POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Abu Syech Mud; Syekhul Masyayikh Ulama Dayah Aceh Periode Awal. 

Nurkhalis MuchtarOleh Nurkhalis Muchtar
May 24, 2025
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc,MA

Nama kecilnya Teungku T. Mahmud bin T. Ahmad, berasal dari Lhoknga. Setelah menjadi alim besar yang rasikh ilmunya, masyarakat Blangpidie dan sekitarnya mengenal beliau  dengan sebutan Abu Syech Mud. Abu Syekh Mud diperkirakan lahir sekitar tahun 1899. Beliau masih keturunan Teuku dan Ulee Balang kawasan Lhoknga Aceh Besar dan menikah ke Lamlhom, masih di kawasan yang sama. 

Mengawali pengembaraan ilmunya, semenjak kecil Abu Syech Mud telah mulai belajar agama di desanya, disertai pelajaran umum di sekolah yang dikhususkan kepada anak-anak bangsawan ketika itu. 

Setelah beberapa tahun belajar di desanya, Abu Syech Mud kemudian memperdalam keilmuannya ke Dayah Abu Hasan Kruengkalee di Siem tahun 1916, setelah tibanya Abu Kruengkalee dari Mekkah di mana sebelumnya Abu Kruengkalee mengabdi beberapa tahun di Lembaga Pendidikan Teungku Chik Muhammad Arsyad di Yan temannya Teungku Chik Oemar Diyan dan Abu Kruengkalee menikah di sana. 

Hampir lima tahun dengan segenap kesungguhan dan ketekunan Abu Syech Mud belajar, sehingga beliau sudah dianggap sebagai ulama muda yang mendalam ilmunya dan mampu menguasai kitab-kitab besar dalam Mazhab Syafi’i. 

Namun Abu Syech Mud masih merasa minim ilmunya, sehingga beliau berangkat ke Yan Keudah menumpang dengan kapal pelajar yang diberangkatkan ke Batavia. 

Selama belajar di Yan Malaysia dengan para Teungku Chik, banyak keluarga Aceh yang berkesan dengan keluhuran budi dan keilmuan mendalam Abu Syech Mud, sehingga beliau dijadikan ‘anak angkat’ oleh mereka. 

📚 Artikel Terkait

Kisah Bocornya Ban dan Heroisme Tersembunyi

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Surat Yasin Terakhir

The Poems of Humairah Binti Zul Hasimi

Setelah menamatkan pendidikan di Yan, Teungku Syekh T Mahmud kemudian dikirim ke Blangpidie atas permintaan Teuku Sabi, Ulee Balang kawasan Blangpidie, di mana sebelumnya yang menjadi pemimpin agama di Abdya adalah Teungku Muhammad Yunus Lhoong atau Teungku di Lhoong utusan PUSA yang kemudian dikembalikan ke Kuta Raja Banda Aceh setelah peristiwa Penyerangan Tangsie Belanda dan Syahidnya Teungku Peukan dan pengikutnya pada tahun 1926. 

Tibalah Teungku Syekh Mahmud untuk menjadi Guru bagi seluruh masyarakat Blangpidie dan sekitarnya pada tahun 1927. Sedangkan di Labuhan Haji telah datang sebelum beliau Teungku Syekh Muhammad Ali atau Abu Ali Lampisang sekitar tahun 1924 dan membangun lembaga pendidikan Jam’iyatul Khairiyah. Mulailah Teungku Syekh Mud mendirikan Dayah beliau dengan nama Bustanul Huda (Kebun Petunjuk) yang berada di seputaran Mesjid Jamik Baitul ‘Adhim Blangpidie. 

Terhitung mulai tahun 1928 beliau memimpin dan mengayomi masyarakat Blangpidie sampai hari terakhir wafatnya yaitu tahun 1966 beliau memimpin Dayah Bustanul Huda, dan telah banyak melahirkan kader ulama terpandang yang melanjutkan estafet keilmuan dan keulamaannya. 

Di antara sekian banyak murid Abu Syech Mud adalah: Teungku Syekh Muhammad Waly al-Khalidi, Teungku Syekh Muhammad Arsyad atau Abu Calang, Teungku Syekh Jailani Kota Fajar, Teungku Syekh Abdul Hamid Kamal yang kemudian menjadi menantu dan melanjutkan kepemimpinan Dayah, Teungku Syekh Adnan Mahmud Bakongan, Teungku Syekh Bilal Yatim Suak, Teungku Syekh Imam Syamsuddin Sangkalan, Abu Ibrahim Woyla, Abu Ghafar Lhoknga dan banyak ulama lainya yang tersebar di seluruh Aceh. Bahkan Abu Syech Mud ini merupakan guru utama dari Abuya Syekh Muda Waly setelah Abuya belajar dari Abu Ali Lampisang.

Abu Syech Mud sebagaimana ditulis oleh cucunya Tgk Silman Haridhi merupakan seorang ulama yang mendalam ilmunya lagi seorang yang zuhud. Hal senada juga ditulis oleh Abuya Doktor Muhibbuddin bahwa Abu Syech Mud memposisikan dirinya sebagai seorang guru yang lebih banyak diam dan mendoakan para muridnya. 

Setelah wafatnya Abu Syech Mud, estafet Pimpinan Dayah Bustanul Huda dan Guru Ummat kemudian dilanjutkan oleh ulama lainnya yang juga murid khusus dan menantunya yaitu Teungku Syekh Abdul Hamid Kamal yang dikenal dengan Abu Haji Blangpidie. Beliau memimpin Dayah Bustanul Huda hingga tahun 1980 sampai wafatnya. Yang Kemudian dilanjutkan oleh Abu Mohd Syam Marfaly ulama teguh, tegas dan istiqamah. 

Abu Syam berangkat ke Labuhan Haji setelah sekitar tiga tahun menjadi Jama’ah tetap di Mesjid Jamik Baitul ‘Adhim Blangpidie dari tahun 1955 sampai 1958 mendengar ceramah dan pengajian dari Abu Syech Mud. Kemudian 17 tahun berikutnya Abu Syam Marfaly menimba ilmu di Darussalam yang kemudian mengantarkannya menjadi seorang ulama yang diperhitungkan. 

Ketiga Ulama tersebut telah kembali kehadirat Allah SWT. Semoga Allah terima setiap dedikasi mereka untuk ummat Nabi Muhammad SAW. 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional

Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00