Dengarkan Artikel
(Sebuah roman kecil dari dunia yang nyaris hilang)
Oleh Nyakman Lamjame
I. Desir yang Menyimpan Kenangan
Segalanya bermula dari desir angin yang nyaris tak terdengar. Pagi itu lambat menyusup di sebuah kampung yang tak pernah masuk dalam peta wisata—tempat cahaya matahari turun bukan sebagai sinar, melainkan sebagai kenangan: lembut, murung, dan terlalu tua untuk dikisahkan dalam bahasa modern.
Aku duduk di atas lantai kayu rumah panggung yang mulai keropos. Di bawah, ayam sesekali melintas; di atas, langit menggantung diam seperti kain yang lupa dijemur. Di depan, seorang perempuan tua sedang mengaduk rebusan daun dari pohon yang bahkan namanya pun tak kukenal.
“Ini untuk mencuci luka,” katanya pelan, suaranya lirih seperti gesekan dedaunan.
Aku mengangguk, lebih kepada udara. Waktu di ruang itu tak berjalan lurus. Ia memutar, melingkar, mundur perlahan, lalu membeku sejenak—seolah menunggu seseorang datang, atau sesuatu diingat.
Perempuan itu mulai bercerita, bukan seperti orang yang bercerita, melainkan seperti seseorang yang menimba air dari sumur yang dalam. Ceritanya tidak menggelegar; ia mengalir tenang, penuh jeda, seperti doa yang diucapkan dalam hati. Tentang pelabuhan yang kini tinggal bayang-bayang. Tentang perahu yang melaut tanpa peta. Tentang syair yang dilantunkan malam hari agar anak-anak tak bermimpi buruk.
Aku mendengarnya tanpa mencatat. Tak berani menyela. Karena dalam setiap katanya, ada sesuatu yang lebih tua dari umur siapa pun yang masih hidup hari ini. Dan mungkin, inilah satu-satunya jalan pulang bagiku—bukan ke rumah, tapi ke sesuatu yang pernah menjadi diriku sebelum aku tahu nama dunia ini.
II. Dunia yang Melupakan Dirinya Sendiri
Semakin jauh aku melangkah, semakin kusadari: dunia ini perlahan sedang melupakan dirinya sendiri.
Kita membangun jembatan, tapi tak tahu hendak menyeberang ke mana. Kita mengangkat budaya, tapi seringkali hanya untuk difoto. Kita menghidupkan kembali tradisi, tapi hanya di atas panggung—dengan durasi terbatas agar tak mengganggu jadwal makan malam.
Anak-anak di kampung itu masih hafal syair yang diajarkan sekolah. Tapi mereka tak lagi tahu kenapa kakek mereka dulu mendengarkannya sambil menatap laut, atau mengapa ibu mereka meneteskan air mata saat mendengar lagu Seudati.
Aku pernah bertanya kepada seorang pemuda, “Apa arti kata meuseunia?”
Ia tersenyum kecil, lalu membuka ponselnya. “Coba saya cari dulu, Bang.”
Dan di situlah, aku mendadak merasa sangat sunyi.
Bahasa yang tak diucapkan akan perlahan mati. Tapi lebih menyedihkan dari itu: bahasa yang masih hidup tapi tak lagi menyentuh jiwa.
Kita tahu cara menyusun kalimat, tapi tak tahu cara menyentuh hati. Kita tahu adat adalah warisan, tapi lupa bahwa warisan bukan sekadar benda—ia hidup dalam rasa: rasa malu yang halus, rasa hormat yang lembut, rasa rindu pada sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Adat dan reusam bukanlah aturan kaku. Ia adalah cara berjalan di atas bumi tanpa melukainya. Ia adalah cara menyapa langit tanpa merasa lebih tinggi. Ia adalah puisi yang hidup dalam gerak tubuh: cara menuang air, cara menunduk ketika lewat di hadapan orang tua, cara tertawa yang tidak berlebihan.
Dan semua itu kini pelan-pelan memudar, seperti jejak di pasir yang disapu ombak sebelum sempat dipelajari.
📚 Artikel Terkait
III. Seribu Mata dari Masa Silam
Ada yang lebih pilu dari kehilangan: yaitu ketika kita berdiri tepat di atas sesuatu yang sangat berharga, namun tak pernah tahu bahwa ia ada.
Aku pernah menginap di sebuah rumah tua di pegunungan Aceh Tengah. Udara malamnya dingin, menusuk hingga ke tulang. Tapi yang paling menusuk bukan suhu, melainkan kesunyian.
