HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Negara yang Kembali ke Fitrah

Redaksi by Redaksi
Maret 27, 2025
in Artikel, birokrasi, Budi pekerti, Demokrasi, Diafragma, Negara, Numerasi, Politik Dinasti
Reading Time: 4 mins read
0
Negara yang Kembali ke Fitrah
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hamdan eSA

Di sebuah negeri bernama Fitrahilia, rakyatnya dulu hidup damai dan sejahtera. Pemimpinnya jujur, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, dan tak ada yang kelaparan. Negeri itu seperti rumah yang selalu bersih, rapi, dan penuh kasih sayang.

Baca Juga

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026

Seiring berjalannya waktu, para pemimpin mulai lupa janji mereka. Sebagian pejabat sibuk mengisi kantong sendiri, hukum mulai condong kepada mereka yang berkuasa, dan rakyat kecil semakin sulit hidup. Negeri yang dulu terang benderang berubah menjadi kelam, seperti rumah yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba.

Suatu hari, seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayah, mengapa negeri kita seperti ini”?

Sang ayah menghela napas, “Karena kita lupa jalan pulang, Nak”.

“Jalan pulang ke mana”? Tanya sang anak.

“Ke fitrah. Ke tempat di mana kejujuran, keadilan, dan kasih sayang menjadi dasar segalanya”.

Anak itu berpikir sejenak lalu berkata, “Kalau lupa jalan pulang, kenapa kita tidak bertanya arah”?

Sang ayah tersenyum. “Benar, Nak. Tapi masalahnya, mereka yang memimpin kita sudah tidak ingin kembali. Mereka sudah terlalu nyaman dengan jalannya saat ini. Mungkin rakyatnya harus sadar bahwa agar negara kembali ke fitrah, mereka harus berjalan sendiri—mengingatkan pemimpin, menegakkan keadilan, dan membersihkan negeri mereka seperti rumah yang sudah lama tak disapu”.


Setiap individu memiliki fitrah, yaitu kesucian dan kecenderungan pada kebaikan. Konsep fitrah selama ini hanya berlaku bagi manusia secara personal. Mestinya ia juga dapat diterapkan dalam kehidupan bernegara. Gagasan saya ini bukan sekadar idealisme moral, tetapi sebuah kebutuhan mendasar bagi negara yang ingin bertahan dan berkembang secara harmonis.

Negara mengalami penyimpangan dari fitrah ketika terjadi korupsi, ketidakadilan sosial, dan ketimpangan ekonomi. Pemerintahan yang tidak transparan, hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas, serta eksploitasi sumber daya untuk kepentingan segelintir elite adalah tanda-tanda bahwa sebuah negara telah jauh dari nilai-nilai fitrah. Hal ini menciptakan jurang ketidakpercayaan antara rakyat dan pemerintah, yang pada akhirnya mengancam stabilitas sosial dan politik.

Kembali ke fitrah bagi negara, merupakan upaya strategis untuk membangun negara yang lebih berkeadaban. Negara yang kembali ke fitrah adalah negara yang menjalankan pemerintahan berdasarkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.

Dalam konteks ini, fitrah dapat dimaknai sebagai kondisi ideal di mana negara berfungsi sebagaimana mestinya—sebagai pelindung dan pelayan rakyat, bukan sebagai alat kepentingan segelintir kelompok. Negara yang berfitrah akan menempatkan hukum sebagai panglima, menjunjung tinggi transparansi, serta memastikan distribusi sumber daya yang adil.

ADVERTISEMENT

Sebaliknya, ketika negara melenceng dari fitrah, berbagai masalah sistemik muncul. Korupsi menjadi budaya, hukum hanya menguntungkan yang berkuasa, dan kesenjangan sosial semakin melebar. Negara yang jauh dari fitrah sering kali lebih mementingkan stabilitas kekuasaan dibanding kesejahteraan rakyatnya. Akibatnya, ketidakpercayaan publik meningkat, dan konflik sosial menjadi ancaman nyata.

