POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Akhirnya, Prabowo Kembalikan Empat Pulau ke Aceh

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 18, 2025
Akhirnya, Prabowo Kembalikan Empat Pulau ke Aceh
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Mendagri punya ulah, Prabowo yang harus membersihkannya. Empat pulau milik Aceh yang dimutasi ke Pemprov Sumatera Utara, akhirnya dikembalikan lagi oleh Prabowo ke pemilik asalnya. Mari kita ungkap keputusan penting sang presiden untuk rakyat Aceh. Siapkan lagi kopinya, wak!

Empat pulau itu adalah Pulau Panjang, Lipan, Mangkir Gadang, dan Mangkir Ketek. Tadinya hidup tenang di antara ombak dan nelayan. Lalu, mendadak jadi rebutan dua provinsi. Sumatera Utara klaim itu tanah kelahiran mereka. Aceh bilang itu bagian dari sejarah, darah, dan bahkan sempat mau dibawa ke mimpi referendum.

Isunya meledak, membakar hati rakyat Aceh. Dari gubernur Muzakir Manaf alias Mualem, sampai tukang parkir depan warkop, semua pasang status, “Pulau kami bukan obyek wisata, tapi harga diri!” Kegaduhan ini lebih bising dari drone perang dan lebih tegang dari babak adu penalti Piala Dunia.

Muncullah kembali nama lama, Gerakan Aceh Melawan (GAM). Bukan dalam format angkat senjata, tapi angkat hashtag: #PulauAdalahAceh. Bahkan ada wacana referendum mencuat seperti uap kopi Gayo yang sedang diseduh. Semua mendidih. Bahkan ombak pun seakan berbisik, “Kami milik Aceh, Bang…”

Dalam tengah kabut perdebatan itu, muncullah sang juru selamat, Presiden Prabowo Subianto. Walau beliau masih di luar negeri, lewat sebuah rapat terbatas di Istana, anak buahnya, seperti Mensesneg Prasetyo Hadi, Mendagri Tito Karnavian, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad bisa mengambil keputusan penting. Tentu ada juga Gubernur Sumut Bobby Nasution, serta Mualem sang singa Aceh.

Setelah segudang dokumen dibuka, atlas dijembreng, surat-surat tahun 2009 dibedah, dan koordinat GPS ditiup-tiup seperti kertas ujian matematika… akhirnya lahir keputusan suci, Keempat pulau tersebut sah milik Provinsi Aceh.

Ya, sampeyan tidak salah dengar. Sah. Resmi. Final. Tanpa VAR.

📚 Artikel Terkait

Puisi-Puisi Mustiar Ar

Syekh Abdurrauf al-Singkili; Pemuka Ulama Aceh

Damai yang Disalahpahami: Elite Aceh, Otonomi Khusus, dan Krisis Ekologi yang Menguji Masa Depan Aceh

Hakam Naja : Government Leadership, Kunci Utama Pengembangan Ekonomi Keuangan Syariah Indonesia

Mensesneg Prasetyo Hadi mewakili sang presiden menjelaskan dengan gaya teknokrat, tapi rakyat cuma dengar satu hal, “Alhamdulillah, pulau kami kembali.” Padahal sebelumnya, Kemendagri pernah keluarkan surat tanggal 25 April 2025, yang justru mendukung klaim Sumut. Rakyat Aceh marah, dan saking marahnya menggelar unjuk rasa.

Data demi data digali. Pada 2009, Sumut mengklaim ada 213 pulau di wilayahnya, termasuk empat pulau itu. Tapi Aceh tak tinggal diam. Kepala Biro Pemerintahan Aceh, Syakir, bersuara lantang: “Kami punya sejarah, bukan cuma nama!”

Akhirnya, sejarah itu menang. Keadilan bukan turun dari langit, tapi dari meja rapat ber-AC dan tumpukan dokumen yang dihitung lebih detail dari kalkulator kasir Indomaret.

Kini, Aceh boleh bangga. Ini bukan cuma kemenangan administratif. Ini epik. Ini Mahabharata versi Nusantara. Empat pulau kecil telah mengajarkan Indonesia bahwa tanah sekecil apapun, jika dicintai, bisa membuat satu provinsi berdiri melawan.

So, di bawah langit Lhokseumawe, rakyat Aceh menyeduh kopi dengan rasa kemenangan. Sementara Bobby Nasution menatap peta Sumatera Utara dengan air mata haru dan berkata, “Yang penting kita masih punya Danau Toba.”

Mari kita rayakan kemenangan ini dengan kopi hitam pahit dan mi Aceh ekstra pedas. Karena pada akhirnya, keadilan bukan turun dari langit, tapi dari meja rapat yang dihadiri pejabat, dibumbui rakyat, dan disulut oleh semangat.

Keempat pulau itu? Kini bisa tidur nyenyak, setelah tahu mereka tak lagi jadi rebutan, tapi telah menemukan rumah yang layak, di pelukan Aceh yang gagah, dan penuh cinta.

Empat pulau kecil itu kini kembali ke pangkuan ibu, Aceh Darussalam. Tempat di mana bahkan batu karang pun bisa merasa dicintai.

Semoga setelah ini tak ada lagi keputusan yang bisa merugikan daerah. Tak hanya Aceh saja. Pusat hendaknya lebih hati-hati dalam membuat keputusan, jangan mentang-mentang lagi. Jangan ada lagi, menteri jalan ke sini, presiden jalan ke sana. Usahakan selalu sama-sama di jalan yang sama. Bila perlu tetap ngopi bersama, dan ajak saya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00