POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home # Ironi

Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional

Redaksi by Redaksi
Mei 24, 2025
in # Ironi, #Aspirasi, #Kontemplasi, Essay
0
Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional - 2025 05 24 08 41 59 | # Ironi | Potret Online

Oleh: Yoss Prabu

Hari Kebangkitan Nasional. Hari di mana bangsa ini katanya mulai bangun. Meski hingga hari ini, banyak dari kita yang masih lebih suka tidur siang daripada bangkit memperjuangkan nasib.

Bangkit itu melelahkan, Bung. Jauh lebih capek daripada rebahan sambil menonton drama Korea yang episodenya 16 tapi air matanya 160 liter.

Baca Juga
  • Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional - ae33a56b 82a7 4996 af47 e70473b08acd | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Apakah Proyek Cepat Itu Benar-Benar Maju? Membaca Ulang Warisan Jokowi Melalui Utang Kereta Cepat
    19 Okt 2025
  • Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional - 8584e910 8395 4c74 8036 e957c62e0fdc 2 | # Ironi | Potret Online
    Essay
    Detik-detik STY, Dipecat atau Tidak
    06 Jan 2025

Dulu, tahun 1908, para pendiri Boedi Oetomo mungkin tidak pernah menyangka bahwa seratus tahun kemudian, cucu-cicit bangsanya akan lebih semangat rebutan diskon di e-commerce daripada memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tapi ya, apa boleh buat. Bangsa ini memang puitis. Bahkan ketika sedang terpuruk pun, kita tetap bisa tertawa. Tertawa bukan karena bahagia, tapi karena kalau menangis terus, takut dibilang lebay oleh netizen +62 yang budiman.

Baca Juga
  • 01
    Essay
    Mustaqim dan Sekolah Pemimpinnya
    31 Jul 2021
  • Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional - 935c28b0 b61d 4e0e a9a7 e06fb0709da3 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia
    23 Jan 2026

“Kebangkitan Nasional” bukan hanya soal sejarah. Ini juga soal perasaan. Seperti saat kamu bangkit dari patah hati dan berkata, “Saya tidak akan menghubunginya lagi,” lalu lima menit kemudian, kamu mengetik, “Hai, udah makan?”

Bangkit itu bukan perkara berdiri, tapi soal keberanian untuk jatuh dan tetap ingin mencoba lagi. Seperti kisah cinta kita yang gagal terus, tapi masih yakin jodoh akan datang naik ojol, bukan odong-odong.

Baca Juga
  • 01
    Essay
    BERHENTILAH MENYALAHKAN SEGALANYA
    15 Agu 2021
  • Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional - 2025 04 27 11 35 56 | # Ironi | Potret Online
    Essay
    Hijaukan Desa, Sehatkan Bangsa
    27 Apr 2025

Kita ini bangsa romantis. Percaya bahwa setiap luka bisa sembuh, asal direbus dengan daun kemerdekaan dan ditaburi sedikit garam perjuangan.

Namun, mari kita jujur dalam kesedihan yang filosofis ini. Apa yang sebenarnya kita rayakan setiap 20 Mei?
Apakah itu semangat? Apakah itu harapan?
Ataukah hanya formalitas tahunan yang dijadikan latar foto upacara agar feed Instagram tampak nasionalis?

Bangsa yang bangkit bukanlah bangsa yang bebas dari masalah. Tapi bangsa yang tetap menyeduh kopi, meski tahu harga gula sedang naik, dan tetap nyicil meski gaji belum naik.

Bangsa yang bisa tertawa dalam keterbatasan, dan menangis dalam diam ketika melihat pemimpinnya sibuk debat receh di televisi, sementara rakyat sibuk debat harga cabai di pasar.

Melankolis, iya. Karena kita rindu negeri yang lebih jujur. Yang tidak hanya bangkit di baliho, tapi juga di hati nurani.
Yang tidak hanya bersatu saat demo, tapi juga saat tetangga butuh pertolongan.

Dan di antara sarkasme-sarkasme kehidupan ini, aku tetap mencintai negeri ini. Seperti mencintai seseorang yang tidak sempurna, tapi membuatku percaya bahwa cinta bisa mengubah segalanya, meski butuh waktu, dan tentu saja, revisi anggaran.

Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya soal apa yang terjadi 117 tahun lalu. Tapi tentang hari ini. Tentang kamu yang masih memilih jujur meski hidup kadang seperti ujian open book yang bukunya hilang.

Tentang kita yang bangun pagi bukan karena semangat, tapi karena cicilan. Dan itu tidak apa-apa. Bangkit pun tidak harus heroik. Kadang, cukup dengan tidak menyerah.

Jadi, selamat Hari Kebangkitan Nasional.
Bangkitlah dengan cara apa pun. Dengan puisi, dengan kopi, dengan aksi, atau sekadar dengan senyum yang meski palsu, tapi tetap kamu berikan demi harapan yang tidak mati.

Karena seperti kata Chairil, sekali berarti, sesudah itu mati.
Tapi kalau bisa sih… sekali berarti, habis itu hidup enak, ya kan?

Karena kita bangsa yang kuat. Bangsa yang tahu rasanya pahit, tapi tetap suka yang manis. Dan yang paling penting. Kita bangsa yang bisa bangkit. Meski pelan, meski tersandung, tapi tetap… menuju pagi yang lebih terang.

Jakarta, 20 Mei 2025

Previous Post

Abu Syech Mud; Syekhul Masyayikh Ulama Dayah Aceh Periode Awal. 

Next Post

Mengejar Scopus, Melupakan Sufisme: Krisis Spiritualitas di Kalangan Cendekiawan Muslim

Next Post
Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | # Ironi | Potret Online

Mengejar Scopus, Melupakan Sufisme: Krisis Spiritualitas di Kalangan Cendekiawan Muslim

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah