• Latest
Guru Jadi Tersangka Lagi, Yok Kita Bantu! - e23890c1 ed1d 4be2 97f9 43f6391c3322 | #Kriminalisasi Guru | Potret Online

Guru Jadi Tersangka Lagi, Yok Kita Bantu!

Maret 19, 2025

Mengapa Ivan Illich Mengajak Kita Berhenti Memuja Sekolah

April 23, 2026
Ilustrasi kerumunan orang menatap ponsel di bawah panggung politik dengan figur pemimpin yang dikendalikan seperti boneka oleh tangan besar di atasnya, menggambarkan manipulasi, popularitas, dan hilangnya akal sehat dalam demokrasi.

Menuju Bangsa Goblok (MBG)

April 23, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Guru Jadi Tersangka Lagi, Yok Kita Bantu! - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | #Kriminalisasi Guru | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Guru Jadi Tersangka Lagi, Yok Kita Bantu!

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 19, 2025
in #Kriminalisasi Guru, Guru, Pendidikan
Reading Time: 3 mins read
0
Guru Jadi Tersangka Lagi, Yok Kita Bantu! - e23890c1 ed1d 4be2 97f9 43f6391c3322 | #Kriminalisasi Guru | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Saya tu paling gedek bila ada orang menjadikan tersangka seorang guru. Apalagi kejadiannya untuk mendisiplinkan murid. Kasus Supriani belum cukup lagi, ini ada lagi. Kasusnya mirip. Yok, kita dalami kasusnya.

Hening. Sepi. Tapi tidak bagi Muhammad Saelan. Dunia seakan menggelegar, menghantam dadanya yang kini sesak oleh ketidakadilan. Ia, seorang guru, pilar pendidikan, obor penerang bagi anak-anak yang dahaga akan ilmu, kini hanya seorang tersangka. Bukan karena korupsi, bukan karena mengkhianati negara, bukan pula karena kejahatan besar yang mengguncang dunia. Tidak. Ia hanya menegur. Satu kata sederhana yang seharusnya bersemayam dalam etika pendidikan. Sebuah teguran yang kini menghancurkan kehidupannya.

Baca Juga
  • Seminar Kemajuan Teknologi Kreator Era Artificial Intelligence(AI) di Sumatera Barat, Hadapi Tantangan dan Peluang Kreativitas , Dibahas Sengit
  • Tetaplah Seperti Padi

Tiga kali teguran. Tiga kali seruan penuh pengabdian. Tiga kali upaya membangun kedisiplinan. Namun, apa yang didapatnya? Hukuman. Bukan penghormatan atas dedikasi, bukan tepukan di pundak sebagai tanda terima kasih. Melainkan status tersangka yang kini mencoreng namanya, mengoyak harga dirinya, dan mengoyak hati nurani setiap insan yang masih percaya bahwa pendidikan adalah pilar masa depan.

Hari itu, 28 November 2023, adalah hari biasa di SD Islam Al Azhar 21 Pontianak. Muhammad Saelan hanya ingin menegakkan disiplin di kelas. Siswa-siswa gaduh, terlalu riang dalam dunia mereka yang tak terbebani oleh beban hidup. Tapi guru ini tahu, pendidikan butuh ketertiban. Maka ia menegur. Mengingatkan. Tapi ada satu siswi yang tidak tunduk. Ia menatap Muhammad Saelan dengan sorot mata perlawanan.

Baca Juga
  • Junida, Tetap Semangat Bersekolah Walau Jalan Kaki Hingga 5 Km
  • Santri Dayah Apresiasi Pelaksanaan Pelatihan Penulisan Ilmiah

Apa yang salah? Apakah menegur anak adalah sebuah kejahatan? Jika ya, maka ribuan guru di negeri ini sebaiknya mulai menghitung hari menuju bui.

Lalu datanglah badai. Orang tua siswi itu seorang aparat kepolisian. Jabatan. Kekuatan. Kekuasaan. Tiga kata yang kerap membungkam kebenaran. Hanya butuh sedikit tekanan, sedikit ketukan di meja, dan voila! Sang guru berubah status. Dari pendidik menjadi pesakitan. Dari pembentuk karakter menjadi kriminal.

Baca Juga
  • MUDA DAN SUKSES MESKI MASIH KULIAH
  • TEACHING BASED ON FACULTY

Tapi tunggu. Kejanggalan baru dimulai. Kasus ini muncul di tahun 2023, namun status tersangka baru disematkan pada Februari 2025. Apakah hukum di negeri ini memang bekerja seperti kura-kura yang berjalan santai, atau justru seperti ular berbisa yang baru menggigit saat waktunya tepat?

Muhammad Saelan bukan manusia keras kepala. Ia tahu kesalahan, meski yang terjadi bukanlah kesalahan. Ia meminta maaf. Berkali-kali. Di sekolah, di depan orang tua murid, di hadapan lembaga perlindungan anak. Ia bahkan berinisiatif mendatangi rumah orang tua murid, merendahkan hati demi perdamaian. Apa yang terjadi? Mereka berpelukan. Tangan yang sama yang dulu mengayunkan kapur di papan tulis kini menjabat tangan yang penuh kuasa.

Saelan berpikir, “Mungkin ini akhirnya.” Mungkin badai telah reda. Mungkin ketidakadilan telah menemukan titik terang. Tapi, ternyata tidak. Pelukan itu palsu. Senyum itu tipu daya. Status tersangka tetap berlanjut.

Hukum, di negeri ini, terkadang seperti pedang tumpul di satu sisi dan setajam silet di sisi lainnya. Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Bukti visum tidak menunjukkan kekerasan, tetapi kasus tetap berlanjut. Semua pihak pendidikan bersuara, tapi suara mereka seperti angin yang bertiup di tengah badai, lenyap tak berbekas.

Komunitas guru berseru, “Apakah ini yang pantas bagi seorang pendidik?”

Orang-orang yang masih peduli pada pendidikan bertanya, “Jika seorang guru tidak boleh menegur, lalu siapa yang akan mengajarkan disiplin?” Tapi suara mereka tak lebih dari bisikan di hadapan gemuruh kekuasaan.

Muhammad Saelan kini hanyalah seonggok nama dalam berita. Seorang pria yang dulu berdiri di depan kelas dengan penuh kebanggaan, kini harus berdiri di hadapan hukum dengan penuh kehinaan. Apakah ia akan mendapat keadilan? Ataukah ia hanya akan menjadi korban dari sistem yang tidak berpihak pada mereka yang tidak memiliki kuasa? Hanya waktu yang bisa menjawab. Atau mungkin, tidak akan pernah ada jawaban sama sekali.

Sementara itu, di sekolah-sekolah lain, para guru mulai waspada. Mereka kini tahu, di negeri ini, mendidik bisa berarti menggali kubur sendiri.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Guru Jadi Tersangka Lagi, Yok Kita Bantu! - CFDCC9DE 10AF 480D 9946 43AEFE60A1F2 | #Kriminalisasi Guru | Potret Online

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com