• Latest
3CC76FD1-A18E-4D97-8EE4-8BFDFB731688_11zon

Batu Cave, Bukti Kental Keberagaman Negeri Seberang, Malaysia

Maret 20, 2022
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Batu Cave, Bukti Kental Keberagaman Negeri Seberang, Malaysia - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Catatan Perjalanan | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Batu Cave, Bukti Kental Keberagaman Negeri Seberang, Malaysia - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Catatan Perjalanan | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
3CC76FD1-A18E-4D97-8EE4-8BFDFB731688_11zon

Batu Cave, Bukti Kental Keberagaman Negeri Seberang, Malaysia

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Maret 20, 2022
in Catatan Perjalanan, Citizen reporter, Jalan-Jalan, Malaysia, Reportase, Traveling
Reading Time: 6 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Tabrani Yunis

Ada sebuah pepatah lama yang seringkali kita dengar di tengah-tengah masyarakat kita, walau sekarang pepatah itu mungkin sudah memudar di telinga kita, sejalan dengan perubahan zaman. Pepatah itu berbunyi, “ Jauh berjalan, banyak dilihat. Lama hidup, banyak dirasa”. Artinya, semakin jauh kita berjalan dan menjalani kehidupan, semakin banyak yang dapat kita lihat atau saksikan. Semakin lama kita hidup, maka semakin banyak hal yang kita rasakan dan kita alami. Pejalanan dan kehidupan yang jauh dan lama itu, akan lebih bermakna apabila bisa memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Termasuk perjalanan yang sedang aku dan anak-anak berserta istriku lakukan saat ini.

 Apa yang sedang aku lakukan lewat tulisan ini adalah membuat perjalanan atu tour ke dua Negara bersama dua anakku, Ananda Nayla dan Aqila Azalea Tabrani Yunis serta isteriku Mursyidah Ibrahim, bisa menambah banyak apa yang dilihat, bisa menambah banyak yang bisa dinikmati. Lalu, agar the traveling literacy ini lebih bermakna dan bermanfaat, semua yang dilihat, didengar, dinikmati selama dalam perjalanan yang hanya empat hari ini, aku abadikan dalam tulisan, sebagai pengganti oleh-oleh yang biasanya dalam bentuk barang atau benda. Oleh-oleh yang diberikan kepada teman, sahabat, saudara dan kerabat yang kerap bertanya atau meminta oleh-oleh atau souvenir dari sebuah daerah atau sebuah Negara.

Untuk membeli banyak souvenir atau oleh-oleh di luar negeri, tentu bukan hal yang cukup berat bagi banyak orang, termasuk aku dan keluarga, karena terbatasnya kemampuan finansial dan perbedaan kurs mata uang kita, yakni Rupiah yang nilainya jauh lebih rendah dibandingkan negera-negera lain, seperti di Malaysia dan Singapore. Selain keterbatasan dan perbedaan nilai tukar mata uang, ada persoalan lain yang selalu kita hindari agar jumlah barang yang kita belanjakan tidak membuat bagasi kita overload.  Kalau overload, risikonya adalah akan menambah besar biaya bagasi yang kita bawa. Masalahnya, bagasi kita di pesawat itu mahal. Oleh sebab itu, Aku jadikan tulisan ini sebagai oleh-oleh atau souvenir yang bisa dibagi kepada banyak orang, tanpa harus mengeluarkan dana yang besar. Selain itu, tulisan ini menjadi catatan bagi kedua anakku yang masih kecil. Paling tindak, nanti ketika mereka besar, mereka tidak mengetahui semua objek wisata yang pernah dikunjungi, lewat tulisan ini bisa menjadi pengingat buat mereka. Begitulah caraku membuat pernajalan ke sebuah daerah atau Negara.

Ini adalah perjalanan traveling literacyhari kedua yang diawali dengan mengunjungi The River of life, dekat lapangan Merdeka, Kuala Lumpur dan dilanjutkan dengan mengunjungi Chocolate Kingdom, pusat souvenir coklat yang terkenal di Kuala Lumpur.  Dua tempat yang memberikan pembelajaran yang berbeda. Pesona dan pembelajaran The River of Life, yang memberikan banyak pelajaran tersebut, sudah aku tulis dan posting di Kompasiana dua hari lalu. Sementara the Chocolate Kingdom, menjadi bagi dari tulisan ini.

The chocolate Kingdom, bagiku bukan tempat yang cukup menarik bagiku untuk aku kunjungi, tetapi berbeda dengan kedua anakku, Ananda Nayla dan Aqila Azalea Tabrani Yunis. Bagi mereka, melihat coklat, apalagi berada di dalam chocolate kingdom, mereka merasa histeris dan ingin bisa membeli coklat sebanyak-banyaknya. Mereka, belum mengerti makna perbedaan harga dalam ringgit dengan rupiah. Apalagi ketika mereka melihat harga coklat hanya 150 ringgit, lalu dalam benan mereka ya sama saja dengan Rp 150,-. Padahal tidak.

