Artikel · Potret Online

Jangan Lagi Minder Menjadi Muslim (Penutup)

Penulis  Rosadi Jamani
Juli 2, 2026
3 menit baca 9
50edda26-98f9-4562-96e5-2c5ece7189ad
Foto / IlustrasiJangan Lagi Minder Menjadi Muslim (Penutup)

Oleh Rosadi Jamani

Ini kisah terakhir dari negeri yang banyak melahirkan jenius Islam (Genius Land of Islam). Saya senang, tulisan dari part 1-4 banyak dibaca, bahkan dishare dan dimuat di sejumlah media online. Kali ini path terakhir setelah itu kita cari tema menarik lainnya. Sekadar informasi Norwegia baru saja memulangkan Pesisir Ivory 2-1. Prancis vs Swedia masih berlangung. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Setelah menelusuri jejak Uzbekistan, rasanya sulit untuk tidak bertanya kepada diri sendiri. Mengapa kita sering kagum kepada peradaban orang lain, tetapi lupa, nenek moyang intelektual umat ini pernah mengajarkan dunia bagaimana berpikir?

Mengapa kita begitu fasih menyebut revolusi industri, tetapi gagap ketika diminta menjelaskan revolusi ilmu pengetahuan yang lahir dari Bukhara dan Samarkand?

Barangkali inilah akibat jika sebuah generasi terlalu lama dicekoki, kejayaan hanya datang dari satu arah mata angin. Padahal sejarah berbicara jauh lebih jujur dari propaganda. Sejarah mencatat, ketika Islam benar-benar dipahami dan diamalkan, lahirlah peradaban bukan hanya membangun masjid, tetapi juga rumah sakit, observatorium, perpustakaan, universitas, hingga berbagai cabang ilmu yang menjadi fondasi dunia modern.

Uzbekistan adalah bukti yang berdiri tegak. Di tanah itu lahir Imam Al-Bukhari yang menjaga kemurnian hadis Rasulullah. Di sana tumbuh Ibnu Sina mengubah wajah dunia kedokteran. Dari kawasan itu muncul Al-Khawarizmi melahirkan aljabar dan algoritma, Al-Biruni mengagumkan dunia dengan kejeniusan ilmiahnya, hingga Imam Al-Maturidi memperkokoh fondasi akidah Ahlusunah.

Mereka tidak lahir dari peradaban yang antiilmu. Mereka juga bukan produk masyarakat yang memusuhi agama.

Sebaliknya, mereka lahir karena Al-Qur’an mendorong manusia untuk berpikir, meneliti, membaca, mengamati langit, memahami bumi, dan mengambil hikmah dari setiap ciptaan Allah.

Inilah jawaban paling telak bagi anggapan, Islam identik dengan kemunduran. Yang membuat sebuah umat tertinggal bukanlah agamanya, melainkan ketika umat itu berhenti membaca, berhenti belajar, berhenti berpikir, lalu sibuk bertengkar tentang hal-hal yang tidak menambah ilmu sedikit pun.

Sindiran ini tidak hanya layak diarahkan kepada dunia luar. Kita sebagai umat Islam juga perlu bercermin. Terlalu sering energi habis untuk saling menjatuhkan, terlalu ramai memperdebatkan hal-hal remeh. Sementara semangat membaca, meneliti, dan berkarya justru tertinggal jauh. Padahal musuh terbesar sebuah peradaban bukanlah serangan dari luar, melainkan rasa puas dengan kebodohan dari dalam.

Sejarah Uzbekistan mengajarkan, sebuah bangsa bisa kehilangan istana, dijajah, dibakar, bahkan dipaksa melupakan huruf-huruf kitab sucinya. Namun selama iman tetap hidup di dada manusia dan ilmu tetap dimuliakan, kebangkitan hanyalah soal waktu.

Mungkin inilah pelajaran terbesar yang bisa kita bawa pulang. Jangan pernah minder menjadi Muslim.

Kita adalah bagian dari agama melahirkan peradaban besar, membangun tradisi keilmuan menghubungkan langit dengan bumi, mengajarkan bahwa mencari ilmu adalah ibadah, dan menjadikan pena lebih mulia dari pedang ketika digunakan untuk menegakkan kebenaran.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Islam pernah berjaya. Sejarah sudah menjawabnya dengan sangat lantang.

Pertanyaannya adalah, apakah kita mau menjadi generasi hanya sibuk mengenang kejayaan itu, atau menjadi generasi berani menghidupkannya kembali?

Sebab Uzbekistan telah membuktikan satu hal yang tak terbantahkan. Cahaya Islam mungkin pernah berusaha dipadamkan oleh penjajah, dibungkam oleh rezim, bahkan ditimbun oleh reruntuhan sejarah. Namun cahaya itu tidak pernah benar-benar padam.

Ia hanya menunggu lahirnya generasi yang kembali mencintai Al-Qur’an, memuliakan ulama, menghormati guru, haus akan ilmu, dan menjadikan iman sebagai kompas kehidupan. Karena ketika ilmu berjalan bergandengan dengan iman, sejarah tidak sekadar tercipta. Sejarah akan kembali ditulis oleh kaum Muslimin. Terima kasih sudah mengikuti cerita Genius Land of Islam.

Path 1: https://www.facebook.com/share/p/19CfF3qB6d/
Path 2: https://www.facebook.com/share/p/1DCQvpvEyL/
Path 3: https://www.facebook.com/share/p/17ZRPnh3nm/
Path 4: https://www.facebook.com/share/p/1BPfuBDA6g/

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...