• Latest
Luar Biasa, Jokowi pun Diangkat Jadi Nabi

Luar Biasa, Jokowi pun Diangkat Jadi Nabi

Juni 11, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Luar Biasa, Jokowi pun Diangkat Jadi Nabi

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Juni 11, 2025
Reading Time: 3 mins read
Luar Biasa, Jokowi pun Diangkat Jadi Nabi
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Saat ia menulis, mungkin Jokowi sedang minum kopi, dan tersedak. Tiba-tiba ada orang mengangkatnya sebagai nabi. Luar biasa narasi politik sekarang ni, wak. Mari kita ungkap kenapa sampai Pakdhe asal Solo itu diangkat jadi nabi? Siapkan kopinya agar otak selalu encer dan waras.

Pada tanggal 9 Juni 2025, sebuah cuitan sederhana menggetarkan fondasi akal sehat bangsa. Cuitan itu tidak berasal dari seorang filsuf, ulama, atau penyair mabuk eksistensial, melainkan dari seorang tokoh PSI Bali bernama Dedy Nur, Ketua Biro Ideologi dan Kaderisasi. Dengan jemari yang tampaknya lebih cepat dari pikirannya, ia menuliskan pernyataan yang, konon, lahir dari lubuk hati penuh cinta. “Jadi nabi pun sebenarnya beliau ini sudah memenuhi syarat.” Yang dimaksud tentu saja Joko Widodo, mantan presiden yang kini, oleh sebagian kecil penggemarnya, ditarik-tarik ke ranah kenabian.

Pernyataan ini ibarat melemparkan roket ke kandang ayam, kekacauan total, bulu beterbangan, dan akal sehat menyingkir mencari tempat aman. Media sosial, seperti biasa, bereaksi bak kawanan semut disiram kopi panas. Kritik mengalir bukan seperti air, tapi seperti lava, panas, marah, dan siap membakar siapa pun yang masih waras.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Jokowi, yang dulunya dikenal sebagai bapak sederhana dari Solo yang doyan blusukan, masuk gorong-gorong, dan senyum kepada rakyat meski anggaran defisit, kini dipromosikan naik kelas menjadi nabi. Nabi, wak! Gelar tertinggi dalam kosmologi wahyu. Sebuah status yang secara teologis hanya bisa dicapai lewat campur tangan Tuhan, bukan lewat algoritma media sosial atau loyalitas partai.

Tapi Dedy Nur tampaknya punya tafsir lain tentang kenabian. Bagi dia, cukup punya senyum tulus, suka menyapa rakyat kecil, dan mengakhiri masa jabatan dengan ‘sukses’ versi brosur partai, sudah cukup untuk dikarbit menjadi utusan Tuhan. Wahyu tampaknya tak lagi turun dari langit, melainkan dari X (sebelumnya Twitter), dikirim lewat sinyal 5G.

Sontak muncul berbagai respons. Salah satunya dari akun @ch_chotimah2, yang dengan sinis menulis, “Jokowi itu pembohong, ingkar janji, pengkhianat, dan tak tahu terima kasih. Disebut oleh kader PSI memenuhi syarat untuk jadi Nabi, manusia pilihan Tuhan? Ini penghinaan terhadap Tuhan, bukan sekadar pengultusan.” Di situ publik mulai sadar, ini bukan sekadar pujian berlebihan. Ini sudah menjelma jadi teater kultus, tempat logika digantung di pintu, dan puja-puji menggantikan doa.

Fenomena ini sebetulnya bukan baru. PSI sudah lama menjadikan Jokowi semacam ikon suci. Tapi menyebut beliau layak menjadi nabi? Itu bukan lagi glorifikasi politik, itu eskalasi teologis. Suatu bentuk absurditas yang bahkan Nietzsche pun mungkin akan geleng-geleng kepala sambil menulis ulang “The Antichrist” dengan setting di Senayan.

Lucunya, hingga kini belum ada klarifikasi. PSI memilih diam, mungkin sedang berembuk dengan tim kreatif wahyu. Atau mereka sedang mempersiapkan Kitab Suci baru, versi demokrasi digital, dengan pasal-pasal tentang selfie bersama rakyat dan mukjizat peresmian jalan tol.

Yang pasti, hari itu bangsa ini tak hanya tertawa getir, tapi juga merenung dalam absurditasnya sendiri. Ketika kenabian dijadikan alat retoris demi mendongkrak popularitas mantan presiden, maka kita patut bertanya, apakah ini negara demokrasi? Atau sinetron eskatologis dengan rating yang makin menggila?

Sebab di negeri ini, kadang lebih mudah menyebut seseorang nabi dari mengkritik tanpa dicap pembenci. Jika kelak Jokowi benar-benar diangkat menjadi “Nabi Reformasi Blusukan ke-25”, maka satu-satunya mukjizat yang bisa menyelamatkan bangsa ini adalah, kesadaran kolektif bahwa terlalu cinta pada manusia biasa, bisa berakhir pada bencana luar biasa.

Apakah ini cara untuk membesarkan partai, agar namanya selalu trending di medsos? Saya tak tahulah, wak. Namun, inilah fakta politik di negeri ini. Ente lah yang menilai, saya cuma menarasikannya saja.

ADVERTISEMENT

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Pemenang Lomba Menulis - Bincang Sore POTRET

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com