HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Peunajoh Prang

Indra Mardiani, M.Pd by Indra Mardiani, M.Pd
Januari 22, 2025
in Cerpen, Sastra
Reading Time: 3 mins read
0
Peunajoh Prang
595
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

 

POTRET – Suasana pagi yang mencekam, dingin menusuk tulang dirasakan oleh Agam dan Pak Wa di atas Gunung Peut Sagoe, Kabupaten Pidie. Mereka terpisah dari teman-temannya saat latihan gerilya seminggu yang lalu.

Baca Juga

Aku Merindu

Maret 17, 2026
Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Maret 16, 2026

Pergi dan Kembali

Maret 14, 2026

Langkah kaki semakin melambat ketika Agam mendengar suara aneh di belakangnya. Ia berjaga-jaga, sembari berpikir untuk mengambil tindakan, jika diperlukan.

“Agam, ayuk kita jalan ke arah ini,” suara Pak Wa memecah kesunyian.

“Astaghfirullah, Pak Wa, bikin kaget! Hampir saja jantungku copot,” balas Agam sambil memegang dadanya.

“Agam, kamu harus lebih waspada. Hal seperti ini bisa terjadi tiba-tiba. Gunung ini begitu luas, jebakan ada di mana-mana.”

“Siap, Pak Wa,” jawab Agam sambil berdiri tegap. Tangan kanannya memberi hormat, sementara tangan kirinya memeluk erat senjata rakitan miliknya.

Agam adalah seorang anggota organisasi National Rifle Association di Amerika Serikat. Ia bergabung dengan organisasi tersebut saat menempuh pendidikan di sana. Setelah pulang ke Aceh, ia diminta bantuan oleh Pak Wa untuk merakit senjata yang akan digunakan oleh pasukan gerilya.

Keahliannya dalam merakit senjata akhirnya membawa Agam ke Gunung Peut Sagoe. Di sanalah ia bertemu dengan pasukan gerilya, yang terdiri dari anak-anak muda, baik laki-laki (agam) maupun perempuan (inoeng).

Pasukan melaksanakan salat dan menghafal Al-Qur’an di subuh hari, lalu melakukan latihan menjelang siang hingga sore. Para inoeng menyiapkan makanan untuk disantap setelah latihan. Salah satu menu yang menarik perhatian Agam adalah sie reuboh.

“Apa bahan dasar sie reuboh?” tanya Agam.

“Daging sapi,” jawab seorang inoeng. “Daging ini biasanya diantar oleh Bu Aisyah dua kali sebulan ke gunung untuk pasukan. Ini menu yang sangat populer di kalangan gerilya.”

ADVERTISEMENT

Bu Aisyah adalah istri Pak Wa yang sangat setia menemani garis perjuangan suaminya, meski dia tidak naik gunung.

“Apa keistimewaan sie reuboh sampai jadi favorit?”

“Salah satu kelebihannya adalah tahan lama, karena diracik dari rempah-rempah khas Bumi Serambi Mekkah. Rasanya sangat nikmat di lidah. Dan ini tahan hingga satu bulan. Makanan ini memudahkan para gerilya untuk menyimpan dan mengonsumsinya kapan saja,” lanjut Inoeng.

“Selain sie reuboh, ada lagi menu yang juga disukai gerilya. Bahannya mudah didapat dan diolah, yaitu asam kareng.” Gadis yang sudah lama di gunung itu menambahkan.

“Asam kareng?” Agam mengerutkan kening.

“Iya, asam kareng dibuat dari ikan teri yang sudah dijemur, lalu digoreng dan diulek bersama cabai, bawang merah, serta asam sunti. Kalau dimakan dengan nasi putih hangat, rasanya sungguh luar biasa.”

“Kedua makanan itu sering disebut peunajoh prang, karena selalu dikonsumsi pasukan gerilya di gunung.”

Agam manggut-manggut mendengar penjelasan inoeng. Selama tinggal di Amerika, ia belum pernah mencicipi makanan seperti ini.

***

Waktu latihan pun tiba. Seluruh pasukan mendengar arahan dari Pak Wa. Mereka dibagi menjadi sepuluh kelompok, masing-masing terdiri dari lima belas orang. Agam bergabung dengan kelompok Pak Wa, mengingat ia belum berpengalaman di gunung dalam kondisi seperti ini.

Seluruh pasukan mulai bergerak sesuai arahan. Agam dan tiga belas pasukan lainnya mengikuti Pak Wa ke arah utara Gunung Peut Sagoe. Satu jam telah berlalu, tiba-tiba salah satu pasukan tak sengaja menginjak ranjau sisa perjuangan masa lalu.

“Jangan bergerak!” seru Pak Wa dengan tegas. Ia segera mencari batu besar untuk menggantikan posisi kaki pasukan itu secara perlahan.

Pasukan lain diminta menjauh dari area tersebut, karena situasi bisa berbahaya. Setelah berhasil menggantikan posisi kaki dengan batu, Pak Wa segera berlari tanpa melihat pasti arah yang dituju.

Setelah jauh berlari dan tak mendengar suara ledakan, Pak Wa dan Agam menoleh ke belakang.

“Kok nggak ada siapa-siapa? Ke mana pasukan lainnya?” tanya Pak Wa, napasnya tersengal.

Agam yang masih ngos-ngosan hanya bisa melongo. “Tadi mereka bersama kita, kenapa sekarang sudah tidak ada?”

“Iya, Agam. Tadi aku hanya fokus berlari tanpa melihat ke belakang.”

“Tak ada jejak yang bisa kita ikuti, kecuali berpedoman pada kompas ke arah utara, sesuai kesepakatan,” ujar Agam, mencoba tenang.

Pak Wa mengangguk. Mereka mulai berjalan kembali setelah istirahat dan makan nasi dengan sie reuboh yang mereka bawa.

Jalan yang dilalui sudah begitu jauh, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan pasukan lain. Matahari mulai digantikan oleh rembulan. Bulu kuduk Agam meremang. Ini pengalaman pertamanya berada di pegunungan yang tidak dikenalnya.

“Mari kita bermalam di sini,” ujar Pak Wa sambil menunjuk sebuah pohon besar.

“Di sini? Hanya di bawah pohon? Tidak ada tenda atau terpal untuk melindungi kita dari hujan atau hewan buas?” tanya Agam, ragu.

“Iya, di sini. Tempat ini cukup aman,” jawab Pak Wa, yakin.

Malam itu, mereka berbagi nasi dengan sie reuboh. Hening, hanya suara angin dan desau daun yang menemani. Di balik dinginnya malam dan gelapnya hutan, Agam sadar: ini bukan sekadar latihan. Ini ujian nyata tentang keberanian, kepercayaan, dan bertahan hidup.

 

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 361x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 274x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 228x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 190x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare238
Indra Mardiani, M.Pd

Indra Mardiani, M.Pd

Penulis bernama Indra Mardiani, M.Pd., saat ini bertugas di MIN 11 Banda Aceh. Baru memiliki beberapa buku solo dan buku antologi, ia sering mengatakan bahwa “Kebahagiaan harus diciptakan oleh diri sendiri, bukan hanya menunggu lingkungan yang membentuknya.

Baca Juga

​TEOLOGI LIMBAH
Puisi

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Artikel

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala
Dinas Koperasi

Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala

Maret 18, 2026
Next Post
Palestina, Gencatan Senjata

Palestina, Gencatan Senjata

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com