POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Aceh

Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang?

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Desember 3, 2025
in Aceh, Banjir, Banjir bandang, jakarta, pemerintah Aceh,
0
Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang? - 69fbf365 e84b 438c b5ec 2f75a43b6d88 | Aceh | Potret Online

Oleh : Ririe Aiko

Kabar duka dari Sumatera kembali menyayat nurani bangsa. Hingga hari ini, korban meninggal akibat banjir dilaporkan telah mencapai lebih dari 750 jiwa, angka yang begitu besar, begitu menyedihkan, dan seharusnya cukup untuk mengguncang kesadaran publik serta pemerintah untuk menetapkan hal ini sebagai Bencana Nasional.

Namun anehnya, para pejabat kita yang terhormat, justru menganggap suasana mencekam ini hanya tampak di media sosial, seolah tragedi kemanusiaan sebesar ini hanyalah efek dramatisasi internet. Pertanyaannya, sampai sejauh apa empati bisa tergerus? Bagaimana mungkin kehilangan ratusan nyawa dianggap sebagai isu yang bisa ditanggapi dengan santai?

Baca Juga
  • Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang? - 7b7f1e83 1a77 4047 a123 942a36aa8a6a | Aceh | Potret Online
    #Pendidikan
    Menjaga Matahari Iman dalam Arus Zaman: Pendidikan, Peradaban Islam, dan Nafas Aceh
    31 Jan 2026
  • Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang? - 22dc9ec9 088a 474f b72e f35919787a30 | Aceh | Potret Online
    Aceh
    Membanggakan, Siswi dari Kepulauan Simeulue Raih Medali Perak Tingkat Nasional di Ajang FLS2N
    27 Agu 2023

Media sosial, baik disukai maupun tidak, telah menjadi ruang dokumentasi paling jujur dari kondisi di lapangan. Ketika video rumah hanyut, jenazah ditemukan di lumpur, atau tangis para pengungsi muncul di layar ponsel, itu bukan sekadar “konten mencekam”.

Sebaliknya, hal itu adalah bukti bahwa realitas di lapangan jauh lebih menyakitkan dari apa yang tampak. Namun respons para pejabat publik kita, justru mengerdilkan fakta tersebut, seolah tragedi dapat dikecilkan hanya karena mereka menontonnya dari jarak aman.

Baca Juga
  • IMG_1290
    Artikel
    Aceh Karam
    25 Mei 2026
  • Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang? - IMG_3833 scaled | Aceh | Potret Online
    # Begadang
    Budaya Nongkrong di Tanah Rencong
    02 Apr 2025

Sikap seperti ini tidak hanya menunjukkan kurangnya empati, tetapi juga mengungkapkan betapa mudahnya kita kebal terhadap derita sesama.

Hal lain yang lebih membuat saya geram adalah ketika bermunculan video di linimasa, tentang bagaimana proses bantuan pemerintah diberikan pada korban bencana. Dimana beredar dalam sebuah video yang saya kutip dari unggahan Instagram Story @drtanshotyen, mengenai korban banjir Sumatera yang mengaku diminta KTP dan KK hanya untuk mendapatkan bantuan.

Baca Juga
  • Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang? - 9477a530 dcd1 4dfb 9431 9f7c91f8f78b | Aceh | Potret Online
    Aceh
    Bersyukur Dapat Ikut Menangani Logistik di Lanud SIM Bersama TNI
    09 Mar 2026
  • 02
    Aceh
    Sabang International Freediving Competition (SIFC) 2018 Melibatkan 4 Juri Internasional
    07 Nov 2018

Sebuah pertanyaan muncul, berkecamuk dalam pikiran saya: logikanya bagaimana? Dalam kondisi darurat, saat banyak dari mereka bahkan kehilangan anggota keluarga, rumah, dan seluruh harta benda, apakah wajar menuntut dokumen yang kemungkinan besar sudah hanyut terbawa arus?

Kita hidup di negeri yang terkenal dengan birokrasi berlapis-lapis. Tetapi ketika aturan administratif diterapkan secara kaku pada situasi bencana, itu bukan lagi urusan administrasi, itu adalah pengingkaran moral. Ketika seseorang sedang kehilangan segalanya, meminta KTP atau KK sama saja seperti memperlihatkan bahwa empati telah digantikan oleh sistem yang dingin dan tak berperasaan.

Bukankah seharusnya dalam keadaan darurat, pertolongan didahulukan, soal administrasi itu hanya masalah teknis yang bisa dikesampingkan. Seluruh prinsip penanganan bencana di dunia menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas pertama, bukan mengajukan syarat-syarat yang bahkan tidak mungkin bisa dipenuhi korban, yang berada ditengah kesedihan dan keputusasaan.

Belum lagi peristiwa bantuan yang dilempar dari helikopter, sebuah tindakan yang mungkin dimaksudkan sebagai upaya cepat, tetapi justru berakhir tragis karena sebagian besar bantuan itu tidak dapat dimanfaatkan warga. Bantuan berhamburan, tercecer, bahkan tidak ada satu pun yang benar-benar sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Lantas, apa gunanya pertunjukan “aksi cepat” jika tidak efektif menyelamatkan warga?

Peristiwa seperti ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya terjadi dengan para pemimpin negeri ini? Mengapa koordinasi penanganan bencana masih begitu lemah, lamban, dan terlihat lebih mementingkan citra daripada memastikan warga selamat? Mengapa selalu ada jarak antara tindakan dan kebutuhan nyata di lapangan?

Bencana seharusnya menjadi momentum untuk menunjukkan solidaritas, kepemimpinan, dan kemanusiaan. Tetapi ketika syarat administrasi dipaksakan, ketika bantuan tidak terdistribusi dengan benar, ketika tragedi direspons dengan komentar meremehkan, kita harus berani mengakui bahwa yang mengalami banjir bukan hanya Sumatera, melainkan juga kemanusiaan para pejabat yang kini perlahan tenggelam.

Sudah saatnya pemerintah mengevaluasi total sistem penanganan bencana: mulai dari kecepatan reaksi, efektivitas distribusi bantuan, hingga fleksibilitas prosedur dalam situasi genting. Kita tidak boleh lagi membiarkan birokrasi mengalahkan empati.

Ratusan nyawa telah hilang. Air mungkin akan surut, tetapi luka kolektif ini tidak akan pernah benar-benar kering. Pertanyaan paling penting yang tersisa adalah: apakah pemerintah akan belajar dari tragedi ini, ataukah tragedi ini hanya akan kembali berlalu tanpa menjadi evaluasi yang berarti?

Previous Post

BENGKEL OPINI RAKyat

Next Post

Mendorong Lahirnya Engineer Masa Depan di Tengah Keterbatasan Akibat Bencana Aceh

Next Post
Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang? - IMG_8783 | Aceh | Potret Online

Mendorong Lahirnya Engineer Masa Depan di Tengah Keterbatasan Akibat Bencana Aceh

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah