POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home literasi digital

Pahlawan Dalam Pena

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Mei 17, 2025
in literasi digital, Penulis, Puisi Essay
0


Oleh: Ririe Aiko

(Puisi esai ini diangkat dari kisah nyata Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis dan pejuang kata yang berani melawan ketidakadilan meski terpenjara di Pulau Buru. Melalui puisinya, ia mengajarkan kepada anak muda bahwa keberanian dan suara kita—sekecil apapun—bisa menjadi senjata paling ampuh untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan.)

—000—

Baca Juga
  • Pahlawan Dalam Pena - 023811d8 1811 451a be46 774ad8cee8ff | literasi digital | Potret Online
    puasa
    Sujud Terakhir di Sepertiga Malam
    05 Mar 2025
  • Pahlawan Dalam Pena - 2025 08 11 06 38 05 | literasi digital | Potret Online
    Puisi Essay
    Sebait Puisi, Secangkir Kopi
    11 Agu 2025

Di balik jeruji yang memagut siang,
di bawah langit Buru yang kehilangan puisi,
seorang lelaki menulis dengan luka,
untuk sejarah yang retak oleh darah.

Tangannya tak menggenggam pena,
melainkan kisah yang dibisikkan dari rongga kenangan—
ia bercerita kepada tanah, kepada malam,
dan kepada sunyi yang menolak lupa.

Baca Juga
  • Pahlawan Dalam Pena - IMG 20250227 WA0008 | literasi digital | Potret Online
    Anak
    Jangan Pukuli Anakmu
    27 Feb 2025
  • Pahlawan Dalam Pena - 1000490000_11zon | literasi digital | Potret Online
    Puisi Essay
    Lautan Darah dan Susu yang Kering
    09 Apr 2025

Pramoedya—bukan sekadar nama,
melainkan gema sunyi yang tak bisa dibungkam.
Ia menjelma gelombang dari samudra batin,
mengempas karang kekuasaan
yang mencoba memadamkan bara kebenaran.¹

—000—

Baca Juga
  • Pahlawan Dalam Pena - ed065a95 7763 4619 b58f ff60448fb329 | literasi digital | Potret Online
    POTRET Budaya
    Di Balik Langkah Guru Nias
    20 Jan 2025
  • Pahlawan Dalam Pena - IMG 20250427 WA0011 | literasi digital | Potret Online
    #Pendidikan
    Tong Sampah, Lampu Tenaga Surya dan Literasi
    27 Apr 2025

Ia tak lahir di istana ber sendok perak,
melainkan dari debu dan kelaparan,
di kota kecil bernama Blora,
tempat kemiskinan adalah puisi pertamanya.²

Ayahnya guru yang dibungkam,
ibunya menenun harapan dengan cucuran keringat.
Pram kecil belajar dari batu dan angin,
dari jalan setapak yang lebih jujur
daripada bangku sekolah para penjajah.

Ia menulis karena hidup terlalu bisu,
dan dunia terlalu beku untuk keadilan.
Ia menulis karena tak ada jalan lain—
selain menyuarakan yang disumpal diam.

Menjadi penulis di negeri ini
adalah menandatangani luka sebagai halaman utama.
Karyanya disita, tubuhnya dibuang,
namanya dicoret dari peta warga.³

Namun meski pena dirampas,
ia tetap menulis dengan suara.
Bumi Manusia lahir di antara jeruji,
huruf demi huruf menjalar dari mulut ke mulut,
hidup di kepala para tahanan,
sebab dalam gelap,
cerita adalah lentera yang tak bisa padam.

—000—

“Menulis adalah perlawanan,” katanya,
dan benar—kata-katanya lebih tajam dari peluru,
lebih mengakar dari propaganda.
Ia menulis bukan untuk harta,
bukan untuk puja-puji,
tapi agar anak negeri tahu:
diam tak selalu emas.

Untuk keadilan,
kita harus berdiri—meski sendiri.

Pram adalah bukti bahwa
penulis tak butuh meja megah
atau ruang kerja mentereng.
Yang dibutuhkan hanyalah satu:
keberanian seorang pahlawan dalam dada.

—000—

Kini namanya abadi dalam buku sejarah,
karyanya menyeberang benua,
tapi lebih dari itu—
ia menanam pada kita:
bahwa suara bisa tetap nyaring
meski tubuh dibungkam,
dan dalam sunyi,
kata-kata tetap tumbuh seperti pohon
yang akarnya menembus
batu paling keras
bernama ketidakadilan.

—000—

CATATAN:

¹ Pramoedya Ananta Toer dipenjara selama lebih dari 14 tahun tanpa pengadilan oleh rezim Orde Baru karena karya dan pandangan politiknya yang dianggap subversif.
² Blora, kota kelahiran Pram di Jawa Tengah, menjadi sumber inspirasi banyak karya awalnya yang merekam realitas sosial masyarakat kelas bawah.
³ Di Pulau Buru, meski dilarang menulis, Pram menciptakan Bumi Manusia secara lisan, yang kemudian disalin oleh tahanan lain dari ingatan, memperlihatkan daya hidup kisah dalam penindasan.

Previous Post

Pendidikan Tak Butuh Manutan, Tapi Terobosan

Next Post

Nenek Gila

Next Post

Nenek Gila

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah