• Latest
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2)

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2)

Januari 24, 2025
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2)

Malahayati: Rencong di Tangan Perempuan

Redaksiby Redaksi
Januari 24, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRET
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2)
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Gunawan Trihantoro

(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

Cornelis de Houtman adalah pelaut Belanda yang memimpin ekspedisi ke Nusantara pada akhir abad ke-16. Ia tewas dalam pertempuran melawan pasukan Aceh yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati. [1]

***
Di bawah langit Aceh yang membentang biru,
Ombak berkejaran menyapa dermaga.
Di sana, kisah perempuan perkasa bermula,
Malahayati, Laksamana laut yang tak tertandingi.
Bukan sekadar nama yang tercatat dalam sejarah,
Ia adalah simbol keberanian,
Darah Aceh yang mengalir dalam tiap ombak.

Ketika Portugis dan Belanda datang,
Dengan kapal-kapal besar membawa kerakusan,
Malahayati berdiri di depan,
Bukan sekadar perisai,
Namun badai yang menggulung ambisi kolonial.
Di balik wajah lembutnya, ada tekad baja,
Di genggamannya, rencong adalah suara.

Cornelis de Houtman datang dengan kapal-kapalnya,
Menjanjikan perdagangan, membawa tipu daya.
Namun Aceh, negeri yang penuh marwah,
Tak akan tunduk pada ketamakan.
Malahayati memimpin pasukannya,
Janda-janda perang yang menyimpan luka,
Namun menjadikannya bara semangat.

“Rencong ini bukan sekadar senjata,” katanya,
“Ini adalah suara tanah yang enggan diam.”
Dan di tengah pertempuran,
Ia melangkah ke depan, menghadapi de Houtman.
Tikamannya adalah pesan,
Bahwa tanah Aceh takkan dijual.
Di tengah darah dan angin laut,
Cornelis de Houtman tumbang,
Dan sejarah mencatat kekalahan kolonial.

Bagi Malahayati, ini bukan sekadar kemenangan,
Namun janji kepada leluhur.
Bahwa Aceh akan berdiri,
Sebagai benteng Islam di Nusantara.
Ia bukan hanya Laksamana pertama,
Namun juga penjaga marwah negeri.
Dalam setiap langkahnya,
Ada doa dari tanah dan air.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

Aceh kala itu adalah singgasana,
Yang menjunjung tinggi nilai perempuan.
Malahayati menjadi bukti,
Bahwa perempuan adalah pilar negeri.
Ia memimpin armada laut dengan cermat,
Menyusun strategi dengan hati-hati.
Tak gentar meski lawan bersenjata lengkap,
Karena ia tahu,
Keberanian lebih tajam dari pedang.

Di dermaga, anak-anak bernyanyi,
Tentang Malahayati dan rencongnya.
Tentang bagaimana perempuan Aceh,
Mengguncang dunia dengan keberanian.
Ia adalah inspirasi,
Bagi generasi yang lahir setelahnya.
Bahwa perjuangan tak mengenal gender,
Bahwa cinta tanah air adalah panggilan suci.

Namun keberanian Malahayati,
Bukan tanpa duka.
Ia kehilangan suami di medan perang,
Namun kesedihan itu,
Dibakar menjadi api perjuangan.
Ia mendirikan pasukan Inong Balee,
Janda-janda yang kehilangan pasangan.
Bersama mereka, ia membangun benteng,
Benteng yang tak hanya dari batu,
Namun dari tekad dan doa.

Di tengah malam yang sunyi,
Malahayati merenung di atas geladak.
“Apakah tanah ini akan bebas selamanya?”
Ia bertanya pada bintang-bintang.
Namun ia tahu,
Setiap tikaman rencong adalah doa,
Setiap langkah adalah janji,
Bahwa Aceh akan terus merdeka.

Kini, namanya diabadikan,
Di setiap sudut Aceh,
Di setiap cerita rakyat.
Ia adalah bukti,
Bahwa perempuan mampu memimpin,
Bahwa keberanian tak mengenal jenis kelamin.
Di museum, di buku sejarah,
Nama Malahayati menjadi bintang.
Namun lebih dari itu,
Ia hidup dalam hati setiap anak Aceh.

Malahayati adalah teladan,
Bahwa kekuatan bukan hanya milik laki-laki.
Ia adalah inspirasi bagi perempuan,
Yang ingin melawan keterbatasan.
“Jadilah seperti Malahayati,”
Seorang ibu berbisik pada anaknya,
“Berani melawan ketidakadilan,
Berani mencintai tanah air.”

Di bawah langit Aceh yang sama,
Ombak masih berkejaran.
Namun kini, mereka membawa cerita,
Tentang seorang perempuan,
Yang menulis sejarah dengan rencongnya.
Cornelis de Houtman telah tumbang,
Namun semangat Malahayati tetap hidup.
Ia adalah gelombang yang tak pernah reda,
Ia adalah api yang tak pernah padam.
***

Rumah Kayu Cepu, 23 Januari 2025

CATATAN
[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Laksamana Malahayati yang disebut-sebut sebagai laksamana laut perempuan pertama di dunia. https://tirto.id/cornelis-de-houtman-tewas-dalam-tikaman-rencong-malahayati-cz2x

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kolaborasi Guru dan Murid MIN 11 Banda Aceh Hasilkan Karya Buku Cerita Bergambar “Faiha dan Bunga Misteri”

Kolaborasi Guru dan Murid MIN 11 Banda Aceh Hasilkan Karya Buku Cerita Bergambar "Faiha dan Bunga Misteri"

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com