• Latest
Menyatukan Kembali Dayah dan Sekolah Dasar: Jalan Pulang Membangun Karakter Anak Aceh - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | pendidikan Aceh | Potret Online

Menyatukan Kembali Dayah dan Sekolah Dasar: Jalan Pulang Membangun Karakter Anak Aceh

Mei 13, 2025
74fe2ae1-328a-4b59-b339-daae1b4ea490

50 Santri Tumbang Keracunan MBG di Demak

April 20, 2026
Menyatukan Kembali Dayah dan Sekolah Dasar: Jalan Pulang Membangun Karakter Anak Aceh - 754B442E 63B1 4486 A85F 1FC79850CE02 | pendidikan Aceh | Potret Online

Memilih Pendidikan, Memilih Masa Depan

April 20, 2026
IMG_0871

Demokrasi yang Takut Penontonnya

April 20, 2026
IMG_0870

Demokrasi, Islam, dan Keindonesiaan: Etika yang Terlupa dalam Ruang Kekuasaan

April 20, 2026
Untitled design

Anak Pertama: Benarkah Selalu Lebih Mandiri dan Dewasa?

April 20, 2026
Menyatukan Kembali Dayah dan Sekolah Dasar: Jalan Pulang Membangun Karakter Anak Aceh - 1001377472_11zon 1 | pendidikan Aceh | Potret Online

Ketika Sungai Mengalirkan Lebih dari Sekadar Air

April 20, 2026

Dialektika Dalam Seni, Sastra, Pendidikan, dan Pageant.

April 20, 2026
56b8b820-aa0d-4796-86af-eee26b4e8bbc

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

April 20, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Menyatukan Kembali Dayah dan Sekolah Dasar: Jalan Pulang Membangun Karakter Anak Aceh

Redaksi by Redaksi
Mei 13, 2025
in pendidikan Aceh, Pendidikan karakter
Reading Time: 3 mins read
0
Menyatukan Kembali Dayah dan Sekolah Dasar: Jalan Pulang Membangun Karakter Anak Aceh - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | pendidikan Aceh | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Dayan Abdurrahman
Peneliti Independen Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

Di tengah arus globalisasi dan derasnya pengaruh budaya digital, krisis karakter generasi muda menjadi isu serius di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Aceh. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah gejala disorientasi nilai dalam pendidikan dasar. Pendidikan formal di Aceh, khususnya di sekolah dasar negeri, cenderung terlalu fokus pada pencapaian akademik dan peringkat nasional—sementara warisan pendidikan karakter berbasis nilai lokal seperti dayah mulai tersisih.

Padahal, Aceh memiliki warisan pendidikan Islam yang kuat. Ratusan dayah kecil atau meunasah tersebar di desa-desa dan telah lama menjadi lembaga pembentukan karakter sosial-religius masyarakat Aceh. Dayah tidak hanya mendidik soal ibadah, tetapi juga menyemai akhlak, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan spiritualitas sejak dini. Sayangnya, warisan ini belum secara sistematis diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan dasar formal.

Kajian Awal dan Isu Riset

Hasil kajian awal kami (melalui observasi di lima sekolah dasar dan tujuh dayah kecil di wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, dan Pidie) menunjukkan adanya kesenjangan karakter siswa antara yang aktif di dayah dan yang tidak. Misalnya, siswa yang aktif di dayah menunjukkan tingkat kedisiplinan salat mencapai 85%, kejujuran dalam interaksi sosial 80%, dan partisipasi kegiatan sosial 72%. Di sisi lain, siswa dari jalur formal yang tidak mengikuti pendidikan dayah menunjukkan angka jauh lebih rendah: hanya 43% disiplin ibadah, 49% nilai kejujuran sosial, dan 37% keterlibatan sosial.

Temuan ini menandakan adanya research gap penting: model pendidikan karakter berbasis lokal belum menjadi arus utama dalam pengembangan kurikulum nasional, bahkan di daerah istimewa seperti Aceh. Padahal, secara politis Aceh memiliki keistimewaan menjalankan syariat Islam dan secara budaya memiliki legitimasi kuat terhadap pendidikan berbasis dayah.

