Bosan Dijanjikan Terus, Mahasiswa Paksa Ketua DPRD Sumsel Bersumpah di Atas Alquran

Oleh Rosadi Jamani
Saya hampir ngakak lihat Ketua Dewan dipaksa bersumpah di Alquran oleh mahasiswa. Tak berkutik. Mungkin mahasiswa sudah bosan dibohongi terus. Inilah aksi Wong Kito yang membuat nusantara ingin pesan pekempek. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ratusan mahasiswa tergabung dalam Aliansi BEM se-Sumatera Selatan akhirnya mengalami sebuah fase yang dalam ilmu pengetahuan modern disebut “kelelahan janji kronis.” Gejalanya sederhana. Setiap mendengar kata “komitmen”, mereka langsung curiga. Setiap mendengar kata “akan diperjuangkan”, mereka refleks memeriksa kalender. Setiap mendengar kalimat “akan kami sampaikan ke pusat”, mereka spontan ingin meminta nomor resi pengiriman.
Maka pada Rabu itu, halaman DPRD Sumsel berubah menjadi panggung sejarah. Bukan karena ada pesta makan pekempek. Bukan karena ada festival durian. Melainkan karena mahasiswa datang membawa delapan tuntutan panjangnya hampir setara daftar tugas negara yang lupa dikerjakan.
Mereka meminta pengesahan RUU Perampasan Aset. Mereka meminta evaluasi total KDMP dan MBG yang dianggap menggerogoti anggaran pendidikan. Mereka menuntut subsidi energi yang lebih berpihak kepada kelompok rentan. Mereka meminta supremasi sipil melalui revisi UU TNI dan Polri. Mereka menolak SPPG dikelola aparat. Mereka menuntut perlindungan kebebasan pers, pengembalian alokasi TKD ke porsi semula, dan restorasi independensi bank sentral.
Pendeknya, mahasiswa datang bukan membawa proposal lomba 17 Agustus. Mereka datang membawa daftar yang membuat meja birokrasi mendadak berkeringat.
Lalu tibalah momen yang mengubah demonstrasi biasa menjadi episode spesial sinetron politik nasional. Mahasiswa meminta komitmen langsung dari Ketua DPRD Sumsel, Andie Dinialdie.
Permintaan itu sebenarnya terdengar sederhana. Namun di negeri yang sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan janji-janji politik, kata “komitmen” memiliki nilai tukar yang hampir sama dengan uang mainan monopoli. Bentuknya ada, warnanya menarik, tetapi masyarakat sering bingung di mana bisa dicairkan.
Karena itulah mahasiswa tampaknya tidak mau lagi menerima janji versi reguler. Mereka menginginkan garansi. Yang terjadi berikutnya membuat suasana mendadak seperti adegan puncak film kolosal.
Andie mengambil Alquran. Kerumunan hening. Mahasiswa menatap. Wartawan siaga. Mikrofon bergetar. Bahkan burung-burung yang melintas di langit Palembang mungkin sempat memperlambat kepakan sayapnya karena penasaran.
Kemudian terdengar kalimat yang mungkin membuat departemen janji politik nasional perlu melakukan evaluasi besar-besaran.
“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan menyebut nama Allah, bahwasanya kami bersumpah akan menyampaikan aspirasi adik-adik mahasiswa dan masyarakat Sumatera Selatan kepada DPR RI.”
Boom! Seketika level demonstrasi naik tiga tingkat.
Biasanya rakyat hanya mendapatkan pernyataan pers. Kali ini mereka mendapatkan sumpah. Biasanya pejabat cukup berkata, “Percayalah kepada kami.” Kali ini mahasiswa seolah berkata, “Maaf Pak, fitur percaya otomatis kami sudah lama rusak. Mohon aktivasi mode premium.”
Namun mahasiswa tidak langsung pulang sambil menabuh genderang kemenangan. Mereka sadar, sejarah Indonesia dipenuhi janji-janji yang lahir dengan penuh semangat, lalu menghilang secara misterius seperti Harun Masiku dan Silpester Matutina.
Karena itu mereka menegaskan akan terus mengawal seluruh tuntutan yang telah disampaikan. Aksi akhirnya berakhir tertib. Massa membubarkan diri. Lalu lintas kembali normal. Langit tetap biru. Burung tetap terbang. Tetapi satu hal berubah selamanya.
Mahasiswa Sumsel mungkin telah menemukan inovasi demokrasi paling unik tahun ini. Ketika janji sudah terlalu sering dipakai hingga aus, mereka menaikkan standar pembuktian. Sebab bagi mereka, aspirasi rakyat bukan surat cinta cukup dibaca lalu disimpan di laci. Aspirasi rakyat harus dikirim, dikawal, dipastikan sampai tujuan, dan kalau perlu dilengkapi nomor resi agar seluruh Indonesia bisa melacak keberadaannya setiap saat.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar












