Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Di rumah mewah yang megah, di dalam kompleks elite yang dijaga lebih ketat dari kantor KPU, sepasang suami istri tengah bertengkar hebat.
“Aku sudah susah payah gerakkan kepala kampung, kumpulin mereka, kasih wejangan, kasih harapan, kasih… ya, begitulah!” teriak Yandro, sang Menteri Kampung, dengan wajah merah padam. “Tapi kamu? Ah, kamu itu ceroboh, Tutku! Satu kerjaan kecil aja nggak becus! Ngejaga biar nggak ketahuan aja nggak bisa!”
Tutku, sang calon Bupati Meriang yang baru saja di-PSU-kan oleh MK, tak mau kalah. Dengan mata berkaca-kaca dan napas tersengal-sengal penuh emosi, ia membalas, “Oh, jadi sekarang aku yang disalahkan? Aku? Hah? Emang aku yang nyuruh kepala kampung ngumpul terang-terangan gitu? Emang aku yang suruh mereka bikin video pernyataan dukungan? Itu kan kerjaan orang-orangmu, tim suksesmu, koneksimu di pusat! Katanya kamu punya link ke mana-mana, kenapa nggak bisa atur hakim MK sekalian?!”
Suasana makin panas. AC ruangan 16 derajat tak mampu mendinginkan hawa di antara mereka.
“Aku ini sudah keluarin banyak duit, Tutku! Banyak!” Yandro mengangkat tangan, menunjuk ke langit-langit, seolah angka rupiah yang ia keluarkan bisa terukir di plafon. “Kamu tahu nggak berapa yang sudah aku gelontorkan buat kampanye? Buat bikin baliho segede gaban? Buat nyiapin nasi kotak buat massa? Bahkan aku sudah sewa konsultan dari luar negeri! Kamu tahu mereka bilang apa? Mereka bilang ini win-win solution! Hasilnya? Win apanya? Yang ada malah PSU! Duit melayang. Untung jabatanku belum hilang. Tapi, malu..istri sendiri saja tak mampu dimenangkan!”
Tutku mengibaskan rambutnya dengan gerakan dramatis. “Oh, kamu malu punya istri macam aku ya. Jangan banyak alasan, Yandro! Kamu tuh yang terlalu percaya diri! Aku kan udah bilang, kita harus pakai strategi yang lebih halus, lebih rapi. Jangan pakai gaya kampungan begitu. Udah kayak lagi bagi-bagi undangan kawinan aja!”
📚 Artikel Terkait
“Aku ini Menteri Kampung! Ya jelas yang kudekati kepala kampung! Masa aku dekati menteri lain?!” bentak Yandro.
“Tapi lihat sekarang, aku yang malu! Aku yang jadi bahan tertawaan orang-orang! Coba lihat berita! ‘Calon Bupati didiskualifikasi karena suami terlalu overacting!’ Aku ini jadi bahan meme di mana-mana, Yandro! Bahkan anak kita nggak mau ngaku aku ibunya!”
Yandro diam. Bukan karena merasa bersalah, tapi karena kehabisan kata-kata.
Akhirnya, keputusan pun diambil.
Malam itu, mereka pisah ranjang. Yandro terpaksa tidur di sofa ruang tengah, menggigil tanpa selimut, menatap langit-langit rumahnya dengan kosong. Duit miliaran melayang, jabatan istri raib, dan kini ranjang pun harus direlakan.
Sementara di kamar utama, Tutku menangis terisak sambil menggulirkan berita di ponselnya. Di salah satu portal berita, ada meme baru, foto dirinya dengan tulisan besar, “Cinta Bisa Buta, Tapi MK Tidak.”
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






