• Latest
Puisi-Puisi Sigit Prasojo

Puisi-Puisi Sigit Prasojo

Juni 22, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Puisi-Puisi Sigit Prasojo

Redaksiby Redaksi
Juli 19, 2025
Reading Time: 4 mins read
Puisi-Puisi Sigit Prasojo
598
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Air Tak Menyucikan

Di dinding kamar mandi rumahku,
ada tulisan kecil:
“Jangan lupakan siapa yang memandikanmu.”
Tak kutahu siapa menulisnya.
Mungkin aku,
mungkin Tuhan,
mungkin seseorang yang tak tahan hidup
dan memilih rebah di lantai licin.

Setiap kali kukeramkan keran,
air mengalir seperti ayat tak hafal
yang dipaksa diulang dalam keadaan panik.
Air itu bukan menyucikan—
ia cuma membasahi trauma
tanpa pernah benar-benar meluruhkannya.

Kupandangi tubuhku di cermin kecil,
dan melihat luka
yang tidak berdarah,
tapi mengeluarkan suara.

Malam itu,
aku memandikan tubuhku
dengan sabun yang tak wangi,
dengan doa yang patah di baris ketiga.

Dan tulisan itu—
masih di sana.
Lebih suci dari pengajian,
lebih menusuk dari khutbah Jumat,
karena ia mengingatkanku
bahwa tubuh ini pun suatu hari
akan dibersihkan
oleh tangan orang lain.

Ponorogo, Juni 2025

Kursi Kosong

Ada kursi kayu tua
di beranda belakang rumah—
tak pernah kududuki,
tapi entah kenapa
ia selalu hangat
seperti baru saja ditinggal punggungku sendiri.

Kursi itu menganga
seperti mulut orang tua
yang terlalu lama menyimpan cerita
hingga akhirnya kehilangan suara.

Kakaknya patah satu,
tapi ia tetap berdiri,
menopang angin sore
seolah menunggu seseorang
yang tak pernah jadi pulang.

Aku duduk di sampingnya,
bukan untuk istirahat,
tapi untuk belajar
bagaimana caranya tetap berdiri
tanpa harus punya siapa-siapa.

Ponorogo, Juni 2025

Seperempat Bayang

Pagi ini aku sarapan
di hadapan wajahku sendiri
yang terpantul di sendok aluminium
—mataku cekung,
bibirku pecah,
dan bayangku terlihat
seperti seseorang yang kehabisan peran.

Aku terdiam.
Tak karena lapar,
tapi karena takut
satu-satunya wajah yang tersisa
adalah pantulan dari apa yang kutinggalkan
dalam doa-doa yang dulu kutolak.

Sendok itu kecil,
tapi cukup luas
untuk memantulkan kehancuran
tanpa menyakiti bentuknya.

Dan saat kuangkat sendok itu ke mulutku,
aku tahu:
yang kutelan bukan bubur,
tapi sejarah
yang tak pernah bisa kutumpahkan
ke siapa pun.

Ponorogo, Juni 2025

Jembatan Langit

Aku duduk di bawah jembatan langit,
di mana malam tidak turun sepenuhnya
dan pagi belum tahu caranya terbit.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026

Jembatan ini bukan dari beton,
tapi dari sisa-sisa niat
yang pernah kucoba susun
menjadi jalan pulang.

Burung-burung berdiam di kabel,
seperti isyarat tak terkirim
yang menggantung
antara aku dan suara Tuhan
yang lupa menekan tombol kirim.

Kadang aku ingin melompat,
bukan untuk mati—
tapi untuk menyentuh sesuatu
yang lebih jujur
daripada hidup.

Dan setiap kali angin lewat,
aku merasa
jembatan ini tak membawa ke mana-mana—
ia cuma tempat singgah
bagi orang-orang
yang terlalu sadar
untuk percaya kembali.

Ponorogo, Juni 2025

Di Antara Detak

Ibuku memberiku nama depan,
ayahku nama belakang.
Tapi nama tengahku—
tak pernah diajarkan.
Ia tumbuh sendiri,
di antara detak jantung
dan keheningan paling pekat
yang bisa disimpan seorang anak laki-laki.

Aku tahu namanya sekarang:
Senyap.
Karena tiap kali aku bicara,
tak ada yang benar-benar mendengar.
Dan tiap kali aku diam,
semua mengira aku sedang baik-baik saja.

Senyap bukan tidak ada,
ia hanya memilih tempat
yang tak bisa dijamah percakapan.

Malam ini,
aku panggil namaku lengkap:
dengan dada yang berat,
dan air mata yang tidak belajar berpamitan.
Aku menyebutnya seperti doa terakhir
yang tidak ditujukan pada siapapun,
tapi pada diriku sendiri
yang ingin selamat.

Ponorogo, Juni 2025

Karya: S. Sigit Prasojo 

Email: sprasojo0@gamil.com

ADVERTISEMENT

Akun Instagram: @maz_prasojo

S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo. Ia telah meraih banyak kejuaraan kepenulisan tingkat nasional.Ia juga aktif di komunitas Partey Penulis Puisi

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 367x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 333x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 277x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 275x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Asia dalam Bayang-Bayang Barat: Sebuah Peringatan dari Palestina

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com