Perspektif Sosial Budaya dan Politik

Jika kita melihat lebih luas, pengabaian nilai-nilai dayah dalam pendidikan formal mencerminkan kegagalan negara dalam menerjemahkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Pendidikan nasional terlalu tersentralisasi, padahal setiap daerah memiliki khazanah lokal yang berharga. Di Aceh, dayah adalah akar pendidikan yang telah membentuk peradaban sejak era Sultan Iskandar Muda. Penghilangan unsur dayah dari pendidikan dasar berarti memutus kesinambungan sejarah dan budaya masyarakat Aceh.

Secara politik, negara mestinya tidak hanya memfasilitasi pembangunan fisik sekolah, tetapi juga menghargai modal sosial dan kultural lokal sebagai basis pembangunan manusia. Dayah adalah lembaga pendidikan akar rumput yang otonom, berakar pada kepercayaan masyarakat. Maka, pendekatan top-down dari Jakarta seringkali tidak efektif jika tidak dipadukan dengan pendekatan lokal bottom-up seperti dayah.

Integrasi Pendidikan: Jalan Menuju Reformasi Kurikulum Lokal

Mengintegrasikan nilai-nilai dan praktik dayah ke dalam sistem pendidikan dasar bukan berarti mengganti kurikulum nasional. Melainkan, menyesuaikan metode dan pendekatan pendidikan dengan konteks sosial dan nilai-nilai kearifan lokal. Pemerintah Aceh, melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Syariat Islam, harus mengembangkan kurikulum muatan lokal yang menjembatani antara dunia dayah dan sekolah dasar.

Langkah awal bisa dilakukan melalui pendekatan mixed-method dalam penelitian:

Kuantitatif: mengukur efektivitas program integratif melalui indikator perilaku siswa (disiplin, kejujuran, keaktifan ibadah, dan partisipasi sosial).

Kualitatif: menggali narasi dari guru, orang tua, dan tokoh dayah tentang perbedaan dampak karakter dan nilai kehidupan antara siswa yang terpapar pendidikan dayah dan yang tidak.

Nilai Keagamaan dan Kedaulatan Identitas

Secara spiritual, pendidikan yang tidak menyentuh dimensi ruhani hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara teknis, namun rapuh secara moral. Di tengah arus pergaulan global yang liberal, Aceh harus menegaskan jati dirinya melalui pendidikan karakter berbasis nilai Islam—bukan sebagai eksklusivisme, tetapi sebagai bentuk kepercayaan diri budaya dalam menghadapi dunia modern.

Dengan semangat rahmatan lil ‘alamin, nilai-nilai dari dayah dapat menjadi tawaran penting dalam percakapan pendidikan global: bahwa membentuk karakter tidak bisa diserahkan pada teknologi atau proyek-proyek instan. Dibutuhkan kedekatan emosional antara guru dan murid, keteladanan, spiritualitas, dan pembiasaan nilai, sebagaimana telah dilakukan di dayah selama ratusan tahun.

Penutup: Saatnya Aceh Memimpin dari Pinggiran

Jika reformasi pendidikan nasional tidak memberi ruang pada kearifan lokal, maka daerah-daerah seperti Aceh harus berani memimpin dari pinggiran. Penelitian ini bukan sekadar proyek akademik, tetapi bagian dari usaha membangun kembali jembatan antara dunia dayah dan dunia sekolah—antara akar dan batang pohon pendidikan bangsa.

Dengan menyatukan kembali nilai-nilai dayah ke sekolah dasar, Aceh tidak hanya mempertahankan identitas, tetapi juga menawarkan model pendidikan karakter yang otentik, kontekstual, dan berkelanjutan bagi masa depan Indonesia.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Menyatukan Kembali Dayah dan Sekolah Dasar: Jalan Pulang Membangun Karakter Anak Aceh - 91dc7f8a f42c 469d bc9b 43a9100b1a37 | pendidikan Aceh | Potret Online

Akankah Kisah Cintaku Sama  Tragisnya Seperti Seorang Tan Malaka?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com