• Latest
OCCRP, Jokowi, dan Konspirasi Tingkat Dewa

Mengapa Filsafat

Januari 26, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mengapa Filsafat

"Jika badai menimpa pondok itu dan hujan salju turun, itulah saat yang tepat untuk berfilsafat” ( Martin Heidegger)

Fajar Ilhamby Fajar Ilham
Januari 28, 2025
Reading Time: 2 mins read
OCCRP, Jokowi, dan Konspirasi Tingkat Dewa
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

POTRET – “Jika badai menimpa pondok itu dan hujan salju turun, itulah saat yang tepat untuk berfilsafat” ( Martin Heidegger)

Senin sore di tanggal 20-01-2025, ide ini muncul ketika membaca sebuah tulisan Azharsyah Ibrahim di Potretonline. Tulisan berjudul “Pembelian impulsif godaan era digital “. Ini terjadi di era kita saat ini. Poin penting yang dapat saya simpulkan dari tulisan tersebut adalah:”bagaimana perilaku konsumtif manusia di era digital, segala fasilitas dan kemuduhan sudah tersedia dengan sangat instan”.

Maka dengan itu, setiap keputusan,hendaknya diawali dengan pertanyaan filsafat, seperti “Mengapa?” dan begitu juga ketika kita belajar filsafat. Kita akan memulainya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti,  apa itu filsafat? Mengapa kita harus mempelajari filsafat? Jika kita tidak mempelajarinya adakah yang salah?

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Dalam pola hidup masyarakat kita saat ini, kita dapat melihat fenomena bagaimana manusia sangat antusias dalam mengejar kebahagian yang sangat instan.  Perilaku ini tidak hanya dalam urusan personal, tetapi sudah terjangkit dalam wilayah sosial, politik dan ekonomi.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63
Artikel

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532
Koperasi

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Dalam pemilihan isme-isme, sebagian kelompok memilih sosialisme, kapitalisme, nasionalisme, demokrasi dan lain-lain, dengan harapan dapat menyelesaikan problema keseharian yang mereka hadapi.

Namun apa yang kita saksikan saat ini, dalam sistem masyarakat yang katanya demokrasi itu, kami di kalangan rakyat jelata, dipelihara untuk mengais uang receh yang mereka tabur saat-saat momen kampanye.

Serigala yang bebaju domba itu, tampil di muka umum menyampaikan visi misi (seolah) mulia. Ketika kursi itu dijalankan, kami berjalan di atas pusaran laut yang permukaan airnya biru dan di atasnya tampak tenang indah jika dipandang.

Namun demikian, semua dari kami yang melintasinya setiap dari kami akan ditarik dan ditengelamkan ke dasarnya, hingga dimunculkan kembali saat mereka membutuhkannya lagi.

Bukankah yang demikian itu telah membawa kita terjatuh dalam keadaan dekadensi moral, baik dalam bentuk apa yang mereka makan, ataupun dalam bentuk (ide), seperti makan siang gratis, dan bantuan langsung tunai (BLT)?

Masyarakat pada zaman ini tidak lagi memproteksi dirinya dengan kalimat “mengapa?” akan tetapi mereka langsung menerima dan menelannya,

Dalam menjawab seluruh pertanyaan tersebut dibutuhkan pemikiran dan perenungan filosofis melalui akal manusia. Para pemikir Islam menyebut persoalan tersebut sebagai ‘Ushûluddîn’ atau prinsip-prinsip agama.

Mereka mempertanyakan “Apakah awal dari segala sesuatu?” dan “Apakah akhir dari perbuatan ini?” Adalah cara manusia dalam mengeksekusikan permasalahannya dengan pisau filsafat.

Dalam hal ini kita harus berpijak pada panduan umat manusia, yaitu Al-Quran. Allah berfirman “hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari laki dan perempuan; dan kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kumu dapat saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa diatara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui maha teliti (Al-Hujarat:13)

Dalam surat al-Mujadilah  juga diterangkan bahwa sang pencipta akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.

Adapun mengenai kepada para utusan-Nya, itu hanya-lah semiotik dari suri teladan akhlak yang bisa ditiru sesuai konteks zamannya, dan kemampuan individu manusia dalam menjalankan kehidupanya, bukan kebalikan mengkultuskannya.

Dalam hubungan sesama manusia, Nabi Muhammad memberi perumpamaan sebagai berikut. “Sekelompok orang naik sebuah kapal. Kapal berlayar mengarungi lautan. Setiap penumpang duduk di tempatnya masing-masing.

Salah seorang penumpang yang beralasan bahwa tempat duduknya adalah khusus miliknya, segera melubangi tempat duduknya. Sekiranya penumpang yang lain buru-buru menghalangi perbuatannya, mereka tidak saja akan menyelamatkan diri mereka, tetapi juga menyelamatkannya. Aku berfilsafat maka aku waras!.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Rumah dan Ibu,  Akar Kebahagiaan

Rumah dan Ibu, Akar Kebahagiaan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com