POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Meneguk Sejuk Sensasi Danau Laut Tawar Takengon Sambil Lebaran

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
April 10, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1446 Hijriyah ini, terasa istimewa bagi anak-anak yang ingin menghabiskan waktu lebaran dengan bertamasya ke destinasi wisata. Rencana semula ingin ke Medan, sambil menikmati sensasi Mickey Holiday di Berastagi. Rencana itu dianulir. Ya,  ada kekhawatiran akan keterbatasan waktu, juga tenaga untuk melajukan kendaraan sendiri. Pasti akan sangat melelahkan. 

Akhirnya kami memutuskan ke destinasi wisata yang ada di Aceh. Pilihan utama adalah ke daratan tinggi Gayo, Aceh Tengah yang dikenal berhawa dingin dengan destinasi wisata beragam. Perjalanan ke Kota dingin Takengon diawali dengan berangkat usai salat magrib. Kami menuju Bureun dan menikmati makan malam di sebuah cafe di kawasan dekat sawah yang merupakan Shortcut dari kota Bireun menuju Matang, kota kecamatan yang terkenal dengan sate Matang.

Sambil mencicipi sajian makanan yang telah kami pesan, kami mencoba mencari penginapan, hotel, motel atau wisma, bahkan home stay. Jawabannya, eh semua penuh. Celaka dua belas jadinya, ya kan? Bayangkan saja, kalau ke Takengon tidak dapat tempat penginapan, pingsan juga kita tidur di mobil. Apalagi kami berangkat membawa anak-anak yang pasti masih kecil. Bisa sangat repot bukan?

Nah, karena kami berangkat dari Ule Gle yang jarak tempuh sekitar 30 menit ke Bireun, muncul ide untuk mencari hotel atau penginapan di Bireun, tapi istri dan adik ipar serta makcik, pasti keberatan kalau menginap di Bireun. Kata mereka kita kembali saja ke Ule Gle, besoknya pukul 06.00 pagi kita berangkat. Ya, saran itu pun diikuti dan kami kembali ke Ule Gle, sembari membayangkan perjalanan pagi esok hari.

Tepat pukul 04.30 kami semua bangun dan mandi serta menyiapkan segala yang sudah diturunkan dari mobil semalam, dan melaksanakan salat subuh dan bergegas menghidupkan mobil, lalu tancap lagi ke Bireun. Karena berangkat pagi, perjalanan ke Bireun menjadi jalan TOL alternatif. Bisa lari 100-120 km/h. Hanya dalam waktu kurang dari 30 menit sudah tiba di Bireun dan langsung melaju ke arah Juli yang merupakan jalan ke Kota penghasil kopi Arabicca Gayo highland itu. 

📚 Artikel Terkait

Sejuta Cara Berwirausaha

Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang?

SEULAWAH

Setuju, Anak yang Suka Membuat Stres Orang Tua Dibarakmiliterkan

Alhamdulilah jalan yang berbukit dan berliku-liku serta menanjak tajam, masih sepi, sehingga laju kendaraan bisa lebih cepat dan aman. Alhamdulilah bisa tiba lebih cepat tanpa hambatan di kota Takengon. Setiba di kota ini, matahari mulai meninggi dan suasana kota juga sudah tampak ramai. Mungkin karena banyaknya pengunjung yang berhari raya dan berlibur ke kota ini.

Bersama istri tercinta

Kami mengarahkan mobil ke jalan yang mengelilingi danau laut tawar atau juga disebut danau Lot atau Lut Tawar. Danau yang terbentang luas dengan air yang tenang itu mengundang banyak pengunjung, sehingga untuk mengemudi mobil dari arah kota Takengon menuju Bintang, jalan penuh sesak dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Hampir sepanjang jalan harus dikawal dan diarahkan oleh Polisi. Para pengunjung datang dan memenuhi tempat -tempat wisata di pinggir danau Lot Tawar. Banyak home stay, cafe dan restoran yang dipenuhi pengunjung. Juga pada pasangan jalanan yang menjajakan makanan dan minuman di pinggir sisi jalan panen besar.

Kami sendiri akhirnya menemukan sebuah tempat yang begitu tepat bagi kami serombongan. Kami berangkat ke Takengon dengan dua mobil. Kami menemukan sebuah cafe dan home stay, Dallof yang letaknya di pinggir danau dan lereng gunung tinggi. Kami berhenti dan masuk ke cafe bagian atas memesan makanan dan kemudian memilih tempat duduk di pinggir danau Lot Tawar.

Cafe yang memiliki home stay ini menyuguhkan daftar makanan yang menjadi kesukaan anak-anak sekarang. Tidak lupa pula kami memesan kopi Arabicca Gayo, Americano sebagai penghangat dan penyemangat tubuh. Kami menempati payung yang letaknya pas di bibir laut tawar, sehingga bisa menyaksikan kumpulan ikan kecil yang dikenal depik itu berenang mencari makanan bergerombolan.

Pemandangan Danau Laut Tawar dan indahnya bukit pegunungan serta sejuknya udara di pinggir danau Laut Tawar menyejukan hati dan pikiran. Apalagi sambil duduk mencicipi makanan, ada banyak keindahan yang bisa dinikmati. Bahkan kami merasa terhibur ketika menyaksikan kelihatan pramuniaga, para pelayan restoran yang mengantarkan makanan dengan mengendarai sepeda motor dan naik dan turun di jalan yang menanjak dengan lihainya. 

Tempat ini, selain menyediakan sajian makanan yang sesuai lidah dan selera, juga menjadi tempat yang sangat cocok bagi orang yang suka berswafoto atau foto bersama keluarga dengan sajian keindahan alam di danau dan sekitar danau Laut Tawar itu. Wajar saja, rombongan kami, tak habis-habisnya menggunakan kamera untuk mengabadikan moment lebaran di tempat ini.

Tanpa terasa waktu salar dhuhur tiba dan kami melaksanakan salat dhuhur di musala yang letaknya di bagian atas dari lokasi tempat duduk kami. Usai salat dhuhur, aktivitas foto-foto dilanjutkan dengan berbagai jurus dan gaya selfie. Kami memutuskan untuk meninggalkan Dall of dengan meminta nomor kontak Dall of serta mendsosnya yang aktif dan digunakan secara aktif. Kepada kami diberikan IG agar lebih mudah dihubungi. 

Eh, ternyata, foto-foto belum berakhir istri, anak, ipar dan juga makcik dengan 4 sepupu terus berfoto ria sambil mendaki ke pintu gerbang. Setiap satu langkah mendaki, berfoto lagi. Mereka tidak ingin kehilangan momen saat menikmati keindahan alam di sekitar Laut Tawar.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Menyikapi Tarif Resiprokal Trump dan Kemungkinan Menjadikan Indonesia Pasar Bebas

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00