• Latest
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera - 2025 05 14 08 13 46 | # Ironi | Potret Online

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera

Mei 14, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Mei 14, 2025
in # Ironi, # Perlindungan Guru, Guru, organisasi guru
Reading Time: 2 mins read
0
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera - 2025 05 14 08 13 46 | # Ironi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Ririe Aiko

Tidak dapat dimungkiri, profesi guru di Indonesia masih belum mendapatkan penghargaan yang setimpal. Banyak lulusan pendidikan yang menempuh jalur kuliah dengan biaya puluhan juta rupiah, namun ketika mereka lulus dan mengabdi sebagai guru, gaji yang diterima justru tak lebih dari tiga juta rupiah per bulan. Realitas ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi guru di negara-negara maju, di mana profesi ini dihargai dengan gaji tinggi dan berbagai fasilitas pendukung yang memadai.

Di Amerika Serikat, Kanada, Australia, bahkan Jerman, gaji guru berkisar antara 700 juta hingga lebih dari satu miliar rupiah per tahun. Selain itu, mereka juga menerima pelatihan rutin, jaminan kesehatan, serta sistem pensiun yang menjamin kesejahteraan di masa tua. Semua ini menunjukkan bahwa di negara-negara tersebut, guru dipandang sebagai investasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia.

Namun di Indonesia, penghargaan terhadap guru masih sering terjebak dalam narasi usang: “pahlawan tanpa tanda jasa.” Frasa ini terdengar mulia, tetapi dalam praktiknya justru menjadi legitimasi untuk membiarkan guru hidup dalam ketidakpastian. Guru tetap harus makan. Mereka punya keluarga yang harus dinafkahi, anak yang harus disekolahkan, dan hidup yang layak untuk diperjuangkan. Bagaimana mungkin mereka bisa mengajar dengan optimal jika ongkos transportasi pun tak mampu ditanggung dari honor yang diterima?

Lebih ironis lagi, ketika guru diminta bekerja dengan semangat ibadah dan ikhlas tanpa pamrih, mereka yang hidup berkecukupan di kursi kekuasaan justru bergelimang fasilitas negara. Jika benar kerja tanpa pamrih adalah nilai luhur, mengapa tidak diterapkan lebih dulu kepada para elite politik yang sudah hidup sejahtera? Mengapa bukan mereka yang lebih dahulu diminta bekerja untuk pahala, sementara profesi yang justru paling penting untuk mencerdaskan bangsa dibiarkan bergulat dengan kemiskinan?

Salah satu akar dari ketimpangan ini adalah lemahnya komitmen terhadap pendidikan serta budaya korupsi yang masih mengakar. Anggaran yang seharusnya digunakan untuk menyejahterakan guru dan memperbaiki kualitas pendidikan, justru sebagian besar terserap dalam praktik penyelewengan yang sistemik.

Sudah saatnya Indonesia keluar dari narasi retoris dan mulai berpikir secara rasional dan adil: guru adalah pilar utama dalam membangun masa depan bangsa. Menghargai mereka bukan hanya soal moralitas, tetapi juga tentang logika pembangunan. Jika ingin menghasilkan generasi unggul, maka negara harus mulai dari memastikan para pendidik kita hidup dengan layak dan dihormati secara nyata—bukan hanya lewat slogan.

Share234SendTweet146Share
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Next Post
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera - 2025 05 08 06 32 28 | # Ironi | Potret Online

Ijazah Pak Jokowi, Masalah sangat Serius

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com