• Latest

Pahlawan Dalam Pena

Mei 17, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Pahlawan Dalam Pena - 1001348646_11zon | literasi digital | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

April 21, 2026
Pahlawan Dalam Pena - 1001353319_11zon | literasi digital | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Pahlawan Dalam Pena - 1001361361_11zon | literasi digital | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Pahlawan Dalam Pena

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Mei 17, 2025
in literasi digital, Penulis, Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Oleh: Ririe Aiko

(Puisi esai ini diangkat dari kisah nyata Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis dan pejuang kata yang berani melawan ketidakadilan meski terpenjara di Pulau Buru. Melalui puisinya, ia mengajarkan kepada anak muda bahwa keberanian dan suara kita—sekecil apapun—bisa menjadi senjata paling ampuh untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan.)

—000—

Baca Juga
  • Ketulusan di Jalan Setapak dan Ketamakan di Singgasana
  • Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Di balik jeruji yang memagut siang,
di bawah langit Buru yang kehilangan puisi,
seorang lelaki menulis dengan luka,
untuk sejarah yang retak oleh darah.

Tangannya tak menggenggam pena,
melainkan kisah yang dibisikkan dari rongga kenangan—
ia bercerita kepada tanah, kepada malam,
dan kepada sunyi yang menolak lupa.

Baca Juga
  • Ketika Sepucuk Surat Luka Terdampar di Pantai Pasir Putih‎
  • Puasa, Lapar, dan Makna Sabar

Pramoedya—bukan sekadar nama,
melainkan gema sunyi yang tak bisa dibungkam.
Ia menjelma gelombang dari samudra batin,
mengempas karang kekuasaan
yang mencoba memadamkan bara kebenaran.Âą

—000—

Baca Juga
  • Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel
  • Api di Selatan, Duka di Langit

Ia tak lahir di istana ber sendok perak,
melainkan dari debu dan kelaparan,
di kota kecil bernama Blora,
tempat kemiskinan adalah puisi pertamanya.²

Ayahnya guru yang dibungkam,
ibunya menenun harapan dengan cucuran keringat.
Pram kecil belajar dari batu dan angin,
dari jalan setapak yang lebih jujur
daripada bangku sekolah para penjajah.

Ia menulis karena hidup terlalu bisu,
dan dunia terlalu beku untuk keadilan.
Ia menulis karena tak ada jalan lain—
selain menyuarakan yang disumpal diam.

Menjadi penulis di negeri ini
adalah menandatangani luka sebagai halaman utama.
Karyanya disita, tubuhnya dibuang,
namanya dicoret dari peta warga.Âł

Namun meski pena dirampas,
ia tetap menulis dengan suara.
Bumi Manusia lahir di antara jeruji,
huruf demi huruf menjalar dari mulut ke mulut,
hidup di kepala para tahanan,
sebab dalam gelap,
cerita adalah lentera yang tak bisa padam.

—000—

“Menulis adalah perlawanan,” katanya,
dan benar—kata-katanya lebih tajam dari peluru,
lebih mengakar dari propaganda.
Ia menulis bukan untuk harta,
bukan untuk puja-puji,
tapi agar anak negeri tahu:
diam tak selalu emas.

Untuk keadilan,
kita harus berdiri—meski sendiri.

Pram adalah bukti bahwa
penulis tak butuh meja megah
atau ruang kerja mentereng.
Yang dibutuhkan hanyalah satu:
keberanian seorang pahlawan dalam dada.

—000—

Kini namanya abadi dalam buku sejarah,
karyanya menyeberang benua,
tapi lebih dari itu—
ia menanam pada kita:
bahwa suara bisa tetap nyaring
meski tubuh dibungkam,
dan dalam sunyi,
kata-kata tetap tumbuh seperti pohon
yang akarnya menembus
batu paling keras
bernama ketidakadilan.

—000—

CATATAN:

Âą Pramoedya Ananta Toer dipenjara selama lebih dari 14 tahun tanpa pengadilan oleh rezim Orde Baru karena karya dan pandangan politiknya yang dianggap subversif.
² Blora, kota kelahiran Pram di Jawa Tengah, menjadi sumber inspirasi banyak karya awalnya yang merekam realitas sosial masyarakat kelas bawah.
Âł Di Pulau Buru, meski dilarang menulis, Pram menciptakan Bumi Manusia secara lisan, yang kemudian disalin oleh tahanan lain dari ingatan, memperlihatkan daya hidup kisah dalam penindasan.

Share234SendTweet146Share
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Next Post

Nenek Gila

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com