Dengarkan Artikel
Oleh Teuku Fajar Ilham
Cerita sore ini kita mulai dengan metafor seorang pria yang bernama Midas. Berkat kerja kerasnya yang telah membantu Dewa Dionysus, yang di kemudian hari, ia dianugerahi kekuatan untuk mengubah apapun yang disentuhnya menjadi emas.
Sekilas ini terlihat menyenangkan. Bagaimana tidak bila untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan hanya dengan menyetuhnya, maka kita akan mendapatkannya.
Dalam mitologi ini, Midas adalah manusia yang sangat kaya di zamannya, dikarenakan, apapun yang ia sentuh akan menjadi emas. Namun demikian, anugerah ini dapat juga menjadi kutukan yang memilukan, di mana dia tidak bisa makan dan minum dengan tangannya sendiri. Sialnya lagi, Dia tak sengaja menyentuh putrinya dan putrinyapun berubah menjadi patung emas.
Dari cerita mitologi ini, sekarang mari kita meluangkan sedikit ruang dan waktu kesadaran kita untuk menggunakan rumus filosofi dan merenungkan pertanyaan demi pertanyaan, apa itu teknologi, bagaimana ia lahir, dan bagaimanakah kita menggunakannya. Jika kita melihat fenomena kelahiranya adalah untuk mempermudah segala kebutuhan umat manusia, yaitu :”kehidupan menjadi jauh lebih mudah daripada sebelumnya”. Seperti jika dulu kita ingin menemui teman, kita mencari untuk menemui dia di tempat dan kebiasaan teman kita berada, walaupun itu tidak akurat. namun sekarang kita hanya perlu menekan tombol dan tombol itu disentuh oleh teman kita, maka kitapun akan menemukannya di tempat tersebut.
Namun demikian, teknologi yang kita gunakan saat ini, sama halnya seperti sentuhan Midas. Kemudah apapun yang kita peroleh tanpa proses, membentuk kita seperti tikus yang berputar-putar di dalam rodanya. Kenyamanan yang disediakan oleh segelintir orang untuk membuat kenyamanan kemurunan nomaden sepertinya sangat tidak layak untuk manusia.
Dikatakan demikian karena ia tidak memprolehinya dengan proses dari dirinya, dan itu sama halnya seperti Midas yang tidak bisa makan dan minum dengan tangannya sendiri.
Untuk menjawab bagaimana teknologi itu lahir. Mari kita lihat dalam pandangan sejarah, yang dulunya umat manusia berjuang dan bertahan hidup untuk menyamankan kebutuhan perut keluarganya, ia menciptakan alat-alat dan teknik berburu agar mendapatkan makanan, dan selain untuk mendapatkan makanan, perang adalah watak umat manusia dan peradaban menginginkannya ditambah dengan nyanyian masing-masing bangsa untuk membakar semangat membunuh sesama manusia.
Dalam cerita motologi, perang adalah keagungan, bagi bangsa Romawi, kematian dalam perang berarti kemulian. Bagi bangsa Viking pertempuran adalah cara terbaik menuju Valhalla. Aztec percaya bahwa jika mati dalam perperangan berarti berkorban untuk para Dewa.
Dengan adanya fakta sejarah yang saya paparkan itu bukan berarti membenarkan pembunuhan, tetapi ini adalah kebenaran psikologi manusia bahwa dalam dirinya ada sisi gelap, kalau dalam mitologi Yunani disebut (thanos).
Seiring perkembangan alat-alat berburu dan seiring waktu itu juga cara membunuh sesama manusia pun semangkin cangih dan di era kita saat inipun terjadi, kita menyebutnya teknologi. Dan untuk majawab bagaimana teknologi ini digunakan, maka kita harus melihat fonomena kehidupan masyarakat saat ini, dimana seiring berkembang dan kecanggihan teknologi yang kita gunakan saat ini, perilaku manusia semakin sekuler, hingga agama dan spiritual semakin jauh dari manusia (kekosongan makna). Kalau dalam buku Zarathustra Nietzsche menyebutkan “overcome nihilisme”. Dalam kondisi ini manusia telah kehilangan, kebingungan antara mana yang semestinya alat, dan mana yang disebut tujuan.
📚 Artikel Terkait
Kebingungan ini telah menggerogoti makna hidup manusia. Dalam masyarakat modern yang serba cepat terjadinya perubahan dan instan. Kebanyakan dari diri manusia mulai bertanya…? Akan ketidakpastian diri mereka dan tujuan diri manusia itu diciptakan.
