Dengarkan Artikel
Feri Irawan
Kepala SMK Negeri 1 Jeunieb
Tulisan berangkat dari keresahan penulis melihat fenomena demoralisasi yang memicu terjadinya krisis nilai dan moral.
Di tengah kemajuan teknologi saat ini, ternyata masih banyak masyarakat sulit memahami informasi yang diterima, dan rentan terhadap informasi yang salah.
Hal ini dikarenakan lemahnya kemampuan memilah, menilai, dan menggunakan informasi tersebut dengan benar.
📚 Artikel Terkait
Di lain sisi, kita prihatin dan gundah dengan maraknya caci maki atau kata-kata tak santun melalui platform media sosial. Bahkan media sosial kini menjadi sarana penyebaran informasi dan ekspresi diri yang sering kali melampaui batasan etika dan moral.
Hoaks yang beredar bebas di berbagai media sosial dengan dasyatnya sangat mudah mempengaruhi pola pikir, sikap, dan bahkan “keputusan kita” yang mudah percaya pada berita bohong karena secara psikologis cenderung emosional.
Tekanan dan dorongan politik juga ikut mempengaruhi kebanyakan mereka ikut-ikutan menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Yang penting, jika berita itu sesuai dengan “fashion” mereka, berita itu terus disebarkan tanpa memverifikasi kebenarannya.
Penyebab lainnya, rasa ingin tahu yang besar membuat mereka cenderung mencari informasi dari berbagai sumber dan meneruskan ke media sosial tanpa memperhitungkan dampak negatifnya.
Hal ini diperparah dengan rendahnya literasi, menyebabkan mereka bingung dan sulit mendapatkan informasi yang akurat.
Kita dapat lihat sejarah bagaimana hoax dapat menyebabkan peperangan, genosida dan konflik yang menyebabkan perpecahan suatu bangsa. Satu peluru hanya mampu membunuh satu orang, tetapi satu berita hoaks mampu membunuh ribuan orang.
Di akhir tulisan ini, mari mengubah kebiasaan pada diri sendiri dengan cara lebih bijak dalam menerima informasi kemudian menyebarkan kebiasaan baik tersebut kepada lingkungan kita. Stop share hoax. Stop hate speech. Bijaklah dalam bermedia sosial. Salam literasi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






