POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jejak Budaya Dalam Bayang Kuasa

Nyakman LamjameOleh Nyakman Lamjame
July 8, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Nyakman Lamjame

Ketika sebuah kesultanan runtuh, yang lenyap bukan hanya tahta dan istana. Bersamanya turut tenggelam sistem pengetahuan, jaringan simbol, dan cara pandang yang selama berabad-abad menopang kehidupan masyarakat. Kejatuhan kekuasaan tradisional bukan semata krisis politik, melainkan luka kultural yang masih belum sepenuhnya disadari, apalagi dimaknai secara utuh.

Di Aceh, sebagaimana di banyak wilayah lain di Nusantara, keruntuhan itu menandai awal dari pergulatan panjang soal identitas, warisan, dan posisi budaya dalam bayang kekuasaan baru.

Budaya sering kali dipahami sebatas tampilan luar: pakaian adat, tarian tradisional, arsitektur rumah panggung. Namun dalam hakikat terdalamnya, budaya adalah struktur rasa dan nalar—kerangka tempat masyarakat menafsirkan dunia serta dirinya sendiri.

Ketika pilar-pilar kekuasaan tradisional ambruk, budaya justru menunjukkan wajah paling jujurnya: sebagai ruang negosiasi, arena tawar-menawar makna, bahkan sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap narasi-narasi yang dipaksakan atas nama modernitas.

Setelah sultan tiada, siapa yang menjaga makna? Pertanyaan ini menyentuh inti dari krisis pascakejatuhan kekuasaan lokal. Banyak yang menyangka bahwa lenyapnya simbol-simbol politik berarti hilangnya seluruh sistem nilai yang melingkupinya. Namun sejarah sosial membuktikan sebaliknya.

Ketika pusat melemah, pinggiran menguat. Komunitas dayah, keluarga adat, meunasah, serta jaringan informal lainnya perlahan mengambil alih fungsi otoritas simbolik. Mereka bukan hanya menjaga nilai-nilai lama, tetapi juga menafsir ulang, menghidupkan, dan menyesuaikan dalam bentuk yang relevan dengan zaman.

📚 Artikel Terkait

Edukasi Anti Penipuan Online Pada Ibu Rumah Tangga 

Mahalnya Perhatianmu

Menyatukan Kembali Dayah dan Sekolah Dasar: Jalan Pulang Membangun Karakter Anak Aceh

Balai Guru Penggerak Gelar Rakor Program Prioritas dengan Disdik Aceh, Cabdisdik dan Disdisbud

Dalam istilah antropolog Clifford Geertz, kita menyaksikan lahirnya meaning system baru—sistem makna yang tumbuh dari reruntuhan simbol lama, tetapi tetap membawa semangatnya. Budaya tidak membatu dalam bentuk, melainkan lentur dalam tafsir. Dalam kelenturan inilah budaya menemukan daya tahannya. Ia bertahan bukan karena konservatisme, melainkan karena kemampuannya untuk bertransformasi.

Namun kolonialisme mengubah banyak hal secara mendasar. Ia tidak hanya datang sebagai dominasi militer dan ekonomi, tetapi juga sebagai proyek pengetahuan. Ia membawa serta klaim tentang cara hidup yang dianggap benar—mengatur waktu, mendisiplinkan tubuh, menyusun logika, bahkan mengarahkan mimpi dan harapan.

Bahasa lokal dianggap primitif, adat dilabeli irasional, dan pengetahuan tradisional dicurigai sebagai penghambat modernisasi. Seperti diingatkan Michel Foucault, kolonialisme adalah rezim kebenaran yang memaksakan satu cara tunggal dalam memahami dunia.

Dalam proses itu, narasi budaya dipangkas, sejarah lokal ditulis ulang. Simbol-simbol kebesaran lama diubah menjadi artefak nostalgia tanpa daya hidup. Namun masyarakat tidak sepenuhnya menyerah. Mereka menyusun strategi diam-diam, namun bertahan lama. Hikayat menjadi ruang kritik sosial terselubung. Petuah dan syair menampung pesan-pesan perlawanan simbolik. Identitas Islam lokal dijadikan tameng ideologis untuk menolak dominasi.

Dalam konteks itu, budaya menjalankan fungsinya yang paling radikal: sebagai ruang resistensi. Bukan melalui kekerasan, tetapi melalui simbol, bahasa, dan laku hidup. Kolonialisme secara paradoks justru memperkuat semangat budaya lokal untuk bertahan. Nasionalisme, terutama di Aceh, mendapatkan bentuk paling militan justru di bawah tekanan kolonial. Budaya bukan hanya warisan, melainkan sumber harga diri kolektif.

Kini kita berada di zaman yang berbeda. Kuasa tak lagi datang melalui meriam, tetapi melalui algoritma. Budaya tidak lagi dilarang, melainkan dipertontonkan. Ia tidak dibungkam, tetapi dikomodifikasi. Dari festival budaya hingga konten media sosial, tradisi kini tampil sebagai produk yang dijual, direproduksi, dan dikonsumsi dalam skala luas. Ini tentu bukan sepenuhnya hal buruk. Namun ada satu pertanyaan penting: siapa yang kini berbicara atas nama budaya?

Negara? Kurator proyek? Kreator konten? Ataukah masyarakat lokal itu sendiri? Di sinilah letak kegelisahan kita hari ini. Ketika budaya tampil hanya sebagai “tema”, bukan “tafsir”; sebagai “dekorasi”, bukan “daya hidup”; maka ia kehilangan makna dasarnya. Representasi tanpa partisipasi hanya akan mengulang kolonialisme dalam bentuk baru: kolonialisme simbolik yang membungkam suara lokal dengan cara yang lebih halus.

Kita harus berhati-hati. Budaya bukan semata artefak masa lalu yang dipamerkan secara periodik. Ia adalah medan tafsir yang terus hidup. Seperti dikatakan Paul Ricoeur, budaya adalah “narasi yang selalu terbuka”—selalu dapat dibaca ulang, diperbarui, dan disesuaikan dengan konteks zaman. Maka tugas kita bukan sekadar melestarikan, tetapi menciptakan ruang tafsir dan dialog yang memberi tempat terhormat bagi suara lokal.

Masyarakat lokal bukan objek pelestarian. Mereka adalah subjek kultural—penjaga makna, penafsir aktif, dan penyalaapi. Dari merekalah kita belajar bahwa meskipun mahkota telah runtuh, hikmah masih menyala. Mereka tetap hidup, terus berbuat, dan tak pernah menyerah terhadap perubahan zaman. Budaya, pada akhirnya, bukan soal masa lalu. Ia adalah cara kita bertahan dan bermakna di masa depan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Nyakman Lamjame

Nyakman Lamjame

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Perempuan Pewarta

Perempuan Pewarta

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00