• Latest
Masih Adakah Anak-Anak yang Suka Membaca Buku? - IMG 20250423 WA0012 | Buku | Potret Online

Masih Adakah Anak-Anak yang Suka Membaca Buku?

April 23, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Masih Adakah Anak-Anak yang Suka Membaca Buku? - 1001348646_11zon | Buku | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Masih Adakah Anak-Anak yang Suka Membaca Buku? - 1001353319_11zon | Buku | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Masih Adakah Anak-Anak yang Suka Membaca Buku? - 1001361361_11zon | Buku | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Masih Adakah Anak-Anak yang Suka Membaca Buku?

Redaksi by Redaksi
April 23, 2025
in Buku
Reading Time: 2 mins read
0
Masih Adakah Anak-Anak yang Suka Membaca Buku? - IMG 20250423 WA0012 | Buku | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Refleksi di Hari Buku Sedunia

Oleh: Ririe Aiko

Hari ini, 23 April 2025, dunia memperingati Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia, sebuah momen yang seharusnya menjadi pengingat akan pentingnya literasi dalam kehidupan manusia. Namun, saya justru terdiam cukup lama. Ada kegelisahan yang tak bisa diabaikan: apakah anak-anak hari ini masih mencintai buku?

Baca Juga
  • 5 Manfaat Membaca Buku Kisah Nyata
  • Menguak Fakta Keren Hidup Sehat Rasulullah

Saat saya tumbuh di era 90-an, buku adalah hiburan sekaligus jendela dunia. Majalah Bobo, misalnya, adalah bacaan wajib mingguan yang saya nantikan. Cerita-ceritanya memicu imajinasi, kuis dan rubriknya menumbuhkan rasa ingin tahu. Buku ensiklopedia, walau berat dan tebal, menjadi harta karun yang menyenangkan untuk dijelajahi. Semua itu membentuk fondasi keingintahuan dan pemahaman saya tentang dunia.

Namun, kenyataan hari ini sangat berbeda. Anak-anak generasi Alpha, anak-anak yang lahir di era serbadigital lebih mengenal layar daripada lembaran kertas. Mereka lebih fasih mengoperasikan aplikasi TikTok atau memainkan game daring daripada membuka halaman buku. Majalah anak yang dulu berjaya kini nyaris tak terdengar gaungnya. Buku cerita anak, apalagi ensiklopedia, mulai kehilangan tempat di rak-rak rumah.

Baca Juga
  • Penerbitan Tiga Buku Bunga Rampai Diharap Tidak Hanya Menjadi Bagian Dari Ornamen Batu Nisan Semata
  • Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Fenomena ini jelas tidak bisa dianggap remeh. Literasi bukan sekadar keterampilan membaca, melainkan kemampuan memahami, berpikir kritis, dan mengolah informasi. Tanpa literasi yang kuat, bagaimana anak-anak bisa tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing? Miris rasanya menyadari bahwa banyak anak-anak hari ini lebih hafal nama selebgram dan gamers populer daripada nama tokoh pahlawan nasional.

Tentu, tidak adil jika kita hanya menyalahkan anak-anak atau perkembangan teknologi. Dunia memang telah berubah. Yang perlu kita evaluasi adalah bagaimana peran orang tua, pendidik, dan pemerintah, menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Apakah kita sudah cukup adaptif dalam memperkenalkan literasi di era digital?

Baca Juga
  • Rahasia Keajaiban Puasa Dalam 4 Dimensi Tasawuf
  • Buku TAJHIZ MAYYIT DAYAH RAUHUL MA’ARIF KAMBAM BUNGKAIH

Membaca buku tidak harus selalu dalam bentuk fisik. Buku digital, audio book, dan platform membaca interaktif bisa menjadi alternatif yang menjembatani dunia digital dengan budaya baca. Namun, konten yang berkualitas dan pendekatan yang tepat tetap menjadi kunci. Anak-anak membutuhkan role model yang gemar membaca, kurikulum yang memicu minat baca, serta lingkungan yang mendukung tumbuhnya kecintaan terhadap literasi.

Hari Buku Sedunia seharusnya menjadi refleksi bersama, bukan sekadar seremoni. Sudah waktunya pemerintah dan semua pihak menjadikan literasi sebagai prioritas utama. Program Makan Bergizi Gratis perlu diimbangi juga dengan program distribusi buku Gratis. Serta dana pendidikan seharusnya juga mengalir untuk menghidupkan kembali taman bacaan anak dan menerbitkan konten-konten lokal yang menarik.

Membaca buku bukan soal nostalgia. Ini soal masa depan bangsa. Bila kita ingin generasi mendatang mampu berpikir tajam, bertindak bijak, dan membawa Indonesia melangkah lebih maju, maka kita harus mulai dari hal paling mendasar: mengembalikan cinta pada buku. Karena dari situlah peradaban dimulai.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Masih Adakah Anak-Anak yang Suka Membaca Buku? - menulis abadii | Buku | Potret Online

Menulis, Kunci Untuk Abadi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com