• Latest

Pahitnya Kopi Tak Sepahit Nasib Guru

Juli 12, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pahitnya Kopi Tak Sepahit Nasib Guru

Refleksi Pendidikan Aceh di Meja Kopi

Don Zakiyamaniby Don Zakiyamani
Juli 12, 2025
Reading Time: 4 mins read
613
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Salah satu tradisi pertemanan di Aceh yang mengakar kuat ialah ngopi. Sebuah frasa yang membuat minuman lain ngiri. Sebabnya, meski minumnya teh, susu, jus, tetap saja ajakan ngopi yang dilontarkan. Lalu bagaimana memaknai tradisi yang satu ini.

Ngopi begitu bermakna ketika di meja bukan hanya makanan dan minuman biologis tersaji. Ada makanan dan minuman psikologis, sosiologis, bahkan menziarahi beberapa pemikiran tokoh dunia. Seperti ngopi kami malam itu.

Diskusi dimulai dari prilaku siswa di sebuah SMK. Guru bukan lagi berperan sebagai pengajar dan pendidik melainkan merangkap pengasuh. Para orang tua yang gagal mendidik anaknya, seolah memberikan hak asuh sepenuhnya pada sekolah. Sementara itu, guru yang memiliki kehidupan personal dan keluarga, mustahil maksimal melakukan perubahan karakter para siswa.

Cerita berlanjut ke penilaian kognitif para siswa. Dengan afektif yang cenderung buruk, hasil kognitif siswa pun demikian. Guru yang berusaha idealis terpaksa menanggalkan hak itu dan mengikuti realitas. Bahwa siswa harus naik kelas, bahwa siswa harus mendapatkan nilai di atas ambang batas. Jika guru bersikap benar, guru akan dicecar dalam rapat dan puncaknya para wali siswa akan menyerang guru dan sekolah.

Fenomena ini nyaris terjadi di semua tingkatan sekolah di Aceh, Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK). Tidak heran bila kita temukan siswa di SMP  tidak mampu membaca, namun ironisnya mereka tetap lulus dan melanjutkan SMA/SMK. Anda bisa bayangkan kemudian, jangan bayangkan hari ini saja namun 15-20 tahun mendatang.

Pantas kemudian di kampus kita dapati mahasiswa yang belum mampu membedakan antara contoh dan analogi. Pantas kemudian Søren Kierkegaard khawatir dengan hilangnya otentisitas manusia di era tsunami informasi. Hal yang disebut Nietzsche mentalitas kawanan. Mental ikut-ikutan tren, bahkan mental ini melibatkan orang-orang yang dianggap intelektual.

Studi kasus, ketika seorang kepala daerah mengaku dilaporkan pihak berwajib oleh sebuah korporasi. Di media sosial dan online, dengan semangat membela, entah itu membela kepala daerah maupun korporat tersebut, viral. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah ucapan kepala daerah itu dibarengi bukti dan saksi selain dia.

Kita tinggalkan Søren Kierkegaard dan Nietzsche, kita balik ke soal pendidikan tadi. Dengan kondisi dan situasi demikian, harusnya gaji guru tiga kali pendapatan seorang dokter. Bila dokter mendiagnosa penyakit tubuh, guru-guru harus mendiagnosa penyakit mental siswa, wali siswa bahkan berhadapan dengan regulasi yang dapat menyebabkan sakit mental bagi guru.

Melawan kebenaran dan hati nurani itu dapat menyebabkan sakit mental. Sebabnya, manusia diciptakan untuk melakukan hal benar. Manusia sejatinya akan memilih berpihak pada kebenaran. Ia akan senang berada di pihak yang benar. Itulah mengapa manusia sulit jujur ketika melakukan kesalahan. Ia ingin tetap di pihak benar.

Sementara itu, kewajiban memberi nilai bagus dan kewajiban kenaikan kelas siswa, terkadang melawan sisi yang disukai manusia (kebenaran). Guru dituntut profesional sementara di sisi lain guru diharuskan munafik. Pertarungan ini kemudian mengharuskan kita melirik Hegel dan Emile Durkheim.

Kita mulai dari Hegel dengan teori tesis dan antitesis serta sintesis. Tesisnya guru harus profesional bahkan ada pelatihan profesi guru. Namun realitas (antitesis) guru harus subjektif dalam memberikan nilai bagi siswa. Sederhananya begitu, lalu bagaimana sintesis yang dilaksanakan para guru dalam situasi tersebut. Bagi Hegel, sintesis bukan menghilangkan salah satunya. Ia menggunakan frasa kolaborasi untuk kedua hal tadi. Tidak bisa hitam (tesis) dan putih (antitesis) lalu sintesisnya hijau karena hijau warna baru. Bukan perpaduan keduanya.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Sintesis yang diterapkan selama ini dengan terapi akademik. Sejenis pengobatan akademik dengan harapan nilai yang diberikan sesuai kemampuan. Sintesisnya dikenal dengan istilah remidi atau remedial. Namun tetap saja prosesnya tidak memenuhi standar, setidaknya di permukaan sudah ada.

Situasi dan kondisi guru sebenarnya sudah lama dikatakan Emile Durkheim dalam kontrak sosial. Sayangnya, negara tidak melaksanakan kewajibannya. Kita kata Emil, ketika sepakat bernegara, atau guru ketika sepakat menjadi pengajar berarti sepakat beberapa otoritasnya diamputasi dengan imbalan hak. Kita berhak mendapat perlindungan hukum dengan diamputasinya main hakim sendiri, guru pun demikian. Ia berkata dan bersikap harus sesuai aturan yang berlaku dengan catatan negara memberi hak mereka. Meski aturan itu melawan nurani, seorang guru harus patuh namun hak mereka juga wajib diberikan.

Misalnya kepala dinas atau yang di atasnya menuntut kelulusan siswa meningkat. Dengan kondisi siswa yang malas, kurang beradab, tidak pintar, guru wajib memberi mereka nilai bagus. Namun guru harus tetap objektif dan kemampuan siswa meningkat serta nilai bagus. Apakah hal itu dapat dilaksanakan. Tentu bisa, negara harus memberikan hak lebih.

Guru jangan lagi dibebani administrasi, upah guru harus lebih tinggi dari dokter spesialis. Bila berobat praktek minimal 300-500 ribu setiap konsul, maka guru digaji di atas itu untuk setiap siswa yang ditangani. Namun ingat, itu bukan per bulan namun setiap pertemuan di kelas.

Katakanlah ada 10 siswa ditangani, sekali pertemuan berarti 5 juta. Dikalikan saja dengan sebulan mengajar dipotong hari libur. Begitulah total hak yang harus diberikan negara kepada guru. Hak ini harus diberikan negara karena tuntutan yang dibebankan kepada guru sebagaimana saya sebutkan di atas.

Nah itu baru seteguk persoalan dunia pendidikan di Aceh pada khususnya. Masih banyak tegukan-tegukan persoalan lain yang benar-benar pahit sepahit kopi kami malam itu. Tapi ini bukan kopi, karena pahitnya kopi justru sangat dirindukan sementara pahit yang dirasakan guru seperti ‘kanker’ mental bagi guru. Setuju?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Puisi-Puisi Ilhamdi Sulaiman

Puisi-Puisi Ilhamdi Sulaiman

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com