Dengarkan Artikel
Oleh Siska Akmal
Guru MTs Fathin Al-Aziziyah, Pidie Jaya. Lulusan Universitas Jabal Ghafur, Sigli, Aceh
Langit biru yang menyakitkan,
sunyi tanpa rintik dan salam dari awan hitam.
Kemarau menjulur panjang
panas menari di atas tanah retak,
seolah setiap retakan tanah adalah jejak dosa kita
yang terperangkap dalam kelalaian
Angin tak membawa kabar,
Hanya berlalu tanpa cerita
Pepohonan merintih dalam gugur,
seperti jiwa-jiwa yang kehilangan harapan.
Hujan yang tak kunjung turun,
mungkinkah itu murka yang tak bersuara?
Atau isyarat dari langit
bahwa terlalu banyak maksiat
yang telah dilukis bumi dengan tubuh manusia?
Adakah tangisan langit ditahan
Oleh keangkuhan bumi?
Ataukah berkah tertunda karena
Hati-hati yang membatu?
📚 Artikel Terkait
Mungkin langit menahan air matanya,
karena dosa kami sudah terlalu deras.
Mungkin Allah masih menanti,
agar lidah-lidah ini
lebih banyak melafazkan istighfar
daripada meratapi panas ibarat api
Duhai hujan,
jika kau hanya akan datang
bersama taubat yang tulus,
maka ajarilah kami cara menangis yang benar.
Agar bumi pun tahu
bahwa masih ada manusia
yang ingin kembali suci.
Adakah tangisan langit ditahan
Oleh keangkuhan bumi?
Ataukah berkah tertunda
Karena hati-hati yang membatu?
Kami masih berharap
Meski peluh menggantikan rintik
Dan doa menjadi satu-satunya hujan
Yang belum mengering
Wahai Allah ku
Jika langit belum Engkau izinkan untuk menangis
Maka biarlah kami menangis lebih dulu
Dengan taubat yang tak henti kami basuh
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






