POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Cara Orang Korea Menghargai Mega

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
January 25, 2025
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRET#Korea Selatan
Cara Orang Korea Menghargai Mega
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Dari kecil kita selalu diajarkan hormat dan menghargai orang lain. Ternyata, orang Korea lebih jago dalam menghargai orang lain. Sebagai contoh, Megawati Hangestri Pertiwi dibuatkan acara spesial, Mega’s Day. Luar biasa. Kalau saya di sana pasti dibuatkan juga “Camanewak’s Day” Ngarap…! Sambil ngopi usai acara yasinan, yok kita bahas kehebohan orang Korea menyiapkan acara Mega’s Day.

Di negeri ginseng, ada hari spesial bernama Mega’s Day. Jangan salah, ini bukan perayaan diskon belanja besar-besaran. Ini penghargaan luar biasa untuk seorang atlet voli Indonesia asal Jember, Megawati. Ia seperti membawa sinar terang bagi klub Red Sparks. Sebuah penghormatan epik yang membuat kita, di sini, tertegun dalam keheningan.

Coba bayangkan, wak! Mega dihadiahi hari khusus oleh klubnya, lengkap dengan acara besar, penerjemah untuk fans Indonesia. Bahkan, pengalaman budaya Korea. Fans Indonesia diundang secara resmi, 200 orang diajak nonton langsung, dan Duta Besar kita akan hadir. Megawati, seorang atlet luar negeri, diperlakukan seperti pahlawan. Sebuah hal yang mungkin hanya ada di mimpi para atlet kita di negeri sendiri.

Sementara itu, di tanah air tercinta, mari kita bahas seseorang bernama Shin Tae Yong. Sosok dari Korea ini datang ke Indonesia, bersusah payah mengangkat sepak bola kita dari keterpurukan. Dia bukan hanya pelatih, tapi seperti seorang petani di ladang kering. Menanam benih, menyiram harapan, hingga akhirnya buahnya mulai terlihat.

Namun, bagaimana kita memperlakukannya? Alih-alih memberikan penghargaan, kita malah memberinya sebuah perpisahan penuh drama, pemecatan. Seolah-olah STY adalah aktor utama dalam sinetron yang episode akhirnya selalu menyedihkan. Kalau penghargaan Korea untuk Mega adalah Mega’s Day, penghargaan kita untuk Shin adalah Bye’s Day. Epik, bukan?

PSSI, organisasi tercinta yang katanya “untuk sepak bola Indonesia,” mungkin perlu belajar dari Red Sparks. Menghargai itu tidak butuh banyak teori. Mereka tidak perlu membentuk komite atau rapat berjilid-jilid. Mereka tahu apa yang penting, apresiasi nyata.

📚 Artikel Terkait

151 SD Gurunya Mogok Ngajar Gara-gara TPP Dipotong

Syarifuddin Aliza

Mahasiswa Berpangkat Wirausaha

Ketika Negara Memberi Jubah Gaib

Coba bayangkan, apa yang terjadi jika STY tetap di sini? Mungkin kita akan melihat generasi emas sepak bola Indonesia yang tidak sekadar viral di TikTok karena gaya rambut, tapi karena skill di lapangan. Namun, PSSI lebih memilih drama, membuang Shin seperti kertas tak berguna, tanpa berpikir dua kali.

Bayangkan jika Shin kembali ke Korea. Suatu hari, media Korea mungkin menulis berita,
“Shin Tae Yong, pelatih yang membawa Indonesia ke Piala Dunia U-20, kini kembali ke tanah air dan melatih klub besar. Korea Selatan menyambutnya dengan Shin’s Day, hari untuk menghormati jasanya di kancah internasional.”

Lalu kita? Hanya bisa menonton dari layar ponsel sambil menyesali keputusan yang terlalu terburu-buru. Mungkin kita akan berkata, “Shin itu pahlawan tanpa tanda jasa.” Ya, benar, tanpa tanda jasa, karena kita bahkan lupa memberinya penghargaan.

Korea memberi kita pelajaran penting, apresiasi itu tidak sulit. Mereka tahu bagaimana menghargai Mega, meski ia bukan warga negara mereka. Mereka memahami bahwa menghormati orang berjasa itu bukan sekadar ucapan, tapi tindakan nyata.

Kapan kita belajar? Mungkin ketika semuanya sudah terlambat, dan kita hanya bisa menjadi pengamat sejarah dari jauh. Atau, kita tetap seperti ini:l, bangsa yang pandai mencampakkan bakat luar biasa dan menggantinya dengan drama tanpa akhir.

Ah, sudahlah. Untuk saat ini, mari kita nikmati Mega’s Day. Setidaknya, ada satu nama Indonesia yang diingat dunia dengan rasa bangga. Semoga satu hari nanti kita punya Shin’s Day. Tapi kalau tidak, ya, tidak apa-apa. Kita kan sudah biasa begitu.

“Bang, kenapa tak sana, ikut Mega’s Day juga.”

“Pingin sih, cuma Noh Ran belum ada sinyal ni, wak.” Ups

#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRET#Korea Selatan
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Konsep Birul Walidain di Era Digital

Konsep Birul Walidain di Era Digital

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00