Kembali ke fitrah berarti mengembalikan peran negara sebagaimana mestinya—menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, memastikan kesejahteraan merata, dan membangun sistem pemerintahan yang berlandaskan nilai moral serta akuntabilitas. Tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat agar negara benar-benar dapat kembali pada jalur yang benar.

Meskipun gagasan negara yang kembali ke fitrah terdengar ideal, realisasinya menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Salah satu hambatan terbesar adalah korupsi yang telah mengakar dalam sistem pemerintahan.

Korupsi tidak hanya terjadi di tingkat elite, tetapi juga di level birokrasi yang lebih rendah, menciptakan budaya yang sulit diberantas. Ketika korupsi menjadi norma, reformasi menuju negara yang berintegritas akan menghadapi perlawanan dari pihak-pihak yang diuntungkan oleh sistem yang korup.

Selain itu, ketimpangan struktural dalam ekonomi dan hukum menjadi penghalang utama. Di banyak negara, hukum sering kali tidak diterapkan secara adil. Orang-orang kaya dan berkuasa cenderung mendapatkan perlakuan istimewa, sementara masyarakat kecil harus menghadapi ketidakadilan. Sikap demikian semakin memperkuat ketidakpercayaan terhadap institusi negara dan menghambat upaya kembali ke prinsip keadilan.

Faktor lain yang menghambat adalah pengaruh sistem global. Negara-negara berkembang sering kali harus menyesuaikan kebijakan mereka dengan tekanan ekonomi dan politik internasional. Ketika kepentingan asing lebih diutamakan daripada kesejahteraan rakyat, maka upaya untuk kembali ke nilai-nilai dasar keadilan dan moralitas menjadi semakin sulit.

Mengatasi tantangan ini memerlukan komitmen kuat dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat. Tanpa perubahan sistemik dan budaya politik yang lebih sehat, negara akan terus bergerak menjauh dari fitrahnya.

Agar sebuah negara dapat kembali ke fitrah, diperlukan strategi yang mencakup perubahan sistemik, reformasi birokrasi, dan penguatan nilai-nilai moral dalam kehidupan bernegara.

Salah satu langkah utama adalah menegakkan hukum yang adil dan tidak tebang pilih. Penegakan hukum yang kuat akan menciptakan efek jera bagi para pelaku korupsi dan penyalahguna kekuasaan, sehingga membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Selain itu, reformasi birokrasi menjadi kunci dalam menciptakan pemerintahan yang bersih dan efektif. Digitalisasi layanan publik, transparansi anggaran, serta peningkatan akuntabilitas pejabat negara dapat mengurangi potensi penyalahgunaan wewenang. Negara-negara seperti Estonia dan Finlandia telah membuktikan bahwa birokrasi yang transparan mampu mengurangi korupsi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Di sisi ekonomi, pemerataan kesejahteraan harus menjadi prioritas. Sistem pajak yang lebih adil, dukungan terhadap usaha kecil dan menengah, serta kebijakan yang memastikan akses pendidikan dan kesehatan bagi semua warga akan membantu mengurangi kesenjangan sosial.

Pendidikan karakter dan kesadaran moral juga harus diperkuat, baik dalam sistem pendidikan formal maupun dalam kebijakan publik. Pemimpin yang berintegritas harus menjadi teladan, dan masyarakat harus didorong untuk aktif mengawasi jalannya pemerintahan.

Dengan kombinasi reformasi hukum, birokrasi, ekonomi, dan pendidikan, negara dapat secara bertahap kembali ke fitrah, menjalankan perannya sebagai pelayan rakyat dengan penuh keadilan dan tanggung jawab.

Saat seperti itulah, negara layak mengatakan kepada warganya; “minal aidina wal faidzina, taqabbalallahu minna waminkum”.

Wallahu a’lam.

Madatte Polman, 27 Maret 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 344x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 305x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 220x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 182x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala
Dinas Koperasi

Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala

Maret 18, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh
Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026
Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan
Esai

Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan

Maret 18, 2026
Next Post
Menunggu Mega, Red Sparks Melangkah ke Final

Menunggu Mega, Red Sparks Melangkah ke Final

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com