• Latest
Sedikit Mengenal Personel PT. GAG yang Merusak Raja Ampat

Sedikit Mengenal Personel PT. GAG yang Merusak Raja Ampat

Juni 10, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sedikit Mengenal Personel PT. GAG yang Merusak Raja Ampat

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Juni 10, 2025
Reading Time: 3 mins read
Sedikit Mengenal Personel PT. GAG yang Merusak Raja Ampat
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Kemarin saya sudah mengenal PT. GAG Nikel, anak perusahaan dari PT. Antam Tbk. Sekarang, saya mau mengenalkan para personel, orang-orang hebat yang menjadi aktor utama perusahaan tersebut. Siapkan kopi tanpa gulanya, wak! Narasi ini akan membangkitkan kecintaan kita pada lingkungan hidup.

Di antara gugusan permata laut yang disebut Raja Ampat, berdirilah Pulau Gag, surga kecil yang dulu hanya dikenal oleh nelayan dan burung cendrawasih. Namun sejak PT GAG Nikel datang membawa bendera investasi, ekskavator, dan presentasi PowerPoint yang lebih licin dari minyak goreng curah, pulau ini tak lagi suci. Ia kini menjadi altar persembahan bagi Oligarki, Dewa Baru dalam kitab ekonomi Indonesia modern.

Mereka datang seperti malaikat. Menyamar dalam jubah CSR. Menawarkan pekerjaan yang tak sebanding dengan ekosistem yang mereka kikis. Dengan nama-nama sakti yang membuat wartawan lingkungan muntah data, mereka duduk di singgasana perusahaan. Ada nama Hermansyah sebagai Presiden Komisaris. Katanya punya pengalaman luas dalam industri tambang, mungkin juga pengalaman menyaksikan kerusakan dari helikopter. Ada Lana Saria, komisaris yang sebelumnya pejabat ESDM, sebuah lembaga yang entah tugasnya menjaga sumber daya alam atau menjualnya perlahan-lahan.

Ada nama Ahmad Fahrur Rozi, sang komisaris dengan spesialisasi manajemen risiko, mungkin satu-satunya risiko yang ia hitung adalah menurunnya harga saham, bukan tenggelamnya desa pesisir. Kalau kalian tahu Kiyai Imad, pasti juga tahu siapa Ahmad Fahrur Rozi ini. Tentu, Saptono Adji, ahli strategi pertambangan, mungkin juga ahli strategi pelupaan publik.

Di kursi operasional, duduklah Arya Arditya Kurnia. Plt. Presiden Direktur sekaligus Direktur Operasi. Laki-laki ini punya dua tangan. Satu untuk menggali bumi, satu lagi untuk mengetuk meja saat konferensi pers. Ia tak sendiri. Ada Aji Priyo Anggoro di sisi lain, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan SDM, tiga bidang yang jika digabungkan bisa membuat manusia terasa seperti spreadsheet.

Pada 5 Juni 2025, operasi tambang mereka diberhentikan sementara oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Tentu saja sementara adalah kata paling licik dalam kamus birokrasi. Ia bukan penundaan. Ia cuma jeda sebelum kerusakan berlanjut dengan lebih banyak dokumen legal dan pengesahan resmi. Arya, seperti biasa, menyambut keputusan itu dengan senyum corporate. Ia menyatakan siap memberikan dokumen pendukung. Dokumen, ya, bukan kehidupan terumbu karang yang mati atau hutan sagu yang hilang. Dokumen, yang selalu bisa ditulis ulang, tidak seperti tanah adat yang telah dikeruk.

Di balik angka-angka keuntungan, ada rakyat Papua Barat yang marah, muak, dan nyaris menyerah. Mereka bicara tentang pengelolaan sumber daya alam yang adil, tentang keterlibatan masyarakat asli, tentang tanah yang bukan cuma tanah, tapi warisan leluhur dan ibu kehidupan. Tapi siapa yang mendengar? Pemerintah pusat sibuk mengejar target pertumbuhan, sambil menjilat manisnya royaltinya sendiri. Mereka berdalih “pembangunan nasional”, padahal yang dibangun hanya rekening-rekening milik minoritas superkaya.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Ini bukan sekadar konflik antara tambang dan lingkungan. Ini perang sunyi antara keserakahan yang disahkan negara dan hak hidup yang diwariskan nenek moyang. Ketika Pulau Gag dilubangi, yang keluar bukan cuma nikel. Tapi juga air mata, kemarahan, dan suara-suara rakyat yang terlalu sering dianggap angin lalu.

Jika hari ini kita masih bisa melihat cendrawasih menari di atas pohon, jangan senang dulu. Mungkin besok ia sudah menari di atas papan pengumuman “Akan Dibangun Smelter Ramah Lingkungan.” Sebab di negeri ini, bahkan cendrawasih pun tak aman dari birokrasi dan modal.

Sementara kita sibuk membuat podcast lingkungan dan lomba menulis puisi konservasi, para komisaris terus tertawa di balik kaca gedung tinggi. Karena yang mereka selamatkan bukan pulau, bukan rakyat, tapi profit margin kuartal ketiga.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Aceh Selatan: Negeri Kutukan bagi Orang-Orang Hebat?

Aceh Selatan: Negeri Kutukan bagi Orang-Orang Hebat?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com