Dengarkan Artikel
Oleh Luhur Susilo
(Guru SMPN 1 Sambong, Blora)
Kamu,
adalah nama terakhir yang kupinta dalam gelap.
Namun yang turun,
hanya sunyi.
Barangkali,
aku tak pernah benar-benar meminta untuk memiliki,
hanya untuk mengerti cara melepaskan.
Aku,
adalah jiwa kecil yang sering lupa,
bahwa aku pun berharga.
Dalam patah,
aku menemukan serpihan diriku sendiri.
Dalam hilang,
aku belajar mengeja namaku kembali.
Merawat diri,
bukan bentuk pengkhianatan,
tetapi sebuah doa yang diam-diam bertumbuh.
Aku menanam tawa,
di ladang hati yang pernah mati.
Aku terlalu sering menjadi hujan,
bagi tanah yang memilih gersang.
Terlalu lama,
menjadi kata dalam percakapan yang sudah layu.
Kini aku memilih,
untuk diam.
Untuk pulang,
tanpa bertanya lagi.
Tak semua doa,
harus dijawab.
Tak semua cinta,
harus dibalas.
Kadang,
cinta adalah pedang bermata dua.
Kadang,
kesetiaan adalah jalan pulang ke sunyi.
📚 Artikel Terkait
Aku melepaskan semua yang kutambatkan,
tanpa ingin memetik kembali.
Mencintaimu,
adalah perjalanan melintasi samudra tanpa peta,
menuju pelabuhan bernama ikhlas.
Bukan berhenti mencintai,
hanya berubah cara mencintai.
Aku belajar,
bahwa aku layak mencintai diriku sendiri.
Tuhan,
lebih mengerti air mata yang tak pernah jatuh,
lebih paham doa yang hanya menggetarkan dada.
Bukan kamu yang salah.
Bukan aku yang gagal.
Hanya semesta,
yang menginginkan kita berjalan sendiri-sendiri.
Ada cinta,
yang lebih utuh dalam jarak.
Ada kehilangan,
yang justru menguatkan.
Kesendirian,
bukan kehampaan.
Ia adalah lentera kecil,
yang tetap menyala dalam hujan.
Aku menerima duka ini,
sebagai taman.
Bukan kuburan.
Aku membiarkan cinta ini bersemi,
di tanah yang mungkin tak pernah kau jamah.
Dalam kepergianmu,
aku menemukan jalan pulangku.
Dalam kehilanganmu,
aku bertemu kembali dengan diriku sendiri.
Aku belajar,
bahwa melepaskan,
adalah bentuk tertinggi dari mencinta.
Aku tidak lagi memohonmu tinggal.
Aku hanya memohon,
agar aku tetap utuh.
Aku tidak lagi berharap padamu.
Aku belajar,
berharap pada diriku sendiri.
Kamu,
tetaplah bait yang kusemat di langit sunyi.
Namun kini,
aku memilih menjadi puisi bagi diriku sendiri.
Aku mencintai kisah ini,
meski tanpa ujung.
Sebab dari patahnya,
aku belajar tentang utuh.
Mengapa Tuhan tak menjodohkan kita?
Mungkin,
karena mencintai,
tak selalu berarti memiliki.
Malam memelukku,
dengan bisu yang perlahan membaikkan luka.
Dan dalam gelap,
aku menemukanmu.
Dalam diam.
Dalam doa.
Rumah Tua, 28 April 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





