Dengarkan Artikel
KETIKA KITA TUA
rasanya, seperti tiba-tiba
uban merata di kepala
kerut keriput ingin tak percaya
terlukis di sekujur raga
masih tak percaya
di depan cermin kita terus bertanya
:sejak berapa lama?
padahal seperti baru saja kita bergembira ria
bersama adu tenaga di panggung laga
sorak-sorai membahana
puja-puji menggema
sampai segenap angkasa
penuh bangga
tapi kini tak lagi tersisa
lagi-lagi tak percaya
kita terus bertanya
:ke mana perginya?
inginnya kita, waktu tak bisa mengubah
yang sudah megah
walau bilangan bertambah
tapi yang ada tetap tak tergoyah
tapi siapa mampu mencegah?
:sesuatu bisa berubah sudah menjadi fitrah
waktu akan terus melaju
walau tanpa dipacu
tapi ingatan kadang rasanya terselip entah di mana
ketika sadar, kita seperti tiba-tiba menjadi tua
:haruskah kita ingkari dan tak menerima?
tua
renta
tiada
adalah niscaya
tapi tua tak semata usia
tak hanya sebatas angka
tapi juga pada rasa
jika tua tak sadar pada usia
salah-salah langkah bisa tak terarah keluar peta
anak cucu dan keluarga bisa menanggung cela
kehilangan muka
masih menunggu ajal kita ketakutan karena diburu neraka
tua tak harus bersembunyi dari dunia, bertapa
tapi sadar diri menempatkan tiap tindak pada sang bijaksana
agar kelak kehadiran maut menghembuskan harum surga
dan dunia sekitar mengenang kita
seolah kita selalu ada
selamanya
Kumendung, 18 Maret 2025
KETIKA SUDAH RENTA
ketika sudah renta
janganlah lagi menentang cuaca
saatnya hati berdamai dengan raga
karena ingin
tak pernah habis tersapu angin
Kumendung, 18 Maret 2025
CATATAN LAIN DI HARI TUA:
di hari tua
yang pasti hanya kematian
selebihnya masih teka-teki
waktu teronggok sendiri
menunggu di sudut hari
memangkas usia
tak ada lagi tawa itu
bunga-bunga telah terkubur
tak ada lagi yang gugur
bayang-bayang semakin kabur
ditinggal cahaya
sesekali mimpi mengaca
semakin sirna
di jalan-jalan
yang ada hanya kenangan
terbata-bata menyembul
tak ingin hilang
menguntit jalan pulang
di hari tua ini
masa depan yang lama tersimpan
adalah harapan akan surga dan menghindari neraka
tapi siapa bisa membaca takdir sang maha kuasa?
karena di hadapan
yang terbentang tak selalu nyata
kadang hanya ilusi
📚 Artikel Terkait
selebihnya adalah cerita
bisa jadi juga sia-sia
seperti kumpulan kabut pagi sebelum menjelma tetes embun
terpanggang matahari
maka biarkan semua lewat dan berlalu seperti lainnya
tanpa silang sengketa dengan kata dan tata
agar segala yang ada bisa menjadi doa
Kumendung, Maret 2025
YANG KUINGIN DI MASA TUA INI
aku si tua dungu yang miskin ilmu
di usia ambang purna ini
yang kuingin menikmati hari-hari tanpa beban berarti
bila dari setetes air laut bisa kucicip asin pahitnya
tak akan aku berbasah-basah menyelam
untuk merasakan asinnya air laut di dasar
apalagi merenangi seluruh samudra
untuk sekedar mencicip
seberapa beda kadar garam
di masing-masing air laut berendam
tak akan pernah lagi aku impikan
dari lenganku tumbuh bulu-bulu sayap
yang bisa membawaku terbang
mengarungi angkasa, melanglang mengitari dunia
pun tak ingin kubayangkan
berdiri di panggung tinggi
sekeliling gegap gempita
sorak- sorai
menyanjung-memuji
di usia tua ambang purna di kehidupan ini
yang kuingin
menikmati hari-hari tanpa beban berarti
sambil menunggu usainya waktu
Muncar, 9 Januari 2025
CATATAN DI HARI TUA
tua
renta
tiada
adalah sebuah niscaya
tak semata usia
ajal tak mengenal angka
tak melihat rupa
tapi tua siaga
menuju purna hidup di dunia
sungguh langkah bijaksana
karena ajal tak mengenal angka
tak melihat rupa
Kumendung, 18 Desember 2024
DI HARI TUA
kita menua
tak lagi terhitung uban di kepala
sudah merata
ingatan timbul tenggelam
terbenam lupa
kenangan sebagian masih
ada yang terasa baru
juga keinginan
tak sedikit yang sia-sia
tinggal berserakan
terlupakan
terkubur waktu
masihkah terpikir mengais yang tertinggal?
mencatat kembali rencana-rencana yang pernah ada?
lalu apa?
usia?
kematian?
barangkali cukup dibiarkan
sebagian
mengikuti waktu
mengeja pergantian cuaca
di luar jendela menganga
timbul tenggelam
luruh di sisa hari
lalu duduklah!
diamlah!
tidurlah!
tanpa keluh kesah
bukankah sudah lebih kemarin berulah?
saatnya jeda tanpa tanya
sudah waktunya
Kumendung, 17 Desember 2024
HARI-HARI AKHIR SEORANG LANSIA
i
yang dirindu-diimpikan di hari tua
kegembiraan di tengah keluarga
menikmati hari-hari dengan rasa senang
duduk di beranda mengenang masa-masa silam
di halaman melihat burung-burung terbang
memandang warna-warna alam
tapi hidup kadang begitu liar
di luar kendali dan nalar
siang malam rindu berhenti di ambang pintu
menunggu canda tawa anak cucu
tinggal melaju terlewati waktu
tubuh kian renta terseret usia
rindu menggebu-gebu tak juga terpadamkan
mimpi tak lelah-tak bosan memburu kenyataan
ii
pada akhirnya tinggal sendiri
menghabiskan hari-hari
lewati detik demi detik
mimpi tak ada lagi
angan pun percuma
hanya kenangan
melintas-lintas senantiasa
tak lebih dari sekedar ingatan
karena waktu tak akan kembali
dalam sepi sendiri
yang pasti menunggu mati
karena merindukan keriuhan anak cucu
hanya ingin yang tertiup angin
sementara canda tawa kerabat dan teman sejawat
telah lalu di masa yang lewat
di hari-hari yang tinggal
usia makin akrab berteman ajal
yang setiap saat siap memenggal
sampai maut menjemput
tak juga bersua yang diidamkan
Kumendung, 2024 BIODATA:
Gimien Artekjursi
Lahir: 03 Agustus 1963
Alamat: Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur
Puisi-puisi tampil di media cetak dan online di Indonesia dan pada beberapa antologi bersama.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





