebuah frasa yang membuat minuman lain ngiri. Sebabnya, meski minumnya teh, susu, jus, tetap saja ajakan ngopi yang dilontarkan. Lalu bagaimana memaknai tradisi yang satu ini.

Ngopi begitu bermakna ketika di meja bukan hanya makanan dan minuman biologis tersaji. Ada makanan dan minuman psikologis, sosiologis, bahkan menziarahi beberapa pemikiran tokoh dunia. Seperti ngopi kami malam itu.

Diskusi dimulai dari prilaku siswa di sebuah SMK. Guru bukan lagi berperan sebagai pengajar dan pendidik melainkan merangkap pengasuh. Para orang tua yang gagal mendidik anaknya, seolah memberikan hak asuh sepenuhnya pada sekolah. Sementara itu, guru yang memiliki kehidupan personal dan keluarga, mustahil maksimal melakukan perubahan karakter para siswa.

Cerita berlanjut ke penilaian kognitif para siswa. Dengan afektif yang cenderung buruk, hasil kognitif siswa pun demikian. Guru yang berusaha idealis terpaksa menanggalkan hak itu dan mengikuti realitas. Bahwa siswa harus naik kelas, bahwa siswa harus mendapatkan nilai di atas ambang batas. Jika guru bersikap benar, guru akan dicecar dalam rapat dan puncaknya para wali siswa akan menyerang guru dan sekolah.

Fenomena ini nyaris terjadi di semua tingkatan sekolah di Aceh, Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK). Tidak heran bila kita temukan siswa di SMP  tidak mampu membaca, namun ironisnya mereka tetap lulus dan melanjutkan SMA/SMK. Anda bisa bayangkan kemudian, jangan bayangkan hari ini saja namun 15-20 tahun mendatang.

Pantas kemudian di kampus kita dapati mahasiswa yang belum mampu membedakan antara contoh dan analogi. Pantas kemudian Søren Kierkegaard khawatir dengan hilangnya otentisitas manusia di era tsunami informasi. Hal yang disebut Nietzsche mentalitas kawanan. Mental ikut-ikutan tren, bahkan mental ini melibatkan orang-orang yang dianggap intelektual.

Studi kasus, ketika seorang kepala daerah mengaku dilaporkan pihak berwajib oleh sebuah korporasi. Di media sosial dan online, dengan semangat membela, entah itu membela kepala daerah maupun korporat tersebut, viral. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah ucapan kepala daerah itu dibarengi bukti dan saksi selain dia.

Kita tinggalkan Søren Kierkegaard dan Nietzsche, kita balik ke soal pendidikan tadi. Dengan kondisi dan situasi demikian, harusnya gaji guru tiga kali pendapatan seorang dokter. Bila dokter mendiagnosa penyakit tubuh, guru-guru harus mendiagnosa penyakit mental siswa, wali siswa bahkan berhadapan dengan regulasi yang dapat menyebabkan sakit mental bagi guru.

📚 Artikel Terkait

Kebakaran di Israel: Antara Fenomena Ekologi dan Makna Spiritualitas dalam Tradisi Abrahamik

Meunasah Krisis Fungsi: Saat Rumah Ibadah Kehilangan Ruhnya

Educate Your Son: Sebuah Bisikan Lembut yang Mengajak Kita Berpikir

Kenapa Pejabat Publik Jatuhnya Karena Perempuan?

Melawan kebenaran dan hati nurani itu dapat menyebabkan sakit mental. Sebabnya, manusia diciptakan untuk melakukan hal benar. Manusia sejatinya akan memilih berpihak pada kebenaran. Ia akan senang berada di pihak yang benar. Itulah mengapa manusia sulit jujur ketika melakukan kesalahan. Ia ingin tetap di pihak benar.

Sementara itu, kewajiban memberi nilai bagus dan kewajiban kenaikan kelas siswa, terkadang melawan sisi yang disukai manusia (kebenaran). Guru dituntut profesional sementara di sisi lain guru diharuskan munafik. Pertarungan ini kemudian mengharuskan kita melirik Hegel dan Emile Durkheim.

Kita mulai dari Hegel dengan teori tesis dan antitesis serta sintesis. Tesisnya guru harus profesional bahkan ada pelatihan profesi guru. Namun realitas (antitesis) guru harus subjektif dalam memberikan nilai bagi siswa. Sederhananya begitu, lalu bagaimana sintesis yang dilaksanakan para guru dalam situasi tersebut. Bagi Hegel, sintesis bukan menghilangkan salah satunya. Ia menggunakan frasa kolaborasi untuk kedua hal tadi. Tidak bisa hitam (tesis) dan putih (antitesis) lalu sintesisnya hijau karena hijau warna baru. Bukan perpaduan keduanya.

Sintesis yang diterapkan selama ini dengan terapi akademik. Sejenis pengobatan akademik dengan harapan nilai yang diberikan sesuai kemampuan. Sintesisnya dikenal dengan istilah remidi atau remedial. Namun tetap saja prosesnya tidak memenuhi standar, setidaknya di permukaan sudah ada.

Situasi dan kondisi guru sebenarnya sudah lama dikatakan Emile Durkheim dalam kontrak sosial. Sayangnya, negara tidak melaksanakan kewajibannya. Kita kata Emil, ketika sepakat bernegara, atau guru ketika sepakat menjadi pengajar berarti sepakat beberapa otoritasnya diamputasi dengan imbalan hak. Kita berhak mendapat perlindungan hukum dengan diamputasinya main hakim sendiri, guru pun demikian. Ia berkata dan bersikap harus sesuai aturan yang berlaku dengan catatan negara memberi hak mereka. Meski aturan itu melawan nurani, seorang guru harus patuh namun hak mereka juga wajib diberikan.

Misalnya kepala dinas atau yang di atasnya menuntut kelulusan siswa meningkat. Dengan kondisi siswa yang malas, kurang beradab, tidak pintar, guru wajib memberi mereka nilai bagus. Namun guru harus tetap objektif dan kemampuan siswa meningkat serta nilai bagus. Apakah hal itu dapat dilaksanakan. Tentu bisa, negara harus memberikan hak lebih.

Guru jangan lagi dibebani administrasi, upah guru harus lebih tinggi dari dokter spesialis. Bila berobat praktek minimal 300-500 ribu setiap konsul, maka guru digaji di atas itu untuk setiap siswa yang ditangani. Namun ingat, itu bukan per bulan namun setiap pertemuan di kelas.

Katakanlah ada 10 siswa ditangani, sekali pertemuan berarti 5 juta. Dikalikan saja dengan sebulan mengajar dipotong hari libur. Begitulah total hak yang harus diberikan negara kepada guru. Hak ini harus diberikan negara karena tuntutan yang dibebankan kepada guru sebagaimana saya sebutkan di atas.

Nah itu baru seteguk persoalan dunia pendidikan di Aceh pada khususnya. Masih banyak tegukan-tegukan persoalan lain yang benar-benar pahit sepahit kopi kami malam itu. Tapi ini bukan kopi, karena pahitnya kopi justru sangat dirindukan sementara pahit yang dirasakan guru seperti ‘kanker’ mental bagi guru. Setuju?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share8SendShareScanShare
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Puisi-Puisi Ilhamdi Sulaiman

Puisi-Puisi Ilhamdi Sulaiman

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00