Dengarkan Artikel
Oleh: Ririe Aiko
(Puisi esai ini diangkat dari kisah nyata Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis dan pejuang kata yang berani melawan ketidakadilan meski terpenjara di Pulau Buru. Melalui puisinya, ia mengajarkan kepada anak muda bahwa keberanian dan suara kita—sekecil apapun—bisa menjadi senjata paling ampuh untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan.)
—000—
Di balik jeruji yang memagut siang,
di bawah langit Buru yang kehilangan puisi,
seorang lelaki menulis dengan luka,
untuk sejarah yang retak oleh darah.
Tangannya tak menggenggam pena,
melainkan kisah yang dibisikkan dari rongga kenangan—
ia bercerita kepada tanah, kepada malam,
dan kepada sunyi yang menolak lupa.
Pramoedya—bukan sekadar nama,
melainkan gema sunyi yang tak bisa dibungkam.
Ia menjelma gelombang dari samudra batin,
mengempas karang kekuasaan
yang mencoba memadamkan bara kebenaran.Âą
—000—
Ia tak lahir di istana ber sendok perak,
melainkan dari debu dan kelaparan,
di kota kecil bernama Blora,
tempat kemiskinan adalah puisi pertamanya.²
Ayahnya guru yang dibungkam,
ibunya menenun harapan dengan cucuran keringat.
Pram kecil belajar dari batu dan angin,
dari jalan setapak yang lebih jujur
daripada bangku sekolah para penjajah.
📚 Artikel Terkait
Ia menulis karena hidup terlalu bisu,
dan dunia terlalu beku untuk keadilan.
Ia menulis karena tak ada jalan lain—
selain menyuarakan yang disumpal diam.
Menjadi penulis di negeri ini
adalah menandatangani luka sebagai halaman utama.
Karyanya disita, tubuhnya dibuang,
namanya dicoret dari peta warga.Âł
Namun meski pena dirampas,
ia tetap menulis dengan suara.
Bumi Manusia lahir di antara jeruji,
huruf demi huruf menjalar dari mulut ke mulut,
hidup di kepala para tahanan,
sebab dalam gelap,
cerita adalah lentera yang tak bisa padam.
—000—
“Menulis adalah perlawanan,” katanya,
dan benar—kata-katanya lebih tajam dari peluru,
lebih mengakar dari propaganda.
Ia menulis bukan untuk harta,
bukan untuk puja-puji,
tapi agar anak negeri tahu:
diam tak selalu emas.
Untuk keadilan,
kita harus berdiri—meski sendiri.
Pram adalah bukti bahwa
penulis tak butuh meja megah
atau ruang kerja mentereng.
Yang dibutuhkan hanyalah satu:
keberanian seorang pahlawan dalam dada.
—000—
Kini namanya abadi dalam buku sejarah,
karyanya menyeberang benua,
tapi lebih dari itu—
ia menanam pada kita:
bahwa suara bisa tetap nyaring
meski tubuh dibungkam,
dan dalam sunyi,
kata-kata tetap tumbuh seperti pohon
yang akarnya menembus
batu paling keras
bernama ketidakadilan.
—000—
CATATAN:
Âą Pramoedya Ananta Toer dipenjara selama lebih dari 14 tahun tanpa pengadilan oleh rezim Orde Baru karena karya dan pandangan politiknya yang dianggap subversif.
² Blora, kota kelahiran Pram di Jawa Tengah, menjadi sumber inspirasi banyak karya awalnya yang merekam realitas sosial masyarakat kelas bawah.
Âł Di Pulau Buru, meski dilarang menulis, Pram menciptakan Bumi Manusia secara lisan, yang kemudian disalin oleh tahanan lain dari ingatan, memperlihatkan daya hidup kisah dalam penindasan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini




