Dengarkan Artikel
.
Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc,M.A
Setelah era Syekh Abdurrauf al Singkili dan Syekh Nuruddin al Raniry yang merupakan Ulama dan Mufti dari Kerajaan Aceh. Estafet selanjutnya beralih ke Kesultanan Banjar Kalimantan. Di sana lahir seorang alim besar yang dikenal dengan karya Magnum oppusnya dalam kajian Fikih Islam Sabilal Muhtadin yang merupakan ulasan untuk Shiratal Mustaqim karya Syekh Nuruddin al-Raniry. Pengarang Kitab Sabilal Muhtadin adalah Syekh Muhammad Arsyad al Banjari dikenal dengan sebutan Datu Kalampaian, karena ia berkubur di sana.
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari hidup sekitar tahun 1710-1812 M, wafat dalam usia lebih seratus tahun. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menghabiskan usia remajanya di Mekkah Madinah selama lebih dari 30 tahun untuk menimba ilmu di pusat keilmuan Islam dunia ketika itu. Puluhan tahun dihabiskannya untuk menimba ilmu telah mengantarkan seorang Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menjadi alim besar di kawasan Asia Tenggara. Ini terbukti bahwa karyanya Kitab Sabilal Muhtadin yang ditulis dengan bahasa Melayu Arab Banjar mengutip banyak pandangan dari Kitab Tuhfat al-Muhtajkarya Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Nihayah al-Muhtaj karya Syekh Syihabuddin al-Ramli, Mughni al-Muhtaj karya Syekh Khatib al-Syarbini dan Fathul Wahab karya Syeikh al Islam Zakaria al-Anshari. Kitab Sabilal Muhtadin merupakan rujukan fikih kaum muslimin di Asia Tenggara, selain ilmiah, Kitab ini juga membahas fikih secara komprehensif.
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






