• Latest
Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional - 2025 05 24 08 41 59 | # Ironi | Potret Online

Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional

Mei 24, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional

Redaksi by Redaksi
Mei 24, 2025
in # Ironi, #Aspirasi, #Kontemplasi, Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional - 2025 05 24 08 41 59 | # Ironi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Yoss Prabu

Hari Kebangkitan Nasional. Hari di mana bangsa ini katanya mulai bangun. Meski hingga hari ini, banyak dari kita yang masih lebih suka tidur siang daripada bangkit memperjuangkan nasib.

Bangkit itu melelahkan, Bung. Jauh lebih capek daripada rebahan sambil menonton drama Korea yang episodenya 16 tapi air matanya 160 liter.

Dulu, tahun 1908, para pendiri Boedi Oetomo mungkin tidak pernah menyangka bahwa seratus tahun kemudian, cucu-cicit bangsanya akan lebih semangat rebutan diskon di e-commerce daripada memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tapi ya, apa boleh buat. Bangsa ini memang puitis. Bahkan ketika sedang terpuruk pun, kita tetap bisa tertawa. Tertawa bukan karena bahagia, tapi karena kalau menangis terus, takut dibilang lebay oleh netizen +62 yang budiman.

“Kebangkitan Nasional” bukan hanya soal sejarah. Ini juga soal perasaan. Seperti saat kamu bangkit dari patah hati dan berkata, “Saya tidak akan menghubunginya lagi,” lalu lima menit kemudian, kamu mengetik, “Hai, udah makan?”

Bangkit itu bukan perkara berdiri, tapi soal keberanian untuk jatuh dan tetap ingin mencoba lagi. Seperti kisah cinta kita yang gagal terus, tapi masih yakin jodoh akan datang naik ojol, bukan odong-odong.

Kita ini bangsa romantis. Percaya bahwa setiap luka bisa sembuh, asal direbus dengan daun kemerdekaan dan ditaburi sedikit garam perjuangan.

Namun, mari kita jujur dalam kesedihan yang filosofis ini. Apa yang sebenarnya kita rayakan setiap 20 Mei?
Apakah itu semangat? Apakah itu harapan?
Ataukah hanya formalitas tahunan yang dijadikan latar foto upacara agar feed Instagram tampak nasionalis?

Bangsa yang bangkit bukanlah bangsa yang bebas dari masalah. Tapi bangsa yang tetap menyeduh kopi, meski tahu harga gula sedang naik, dan tetap nyicil meski gaji belum naik.

Bangsa yang bisa tertawa dalam keterbatasan, dan menangis dalam diam ketika melihat pemimpinnya sibuk debat receh di televisi, sementara rakyat sibuk debat harga cabai di pasar.

Melankolis, iya. Karena kita rindu negeri yang lebih jujur. Yang tidak hanya bangkit di baliho, tapi juga di hati nurani.
Yang tidak hanya bersatu saat demo, tapi juga saat tetangga butuh pertolongan.

Dan di antara sarkasme-sarkasme kehidupan ini, aku tetap mencintai negeri ini. Seperti mencintai seseorang yang tidak sempurna, tapi membuatku percaya bahwa cinta bisa mengubah segalanya, meski butuh waktu, dan tentu saja, revisi anggaran.

Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya soal apa yang terjadi 117 tahun lalu. Tapi tentang hari ini. Tentang kamu yang masih memilih jujur meski hidup kadang seperti ujian open book yang bukunya hilang.

Tentang kita yang bangun pagi bukan karena semangat, tapi karena cicilan. Dan itu tidak apa-apa. Bangkit pun tidak harus heroik. Kadang, cukup dengan tidak menyerah.

Jadi, selamat Hari Kebangkitan Nasional.
Bangkitlah dengan cara apa pun. Dengan puisi, dengan kopi, dengan aksi, atau sekadar dengan senyum yang meski palsu, tapi tetap kamu berikan demi harapan yang tidak mati.

Karena seperti kata Chairil, sekali berarti, sesudah itu mati.
Tapi kalau bisa sih… sekali berarti, habis itu hidup enak, ya kan?

Karena kita bangsa yang kuat. Bangsa yang tahu rasanya pahit, tapi tetap suka yang manis. Dan yang paling penting. Kita bangsa yang bisa bangkit. Meski pelan, meski tersandung, tapi tetap… menuju pagi yang lebih terang.

Jakarta, 20 Mei 2025

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | # Ironi | Potret Online

Mengejar Scopus, Melupakan Sufisme: Krisis Spiritualitas di Kalangan Cendekiawan Muslim

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com