• Latest

Educate Your Son: Sebuah Bisikan Lembut yang Mengajak Kita Berpikir

Mei 13, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Educate Your Son: Sebuah Bisikan Lembut yang Mengajak Kita Berpikir

Sindi Hazirahby Sindi Hazirah
Mei 13, 2025
Reading Time: 2 mins read
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Sindi Hazirah

Akhir-akhir ini, tagar #EducateYourSon ramai menghiasi linimasa media sosial. Sebuah kalimat sederhana yang ternyata menyimpan begitu banyak luka, harapan, dan keinginan untuk berubah. Tagar ini bukan seruan kemarahan semata, tapi lebih dari itu—ia adalah doa, permintaan, dan ajakan dari para perempuan di seluruh dunia agar dunia menjadi tempat yang sedikit lebih aman.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Selama ini, perempuan sering diajari untuk menjaga diri. Mulai dari cara berpakaian, jam keluar rumah, bahkan cara berbicara. Tapi mengapa hanya mereka yang diajari untuk takut? Mengapa hanya mereka yang diperingatkan tentang bahaya, sementara anak laki-laki jarang—atau bahkan tidak pernah—diajak bicara tentang bagaimana menjadi manusia yang tidak menjadi bahaya bagi orang lain?

Di balik tagar itu, ada cerita. Cerita tentang perempuan yang disalahkan karena bajunya. Tapi pernahkah kita mendengar tentang Museum What Were You Wearing di Amerika? Sebuah ruang pameran yang menghadirkan pakaian-pakaian asli dari para penyintas kekerasan seksual. Di sana, tergantung rapi: seragam sekolah, baju tidur panjang, jeans longgar, baju anak-anak, bahkan piyama bayi. Semua pakaian itu dikenakan oleh korban saat mereka diserang. Melihatnya membuat kita terdiam. Membuat kita bertanya ulang: apakah benar pakaianlah penyebabnya?

Dan ini bukan hanya cerita di luar negeri. Di Indonesia pun, kita pernah mendengar kasus seorang anak perempuan berusia 13 tahun di Bengkulu yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 pria. Atau kasus pelecehan oleh oknum guru pesantren kepada belasan santriwati. Semua ini terjadi bukan karena pakaian, bukan karena malam hari, dan bukan karena korban “mengundang”.

Sistem pendidikan kita—baik di rumah, di sekolah, maupun di tempat ibadah—masih condong pada satu sisi. Anak perempuan terus diingatkan untuk tunduk dan menutup aurat. Tapi kepada anak laki-laki, jarang ada nasihat tentang pentingnya menghormati, tentang batasan, tentang consent. Ini bukan kesalahan satu orang, tapi cerminan dari budaya yang sudah mengakar lama.

Namun, tulisan ini bukan untuk menghakimi laki-laki. Karena kami percaya, tidak semua laki-laki sama. Ada banyak laki-laki yang juga marah dan muak melihat berita-berita kekerasan terhadap perempuan. Ada yang diam-diam menyimpan rasa bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa. Ada yang mengajari anak laki-lakinya untuk lembut, sopan, dan menghargai perempuan.

Maka dari itu, Educate Your Son bukan hanya ajakan untuk para ibu dan ayah, tapi untuk seluruh masyarakat. Ajarkan anak laki-laki bahwa menjadi kuat bukan berarti mendominasi. Ajarkan bahwa menjadi laki-laki bukan berarti berhak atas tubuh orang lain. Dan ketika ada yang melanggar, jangan lindungi mereka dari konsekuensi. Karena selama ini, korbanlah yang selalu menanggung rugi—secara sosial, emosional, dan kadang fisik. Pelaku terlalu sering diberi alasan, dimaklumi, bahkan dibela.

ADVERTISEMENT

Kita bisa memulai dari hal kecil: mengubah cara kita berbicara, cara kita menegur, dan cara kita mendidik. Kita bisa menciptakan dunia di mana anak perempuan tidak lagi tumbuh dengan rasa takut, dan anak laki-laki tidak lagi dibebani standar maskulinitas yang salah arah. Karena ketika kita benar-benar mendidik anak laki-laki, kita sedang melindungi anak perempuan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com