Artikel · Potret Online

Menyelamatkan Generasi Muda di Tengah Arus Digital

Penulis Basri A. Bakar
Juli 14, 2026
4 menit baca 39
9c4c44ec-11f0-4bb8-bf35-c5ba89d9c7a3
Foto / IlustrasiMenyelamatkan Generasi Muda di Tengah Arus Digital
Disunting Oleh

Oleh: Basri A. Bakar

Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah peradaban manusia. Internet dan media sosial menghadirkan kemudahan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Berbagai informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Proses belajar menjadi lebih cepat, komunikasi semakin mudah, dan peluang ekonomi terbuka semakin luas. 

Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, dunia digital juga menyimpan ancaman serius, terutama bagi siswa dan remaja yang masih berada padafase pencarian jati diri.

Digitalisasi media ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia menjadi sarana pendidikan, dakwah, kreativitas, dan inovasi. Di sisi lain, ia membuka pintu bagi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perjudian daring, kekerasan, hingga pornografi yang sangat mudah diakses tanpa batas ruang dan waktu. 

Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Salah satu ancaman yang paling mengkhawatirkan adalah mudahnya akses terhadap konten pornografi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan pornografi sejak usia dini dapat mengganggu perkembangan otak, menurunkan kemampuan berkonsentrasi, memengaruhi kesehatan mental, bahkan membentuk perilaku adiktif. 

Ketika kecanduan telah terjadi, remaja cenderung kehilangan kontrol diri, menurunkan motivasi belajar, mengalami gangguan hubungan sosial, dan berisiko melakukan perilaku seksual yang menyimpang.

Ironisnya, kecanduan digital sering kali tidak disadari.Awalnya hanya beberapa menit membuka media sosial atau menonton video, kemudian berkembang menjadi kebiasaan berjam-jam setiap hari. Algoritma media digital memang dirancang untuk membuat pengguna terus bertahan di layar melalui rekomendasi konten yang sesuai dengan minatnya. 

Akibatnya, waktu belajar, beribadah, berolahraga, bahkan berinteraksi dengan keluarga semakin berkurang.

Fenomena ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan melarang penggunaan telepon pintar. Dunia digital sudah menjadi bagian dari kehidupan modern. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengelola teknologi secara bijaksana, sehingga manusia menjadi pengendali teknologi, bukan sebaliknya.

Peran Keluarga dan Pemerintah

Peran keluarga menjadi benteng pertama. Orang tua tidak cukup hanya menyediakan gawai bagi anak, tetapi juga harus menjadi pendamping digital. Komunikasi yang hangat, pengawasan yang proporsional, serta keteladanan dalam menggunakan media digital merupakan langkah yang sangat penting. 

Orang tua yang sibuk bermain telepon genggam akan sulit mengajak anak mengurangi ketergantungan terhadap layar.

Sekolah juga memiliki tanggung jawab besar. Pendidikan literasi digital perlu menjadi bagian dari pembelajaran, bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga membangun etika bermedia, kemampuan berpikir kritis, keamanan digital, serta kesadaran terhadap bahaya pornografi, perundungan siber, dan penyalahgunaan media sosial. 

Guru harus menjadi pembimbing yang mampu membantu siswa memahami bahwa tidak semua informasi di internet layak dipercaya maupun ditiru.

Pemerintah dan penyedia layanan internet pun harus memperkuat sistem perlindungan anak melalui penyaringan konten negatif, penegakan hukum terhadap penyebar pornografi, serta peningkatan edukasi masyarakat mengenai keamanan digital. Perlindungan generasi muda bukan hanya tugas keluarga, melainkan tanggung jawab bersama.

Di sisi lain, para remaja sendiri harus membangun kesadaran bahwa masa muda adalah investasi masa depan. Waktu yang dihabiskan tanpa kendali di dunia maya sesungguhnya dapat mengurangi kesempatan untuk mengembangkan potensi diri. Mengisi waktu dengan membaca buku, mengikuti organisasi, berolahraga, menghafal Al-Qur’an, berkarya di bidang seni, riset, atau kewirausahaan akan memberikan manfaatyang jauh lebih besar dibandingkan menghabiskan berjam-jam menelusuri media sosial tanpa tujuan.

Dalam perspektif Islam, menjaga pandangan merupakan salah satu benteng utama menjaga kesucian hati. Allah Swt. berfirman:

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya.Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30).

Ayat ini mengajarkan bahwa menjaga pandangan tidak hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital.Apa yang dilihat melalui layar telepon genggam akan memengaruhi pikiran, hati, dan perilaku seseorang.

Selain itu, Rasulullah saw. mengingatkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas umurnya, termasuk bagaimana waktu tersebut digunakan. Karena itu, penggunaan media digital hendaknya menjadi sarana memperbanyak ilmu, mempererat silaturahmi, menyebarkan kebaikan, dan meningkatkan produktivitas.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi tidak mungkin dihentikan. Yang dapat dilakukan adalah membangun karakter yang kuat agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara sehat, cerdas, dan bertanggung jawab. 

Kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem digital yang aman bagi anak-anak dan remaja.

Generasi muda adalah aset bangsa yang paling berharga.Jangan biarkan masa depan mereka dirampas oleh kecanduan dunia digital. Dengan pendidikan karakter, literasi digital yang kuat, pengawasan yang bijaksana, serta penguatan nilai-nilai agama dan moral, kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kecerdasan intelektual, dan ketangguhan menghadapi tantangan zaman.

Penulis alumnus IPB University bidang Komunikasi

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Basri A. Bakar
Penulis alumnus IPB University bidang Komunikasi
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...