Dalam film “Fight Club”, sang protagonis merasa bahwa dimana semua pekerjaannya adalah untuk mengisi lemari pakaiannya, dan menghiasi rumahnya dengan barang-barang berharga. Dalam fenomenal ini Tyler Durden mengatakan:”kita adalah anak tengah dalam sejarah, kawan. Tidak ada tujuan atau tempat. Kita tidak memiliki perang besar. Tidak ada depresi hebat.
Perang besar kita adalah perang rohani. Depresi hebat adalah hidup kita”. Mungkinkah era itu akan tiba! Dimana robot melakukan semua pekerjaan dan manusia tidak melakukan apapun lagi, bahkan dalam hal kognitifpun AI telah mengambil perannya untuk mengantikan manusia yang “human error”.
Dan begitulah manusia terakhir yang dinyatakan Nietzsche dalam bukunya Zarathustra. Filsuf eksistensialisme ini, ia mulai menyadari apa saja yang akan dibawa oleh teknologi dan ilmu pengetahuan yang tak lain adalah “kenyamanan yang tidak bermakna”.
Mereka berjuang dan bertahan hidup, tapi tidak dengan hidupnya sendiri. Manusia terakhir adalah manusia yang dekaden yang mencari kenyamanan dan menghindari ketidaknyamanan, tanpa palu di tangannya, tanpa tujuan apapun dalam kehidupannya selain mengkonsumsi, atau dalam versi dr Gemoy di Negara Wakanda, kerja-kerja untuk dapat makan bergizi gratis (bekerja dan hidup untuk makan).
Adapun ormas-ormas yang menyuarakan tentang kenyamanan surga, kali ini saya mengutip neraka dalam versi Zarathustra, ia seorang nabi dalam cerita Nietzsche. Setelah mengumpulkan kebijaksanaan selama 10 tahun dalam gua yang terisolasi dari kerumunan nomaden, kini memilih untuk turun dari bukit. Seperti matahari yang memancarkan sinarnya, dia rindu untuk menyampaikan kebijaksanaannya terhadap manusia bawah (neraka).
Seperti lebah yang telah mengumpulkan terlalu banyak madu, dan membutuhkan tangan-tangan yang terulur untuk mengambilnya. Namun demikian, turunnya dia, sama seperti nabi-nabi terdahulu, tidak ada kemeriahan, sanggat sedikit dari mereka untuk bersyukur. Seperti Nabi Nuh yang diangap gila karena membuat perahu besar di atas bukit, dan diolok-olok serta lemparan batu kepada Nabi
Nabi Muhammad oleh anak-anak penduduk kota Tai’f. Sepertinya kerumunan nomaden ini selalu terjadi pengulangan yaitu belum siap mendengarkan dan menerima kebenaran yang dikatakannya. Namun ia (Nietzsche) tidak menyerah begitu saja, ia mengunakan dengan cara yang lain dengan berkhotbah tentang panasnya api, dan kengerian api neraka mengenai akhir dunia untuk meningkatkan point penting dari pesannya. Ia mengatakan ini adalah kesempatan terakhir untuk mendengarkannya atau mereka tidak akan mendengarkannya lagi. Ia mengatakan neraka adalah “manusia terakhir”.
Mereka adalah manusia yang hina, kosong, tidak berpikir, dan tidak merasakan. Dalam buku Zarathustra :”sayang sekali! Akan datang waktu ketika manusia tidak lagi meluncurkan panah kerinduannya melampaui manusia, dan tali busurnya akan lupa cara berdesing”.
Nah, dapat dikatan, bahwa kehadiran mereka di zaman ini, tidak lagi memperdulikan pencapaian moral, intelektualnya sudah dialihkan ke AI, dan spiritualnya kosong akan tujuan transenden. “Mereka tidak lagi mengerti apa itu cinta? Apa itu penciptaan? Apa itu kerinduan? Dan apa itu bintang?” demikialah pertanyaan manusia terakhir sambil berkedip. Kedipan matanya menandai bahwa mereka tidak lagi memiliki pemahaman yang mendalam tentang pertanyaan filosofis seperti cinta, penciptaan, dan kerinduan.
Manusia terakhir hidup dalam kepuasan yang ia maknai tanpa makna yang benar, apapun yang baik dan menyenangkan adalah tujuannya, tanpa perlu kebenaran.
Demikianlah tulisan di sore ini, kami telah menemukan kebahagian, kata manusia terakhir sambil mengedipkan mata. Akhir dari tulisan sore Kamis, 3 Apr 2025. Saya mengututip pepatah sufi, “ dan ini juga akan berlalu”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






