Artikel · Potret Online

Al-Quran With Love: Sebuah Social Experiment tentang Memudahkan Diri Membaca Al-Qur’an

Sejauh ini dari praktik tiga hari pertama itu reward yang saya dapatkan untuk diri saya sendiri adalah produktivitas dan need of achievement (N-Ach) itu. Oh ya, saya termasuk golongan yang percaya bahwa N-Ach ala Maslow itu bisa diterapkan dalam bentuk mini misalnya seperti capaian harian.
Penulis  Afridal Darmi
Maret 3, 2025
7 menit baca 299
Al-Quran With Love: Sebuah Social Experiment tentang Memudahkan Diri Membaca Al-Qur’an - 0F10940A AA51 4547 82EF B5333B0BC438 | Artikel | Potret Online
Foto / IlustrasiAl-Quran With Love: Sebuah Social Experiment tentang Memudahkan Diri Membaca Al-Qur’an

Oleh Afridal Darmi

Saat terbaik membaca Quran adalah bulan yang kita nanti-nantikan ini, yang kata Nabi SAW setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, ya kan? Tapi, saya jujur saja pada anda dan diri saya sendiri, membaca Al-Qur’an itu sering terasa berat. Padahal harusnya membaca Al-Qur’an itu bisa menjadi aktivitas yang ringan, menyenangkan, dan bahkan membahagiakan. 

Kalaulah ini pernyataan yang keliru takkan mungkin para sahabat dan generasi awal itu bisa membaca sampai setiap hari khatam. Setiap hari, Bro. Masya Allah…

Saya sendiri merasa yang membuat kegiatan membaca Al-Qur’an menjadi berat adalah karena kita menjadikannya sebagai tugas (chore). 

Lalu, siapa pula yang bisa menikmati melakukan tugas harian, sepenting apapun dia, ya kan? Dalam alam fikir penugasan itu, hampir selalu ada beban target. Kadang kita punya ekspektasi tinggi: harus khatam sekiankali, harus membaca sekian lembar per hari, harus duduk berjam-jam, dan sebagainya

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Afridal Darmi, SH, LLM. Seorang advokat profesional dan penulis amatir. Pernah menjejakkan kaki di berbagai sudut Bumi di negeri-negeri yang jauh di empat benua dalam menjalankan misinya sebagai Human Right Defender. Tapi selalu mendapati dirinya merindu Aceh, tempat perahu hatinya tertambat dan membuang sauh, tempat ketiga anak dan istrinya bermukim. Menyukai kopi dan bacaan. Segelas seduhan kopi Aceh dan sebuah buku, serta pojok yang tenang untuk membaca, hanya itu yang diperlukan untuk membuatnya bahagia. Afridal Darmi berkediaman di Aceh Besar. Alamat email: afridaldarmi@gmail.com
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...