Di dinding rumah tergantung sehelai kain tenun lusuh, dipaku dengan besi karatan.
“Ayahku yang menenunnya,” kata si pemilik rumah. “Sekarang, tak ada lagi yang tahu caranya.”
Malam itu aku terbangun, menatap kain itu dalam cahaya lampu minyak. Tiba-tiba aku merasa ditatap oleh seribu mata dari masa lalu. Bukan dengan marah, tapi dengan pilu—seolah mereka berbisik: Kami tidak menuntut untuk diingat. Kami hanya berharap kau tidak terlalu cepat lupa.
Aku teringat tulisan di pinggir buku tamu:
Kita adalah anak-anak dari cerita yang tak selesai. Kita hidup dalam dunia yang terus bergerak, tapi tak pernah tahu apa yang telah kita tinggalkan.
Dan malam itu, aku menangis tanpa suara. Bukan karena kehilangan, tapi karena sadar bahwa aku pun telah ikut menyumbang pada pelupaan itu.
IV. Menyalin Hikayat ke Dalam Waktu
Pagi berikutnya, kabut turun seperti jubah yang lupa dilipat. Segalanya tampak lebih redup, seolah matahari sendiri sedang ragu menyinari dunia yang tak lagi mengingat dirinya.
Di ujung kebun kopi yang nyaris terbengkalai, aku bertemu seorang lelaki tua. Ia tengah menuliskan sesuatu di selembar daun lontar, perlahan, dengan alat yang tak lagi dikenal oleh anak-anak sekolah. Tangannya gemetar, tapi setiap guratan tampak seperti bisikan yang sedang ditanamkan ke dalam waktu.
“Aku menyalin hikayat lama,” katanya lirih, tanpa menoleh. “Agar ia tak hilang begitu saja.”
Aku duduk di dekatnya, tak ingin mengganggu. Angin menggoyang daun-daun, dan suara alam bercampur dengan bunyi ukiran yang lirih—seperti napas panjang dari masa yang enggan pergi.
“Siapa yang akan membaca ini nanti?” tanyaku.
Ia diam cukup lama, lalu menjawab: “Mungkin tak ada. Tapi lebih menyakitkan membiarkannya lenyap tanpa perlawanan.”
Dan saat itu juga, aku merasa sangat kecil. Seperti sebutir debu dalam hikayat yang belum selesai ditulis.
V. Rumah yang Tak Lagi Bernyawa
Beberapa hari kemudian, aku kembali ke kampung pertama—tempat perempuan tua menimba cerita dan merebus daun untuk luka. Tapi rumahnya kini kosong. Lantai kayu itu retak, dapur tak lagi hangat. Di sudut ruangan, hanya tersisa panci berkarat dan selembar kain batik yang menggantung setengah jatuh.
“Beliau sudah meninggalkan kita,” kata seorang tetangga. “Tanpa sempat menyelesaikan ceritanya.”
Aku berdiri lama di ambang pintu. Tak tahu apakah harus masuk, atau pergi. Udara dalam rumah itu seakan berhenti bernapas. Tapi entah mengapa, aku merasa suara perempuan tua itu masih menggantung di udara. Bukan sebagai kata, tapi sebagai rasa.
Dan saat itulah aku sadar: tidak semua cerita harus selesai. Sebagian memang ditakdirkan untuk ditinggalkan dalam keadaan terbuka—sebagai ruang kosong bagi generasi yang berani menyambungnya kembali.
Penutup
Cerita ini mungkin takkan pernah masuk buku sejarah. Takkan diajarkan di ruang kelas. Takkan viral di media sosial. Tapi ia tetap hidup—di sela-sela doa yang tak pernah dijelaskan, dalam gerak tangan yang sederhana, dalam cara seseorang menyebut nama kampungnya dengan pelan, seolah sedang menyebut nama ibunya sendiri.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita manusia bukan hanya ingatan, tapi kesediaan untuk merawatnya. Bukan hanya tradisi, tapi kesetiaan untuk menghidupkannya secara diam-diam—tanpa tepuk tangan, tanpa panggung besar.
Dan aku menulis semua ini bukan untuk dikenang, tapi untuk mengingat.
Agar suatu hari nanti, saat dunia menoleh ke belakang, ia tahu bahwa pernah ada seseorang yang mencoba menyulam kembali cerita dari sebuah cerita.
Cerita yang nyaris hilang.
Tapi tidak sepenuhnya.
Belum. bye-bye bicycle bicycle
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