Baca Juga

96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
Batu Cave, Bukti Kental Keberagaman Negeri Seberang, Malaysia - b6289e1a eb61 415d 94ae e0fc6df54356 | Catatan Perjalanan | Potret Online

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Batu Cave, Bukti Kental Keberagaman Negeri Seberang, Malaysia - 9477a530 dcd1 4dfb 9431 9f7c91f8f78b | Catatan Perjalanan | Potret Online

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Maret 2, 2026

Bagiku, walau bukan tempat menarik, tetapi hasil amatan atau survey selama berada di dalam Chocolate kingdom itu. Pertanyaan pertama yang keluar di benakku adalah dari mana mereka memperoleh  bahan coklat hingga bisa memproduksi ckolat dalam jumlah besar seperti itu. Apakah coklatnya memang dari buah coklat yang ditanam di Malaysia, atau dari negara lain, seperti Indonesia? Pertanyaan ini muncul, karena aku teringat dengan pengalamanku berkunjung ke pabrik coklat di Swiss pada bulan Agustus 2005. Pertanyaan yang sama, adalah dari mana bahan baku kakao untuk membuat coklat di Swiss itu. Aku yakin, bahwa banyak bahan kakao untuk membuat coklat itu datang dari negaraku Indonesia. Ya, sudahlah. Tapi ini adalah pelajaran penting. Walau sebuah Negara tidak mempunya tanaman kakao di negaranya, tetapi mereka bisa menanam kakoa di negera lain, termasuk Indonesia. Ya lihat saja bagaimana mereka menanam sawit di tempat kita. Atas nama investasi, apapun bisa dilakukan. Selain itu, aku juga melihat, siapa yang paling menggeliat dalam menjalankan binis seperti the chocolate kingdom ini. Orang Melayu? Hmm, tunggu dulu.

Hal kedua yang menjadi catatan penting bagiku adalah bagaimana the chocolate kingdom menjual produk coklatnya yang dibeli oleh setiap pengunjung yang datang berombongan dan silih berganti. Aku membayangkan banyaknya omset penjualan yang hanya dengan mendatangak para wisatawan ke tempat itu. Maka, ketika melihat ramainya wisatwan yang datang, aku kala berada di ruang-ruang display coklat di the Chocolate Kingdom, pikiraanku melayang ke Aceh. Ya, pabrik coklat Socolate di Paru, Pidie jaya, Aceh. Ya, andai saja  orang datang ke pabrik coklat di Paru, Pidie jaya itu seperti yang datang ke the Chocolate Kingdom itu, pasti pabtik coklat di Paru, Pidie jaya itu akan benar-benar Berjaya.

Nah, tulisan ini sebenarnya bukan ingin bercerita panjang lebar tentang the chocolate kingdom itu, tetapi tentang banyak hal lain. Tentu saja tentang semua objek wisata yang telah dan bakal dikunjungi termasuk batu cave.

Usai berbelanja coklat di The Chocolate Kingdom bersama rombongan tour yang dilakukan oleh Alsa Travel ini, bus persiaran yang kami tumpangi melaju meninggalkan kota Kuala Lumpur. Bus Persiaran melaju dengan cepat dan lancar lewat jalan yang tidak berlubang-lubang itu. Kami bergerak menuju sebuah objek wisata sejarah yang dikenal dengan gua batu atau batu cave. Sebuah objek wisata yang ramai dikunjungi orang. Konon, tempat ini disebut-sebut sebagai tempat wisata yang sangat popular di Selangor, Malaysia.

Ketika bus persiaran mendekat dengan batu cave, dari kejauhan tampak sebuah patung besar berwarna emas berdiri tegak di sebelah kanan jalan yang kami lewati. Tampak banyak sekali orang yang datang berkunjung ke tempat ini. Terbukti, batu cave sebagai lokasi kuil Hindu, Batu cave  mampu menarik perhatian ribuan umat dan terutama selama festival tahunan agama Hindu, Thaipusam. 

Menurut informasi yang terkumpul,  Batu cave yang berbentuk bukit kapur yang terletak sebelah utara Kuala Lumpur, mempunyai tiga gua utama yang berfungsi sebagai kuil dan tempat pemujaan agama Hindu. Maka, ketika kita masuk ke objek wisata ini, banyak orang tertarik untuk melihat tangga dan kuil yang berwarna warni, dibangun dengan sangat sarat nilai seni. Sebuah patung besar yang terletak dekat tangga besar dan tinggi itu, menjadi daya tarik bagi pengunjung. Maka, disebutkan bahwa atraksi utamanya adalah patung dewa Hindu yang besar di pintu masuk, selain tangga curam sebanyak 272 anak tangga untuk bisa melihat cakrawala pusat kota yang menawan.  Bahkan di sini, monyet-monyet banyak bermain-main di sekitar gua, dan tempat ini juga populer untuk panjat tebing. Lukisan dan gambar adegan Dewa-Dewi Hindu juga bisa dilihat di dalam Gua Ramayana.

Keberadaan gua batu atau Batu Cave, di negeri jiran ini merupakan bukti bangsa Malaysia itu multi etnis, multi agama dan juga multi budaya dan bahkan tingkat kehidupan.  Hal ini bisa kita saksikan di setiap sudut negeri jiran, Malaysia ini yang salah satunya adalah Batu Cave yang merupakan peninggalan sejarah masuknya bangsa India yang menempati gua di Malaysia. Maka, tidak heran, apabila di lingkungan atau wilayah gua ini banyak dihuni oleh orang-orang keturunan India. mereka menjual bunga, membuka usah lainnya dan juga sebagai pengelola tempat ini. Keberadaan mereka merupakan kekayaan budaya bangsa Malaysia, yang hingga kini terus terjaga dan menjadi objek wisata yang dikunjungi oleh ribuan orang setiap hari. Tidak ubahnya seperti apa yang kita saksikan di candi Borobudur di negeri kita, yang sangat besar tersebut.

 

 

ADVERTISEMENT

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 365x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 213x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Batu Cave, Bukti Kental Keberagaman Negeri Seberang, Malaysia - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Catatan Perjalanan | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Next Post

Jinakan Rindu Tuhan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com