• Latest
Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang? - 69fbf365 e84b 438c b5ec 2f75a43b6d88 | Aceh | Potret Online

Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang?

Desember 3, 2025
Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang? - 1001353319_11zon | Aceh | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang? - 1001361361_11zon | Aceh | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
de2293cc-7c03-4d26-8a68-a4db3f4d65b4

Sinergi Fiskal Syariah: Navigasi Zakat Perdagangan di Era Mata Uang Modern

April 21, 2026
4fb2b103-7d0d-484c-ba9b-02ec8de8ff7a

Perempuan Hebat, Perjuangan Tak Terlihat: Refleksi Hari Kartini dalam Cahaya Islam

April 21, 2026
819dc996-4ffe-43e0-a861-db43521da05d

Dr. Damanhur Yusuf Abbas: The Living Reference tentang Syariat Islam di Kota Lhokseumawe

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang?

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Desember 3, 2025
in Aceh, Banjir, Banjir bandang, jakarta, pemerintah Aceh,
Reading Time: 3 mins read
0
Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang? - 69fbf365 e84b 438c b5ec 2f75a43b6d88 | Aceh | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh : Ririe Aiko

Kabar duka dari Sumatera kembali menyayat nurani bangsa. Hingga hari ini, korban meninggal akibat banjir dilaporkan telah mencapai lebih dari 750 jiwa, angka yang begitu besar, begitu menyedihkan, dan seharusnya cukup untuk mengguncang kesadaran publik serta pemerintah untuk menetapkan hal ini sebagai Bencana Nasional.

Namun anehnya, para pejabat kita yang terhormat, justru menganggap suasana mencekam ini hanya tampak di media sosial, seolah tragedi kemanusiaan sebesar ini hanyalah efek dramatisasi internet. Pertanyaannya, sampai sejauh apa empati bisa tergerus? Bagaimana mungkin kehilangan ratusan nyawa dianggap sebagai isu yang bisa ditanggapi dengan santai?

Baca Juga
  • Dinsos Aceh Pulangkan Warga Punge Setelah 2 Tahun Ditahan di Malaysia
  • POTRET, Jangan Lelah Memotret Ketidakadilan Bagi Anak Negeri

Media sosial, baik disukai maupun tidak, telah menjadi ruang dokumentasi paling jujur dari kondisi di lapangan. Ketika video rumah hanyut, jenazah ditemukan di lumpur, atau tangis para pengungsi muncul di layar ponsel, itu bukan sekadar “konten mencekam”.

Sebaliknya, hal itu adalah bukti bahwa realitas di lapangan jauh lebih menyakitkan dari apa yang tampak. Namun respons para pejabat publik kita, justru mengerdilkan fakta tersebut, seolah tragedi dapat dikecilkan hanya karena mereka menontonnya dari jarak aman.

Baca Juga
  • Merevitalisasi PDIA, Merawat Ingatan Membangun Ketangguhan
  • 1000 Sepeda : Mengayuh Menuju Asa “Kayoh Laju Bek Dile Piyoh”

Sikap seperti ini tidak hanya menunjukkan kurangnya empati, tetapi juga mengungkapkan betapa mudahnya kita kebal terhadap derita sesama.

Hal lain yang lebih membuat saya geram adalah ketika bermunculan video di linimasa, tentang bagaimana proses bantuan pemerintah diberikan pada korban bencana. Dimana beredar dalam sebuah video yang saya kutip dari unggahan Instagram Story @drtanshotyen, mengenai korban banjir Sumatera yang mengaku diminta KTP dan KK hanya untuk mendapatkan bantuan.

Baca Juga
  • Ekstraksi Sumber Daya, Kehancuran Ekologi, dan Kemiskinan Terstruktur:
  • Paradoks Status Bencana Banjir Aceh Sumatera

Sebuah pertanyaan muncul, berkecamuk dalam pikiran saya: logikanya bagaimana? Dalam kondisi darurat, saat banyak dari mereka bahkan kehilangan anggota keluarga, rumah, dan seluruh harta benda, apakah wajar menuntut dokumen yang kemungkinan besar sudah hanyut terbawa arus?

Kita hidup di negeri yang terkenal dengan birokrasi berlapis-lapis. Tetapi ketika aturan administratif diterapkan secara kaku pada situasi bencana, itu bukan lagi urusan administrasi, itu adalah pengingkaran moral. Ketika seseorang sedang kehilangan segalanya, meminta KTP atau KK sama saja seperti memperlihatkan bahwa empati telah digantikan oleh sistem yang dingin dan tak berperasaan.

Bukankah seharusnya dalam keadaan darurat, pertolongan didahulukan, soal administrasi itu hanya masalah teknis yang bisa dikesampingkan. Seluruh prinsip penanganan bencana di dunia menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas pertama, bukan mengajukan syarat-syarat yang bahkan tidak mungkin bisa dipenuhi korban, yang berada ditengah kesedihan dan keputusasaan.

Belum lagi peristiwa bantuan yang dilempar dari helikopter, sebuah tindakan yang mungkin dimaksudkan sebagai upaya cepat, tetapi justru berakhir tragis karena sebagian besar bantuan itu tidak dapat dimanfaatkan warga. Bantuan berhamburan, tercecer, bahkan tidak ada satu pun yang benar-benar sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Lantas, apa gunanya pertunjukan “aksi cepat” jika tidak efektif menyelamatkan warga?

Peristiwa seperti ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya terjadi dengan para pemimpin negeri ini? Mengapa koordinasi penanganan bencana masih begitu lemah, lamban, dan terlihat lebih mementingkan citra daripada memastikan warga selamat? Mengapa selalu ada jarak antara tindakan dan kebutuhan nyata di lapangan?

Bencana seharusnya menjadi momentum untuk menunjukkan solidaritas, kepemimpinan, dan kemanusiaan. Tetapi ketika syarat administrasi dipaksakan, ketika bantuan tidak terdistribusi dengan benar, ketika tragedi direspons dengan komentar meremehkan, kita harus berani mengakui bahwa yang mengalami banjir bukan hanya Sumatera, melainkan juga kemanusiaan para pejabat yang kini perlahan tenggelam.

Sudah saatnya pemerintah mengevaluasi total sistem penanganan bencana: mulai dari kecepatan reaksi, efektivitas distribusi bantuan, hingga fleksibilitas prosedur dalam situasi genting. Kita tidak boleh lagi membiarkan birokrasi mengalahkan empati.

Ratusan nyawa telah hilang. Air mungkin akan surut, tetapi luka kolektif ini tidak akan pernah benar-benar kering. Pertanyaan paling penting yang tersisa adalah: apakah pemerintah akan belajar dari tragedi ini, ataukah tragedi ini hanya akan kembali berlalu tanpa menjadi evaluasi yang berarti?

Share234SendTweet146Share
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Next Post
Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang? - IMG_8783 | Aceh | Potret Online

Mendorong Lahirnya Engineer Masa Depan di Tengah Keterbatasan Akibat Bencana Aceh

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com