POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Bedah buku

SEPERTI BULAN DAN MATAHARI

Redaksi by Redaksi
Juli 16, 2021
in Bedah buku, Buku, Indonesia, Resensi
0

 

Oleh Satria Dharma

Baca Juga
  • SEPERTI BULAN DAN MATAHARI - 6a828277 3831 4bb5 9562 8f650a8195fe | Bedah buku | Potret Online
    Aceh
    Aceh di Persimpangan Kuasa Global
    30 Jan 2026
  • 02
    Abdya
    Guru Penggerak Abdya Berhasil Menulis Buku.
    11 Jul 2024

Berdomisili di Surabaya

Baca Juga
  • SEPERTI BULAN DAN MATAHARI - 1001376951_11zon | Bedah buku | Potret Online
    Budaya
    Tentang Malas, Kerja, dan Indonesia Terhormat.
    23 Mar 2026
  • SEPERTI BULAN DAN MATAHARI - 5d1b24f5 cab3 406a 803e 8096d49bae2d | Bedah buku | Potret Online
    India
    Peluncuran Buku Penyair Indonesia dan India di Kalkata, India
    19 Nov 2024

“Apa yang dibutuhkan untuk memoderatkan cara berpikir beberapa pesantren yang ekstrem hanyalah dengan memberikan ilmu pengetahuan.”(Stanley J. Harsha)

Baca Juga
  • SEPERTI BULAN DAN MATAHARI - 015d1fa7 a1ec 4be9 88ff 085b6c469014 | Bedah buku | Potret Online
    #Sumbangan Aceh
    Menjaga Aceh, Menyelamatkan Republik: Refleksi atas Luka Sejarah, Kepemimpinan, dan Etika Bernegara
    11 Jan 2026
  • 02
    Artikel
    Indonesia Tidak Sedang Baik – Baik Saja
    14 Jul 2021

Ini adalah judul buku yang saya baca mulai kemarin dan akan menemani saya dalam perjalanan ke Bali pagi ini. Buku ini sangat menarik dan membuat saya merasa bahwa buku ini perlu dibaca oleh masyarakat Indonesia (saya selalu merasa demikian, jika menemukan buku-buku bagus. Everybody should read this good book, I always say to myself). 

Buku ini ditulis oleh Stanley Harsha (saya yakin Anda akan mengira penulisnya orang Indonesia karena nama belakangnya Harsha). Tidak. Stanley J. Harsha adalah seorang mantan diplomat Amerika yang ‘bule deles’. Tapi Stanley beristrikan seorang wanita Indonesia, seorang putri Solo, cucu buyut dari Ki Padmosusastro seorang sastrawan Jawa, dan telah tinggal di Indonesia selama hampir 30 tahun. Itulah sebabnya Stanley dianggap sebagai “Satu Orang Dua Tanah Air” oleh Azyumardi Azra dalam pengantarnya atas buku ini. 

Stanley yang benar-benar mempelajari segala hal tentang Indonesia dalam tugasnya sebagai diplomat dan juga larut dalam budaya Indonesia karena tinggal, hidup, dan beristrikan seorang putri Solo, mungkin lebih mengenal Indonesia daripada kebanyakan daripada kita. 

Buku ini adalah tentang Indonesia dalam pandangan seorang diplomat Amerika. Ia hidup dan mencintai Indonesia dengan kecintaan yang sangat tinggi, tapi tetaplah berpikir dan bersikap sebagai seorang Amerika. Bukan sekadar sebagai warganegara Amerika, tapi seorang diplomat Amerika yang ehem…seorang mualaf. (aku kok yo mesti kudu ngguyu soal mualap-mualapan iki). Stanley belajar tentang Islam dari Gus Dur sebelum memutuskan untuk menjadi mualaf sebagai syarat untuk menikahi Henny Mangoendipoero, Sang Putri Solo. Itu sebabnya buku ini menjadi sangat menarik. 

Jika Anda kebetulan menemukan buku ini di rak buku toko buku atau perpustakaan, ambil dan bacalah. Anda akan mendapatkan pencerahan dan pemahaman dari orang yang sangat otoritatif tentang pandangan Amerika mengenai Indonesia. “Ini adalah sebuah buku tentang kepedulian seorang Amerika terhadap Indonesia.” demikian kata Stanley sendiri dalam kata pengantarnya. “Jika saya dinilai terlalu kritis, hal itu dilakukan dengan harapan untuk dapat mendiskusikan masalah-masalah penting di antara dua negara. “

“Buku ini memuat hal-hal yang ringan dan romantik, namun ada sisi lain yang lebih gelap dan serius. Memadukan budaya Amerika dengan budaya Indonesia sangatlah sulit, tetapi kesudahannya sungguh mengasyikkan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya orang Amerika yang jatuh cinta pada Indonesia, dan demikian pula sebaliknya, banyak orang Indonesia yang jatuh hati pada Amerika.” Demikan katanya sebagai penutup.

“…Buku ini membawa pesan penting tentang cinta dan perdamaian seperti yang dialami seseorang yang menghabiskan hidup kariernya dan sesudahnya, membangun jembatan antarbangsa di dunia.” (Endi Bayuni, Redaktur Senior The Jakarta Post).

Surabaya, 16 Juli 2019

Previous Post

Budaya Mencatat pun Mati

Next Post

Sarjana BK Dilarang Menganggur

Next Post

Sarjana BK Dilarang Menganggur

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah