• Latest

Mengapa Tuhan Tak Menjodohkan Kita(hening malam)

April 29, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mengapa Tuhan Tak Menjodohkan Kita(hening malam)

Redaksiby Redaksi
April 29, 2025
Reading Time: 3 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Luhur Susilo
(Guru SMPN 1 Sambong, Blora)

Kamu,
adalah nama terakhir yang kupinta dalam gelap.

Namun yang turun,
hanya sunyi.

Barangkali,
aku tak pernah benar-benar meminta untuk memiliki,
hanya untuk mengerti cara melepaskan.

Aku,
adalah jiwa kecil yang sering lupa,
bahwa aku pun berharga.

Dalam patah,
aku menemukan serpihan diriku sendiri.

Dalam hilang,
aku belajar mengeja namaku kembali.

Merawat diri,
bukan bentuk pengkhianatan,
tetapi sebuah doa yang diam-diam bertumbuh.

Aku menanam tawa,
di ladang hati yang pernah mati.

Aku terlalu sering menjadi hujan,
bagi tanah yang memilih gersang.

Terlalu lama,
menjadi kata dalam percakapan yang sudah layu.

Kini aku memilih,
untuk diam.

Untuk pulang,
tanpa bertanya lagi.

Tak semua doa,
harus dijawab.

Tak semua cinta,
harus dibalas.

Kadang,
cinta adalah pedang bermata dua.

Kadang,
kesetiaan adalah jalan pulang ke sunyi.

Aku melepaskan semua yang kutambatkan,
tanpa ingin memetik kembali.

Mencintaimu,
adalah perjalanan melintasi samudra tanpa peta,
menuju pelabuhan bernama ikhlas.

Bukan berhenti mencintai,
hanya berubah cara mencintai.

Aku belajar,
bahwa aku layak mencintai diriku sendiri.

Tuhan,
lebih mengerti air mata yang tak pernah jatuh,
lebih paham doa yang hanya menggetarkan dada.

Bukan kamu yang salah.
Bukan aku yang gagal.
Hanya semesta,
yang menginginkan kita berjalan sendiri-sendiri.

Ada cinta,
yang lebih utuh dalam jarak.

Ada kehilangan,
yang justru menguatkan.

Kesendirian,
bukan kehampaan.
Ia adalah lentera kecil,
yang tetap menyala dalam hujan.

ADVERTISEMENT

Aku menerima duka ini,
sebagai taman.
Bukan kuburan.

Aku membiarkan cinta ini bersemi,
di tanah yang mungkin tak pernah kau jamah.

Dalam kepergianmu,
aku menemukan jalan pulangku.

Dalam kehilanganmu,
aku bertemu kembali dengan diriku sendiri.

Aku belajar,
bahwa melepaskan,
adalah bentuk tertinggi dari mencinta.

Aku tidak lagi memohonmu tinggal.
Aku hanya memohon,
agar aku tetap utuh.

Aku tidak lagi berharap padamu.
Aku belajar,
berharap pada diriku sendiri.

Kamu,
tetaplah bait yang kusemat di langit sunyi.

Namun kini,
aku memilih menjadi puisi bagi diriku sendiri.

Aku mencintai kisah ini,
meski tanpa ujung.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

Sebab dari patahnya,
aku belajar tentang utuh.

Mengapa Tuhan tak menjodohkan kita?
Mungkin,
karena mencintai,
tak selalu berarti memiliki.

Malam memelukku,
dengan bisu yang perlahan membaikkan luka.

Dan dalam gelap,
aku menemukanmu.
Dalam diam.
Dalam doa.

Rumah Tua, 28 April 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Indonesia : 60,3% Rakyat Miskin?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com