• Latest
Cara Orang Korea Menghargai Mega

Cara Orang Korea Menghargai Mega

Januari 25, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Cara Orang Korea Menghargai Mega

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Januari 26, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRET#Korea Selatan
Cara Orang Korea Menghargai Mega
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Dari kecil kita selalu diajarkan hormat dan menghargai orang lain. Ternyata, orang Korea lebih jago dalam menghargai orang lain. Sebagai contoh, Megawati Hangestri Pertiwi dibuatkan acara spesial, Mega’s Day. Luar biasa. Kalau saya di sana pasti dibuatkan juga “Camanewak’s Day” Ngarap…! Sambil ngopi usai acara yasinan, yok kita bahas kehebohan orang Korea menyiapkan acara Mega’s Day.

Di negeri ginseng, ada hari spesial bernama Mega’s Day. Jangan salah, ini bukan perayaan diskon belanja besar-besaran. Ini penghargaan luar biasa untuk seorang atlet voli Indonesia asal Jember, Megawati. Ia seperti membawa sinar terang bagi klub Red Sparks. Sebuah penghormatan epik yang membuat kita, di sini, tertegun dalam keheningan.

Coba bayangkan, wak! Mega dihadiahi hari khusus oleh klubnya, lengkap dengan acara besar, penerjemah untuk fans Indonesia. Bahkan, pengalaman budaya Korea. Fans Indonesia diundang secara resmi, 200 orang diajak nonton langsung, dan Duta Besar kita akan hadir. Megawati, seorang atlet luar negeri, diperlakukan seperti pahlawan. Sebuah hal yang mungkin hanya ada di mimpi para atlet kita di negeri sendiri.

Sementara itu, di tanah air tercinta, mari kita bahas seseorang bernama Shin Tae Yong. Sosok dari Korea ini datang ke Indonesia, bersusah payah mengangkat sepak bola kita dari keterpurukan. Dia bukan hanya pelatih, tapi seperti seorang petani di ladang kering. Menanam benih, menyiram harapan, hingga akhirnya buahnya mulai terlihat.

Namun, bagaimana kita memperlakukannya? Alih-alih memberikan penghargaan, kita malah memberinya sebuah perpisahan penuh drama, pemecatan. Seolah-olah STY adalah aktor utama dalam sinetron yang episode akhirnya selalu menyedihkan. Kalau penghargaan Korea untuk Mega adalah Mega’s Day, penghargaan kita untuk Shin adalah Bye’s Day. Epik, bukan?

PSSI, organisasi tercinta yang katanya “untuk sepak bola Indonesia,” mungkin perlu belajar dari Red Sparks. Menghargai itu tidak butuh banyak teori. Mereka tidak perlu membentuk komite atau rapat berjilid-jilid. Mereka tahu apa yang penting, apresiasi nyata.

Coba bayangkan, apa yang terjadi jika STY tetap di sini? Mungkin kita akan melihat generasi emas sepak bola Indonesia yang tidak sekadar viral di TikTok karena gaya rambut, tapi karena skill di lapangan. Namun, PSSI lebih memilih drama, membuang Shin seperti kertas tak berguna, tanpa berpikir dua kali.

Bayangkan jika Shin kembali ke Korea. Suatu hari, media Korea mungkin menulis berita,
“Shin Tae Yong, pelatih yang membawa Indonesia ke Piala Dunia U-20, kini kembali ke tanah air dan melatih klub besar. Korea Selatan menyambutnya dengan Shin’s Day, hari untuk menghormati jasanya di kancah internasional.”

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Lalu kita? Hanya bisa menonton dari layar ponsel sambil menyesali keputusan yang terlalu terburu-buru. Mungkin kita akan berkata, “Shin itu pahlawan tanpa tanda jasa.” Ya, benar, tanpa tanda jasa, karena kita bahkan lupa memberinya penghargaan.

Korea memberi kita pelajaran penting, apresiasi itu tidak sulit. Mereka tahu bagaimana menghargai Mega, meski ia bukan warga negara mereka. Mereka memahami bahwa menghormati orang berjasa itu bukan sekadar ucapan, tapi tindakan nyata.

Kapan kita belajar? Mungkin ketika semuanya sudah terlambat, dan kita hanya bisa menjadi pengamat sejarah dari jauh. Atau, kita tetap seperti ini:l, bangsa yang pandai mencampakkan bakat luar biasa dan menggantinya dengan drama tanpa akhir.

Ah, sudahlah. Untuk saat ini, mari kita nikmati Mega’s Day. Setidaknya, ada satu nama Indonesia yang diingat dunia dengan rasa bangga. Semoga satu hari nanti kita punya Shin’s Day. Tapi kalau tidak, ya, tidak apa-apa. Kita kan sudah biasa begitu.

“Bang, kenapa tak sana, ikut Mega’s Day juga.”

“Pingin sih, cuma Noh Ran belum ada sinyal ni, wak.” Ups

#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Konsep Birul Walidain di Era Digital

Konsep Birul Walidain di Era Digital

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com