Artikel · Potret Online

Ketika Kultus Membunuh Nalar: Pelajaran Al-Ghazali untuk Umat di Era Media Sosial. 

Juni 22, 2026
5 menit baca 16
fa38aa09-b667-4606-929f-252b6c667960
Foto / IlustrasiKetika Kultus Membunuh Nalar: Pelajaran Al-Ghazali untuk Umat di Era Media Sosial. 

Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al-Yusufiy, Lc.

Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Babussa’adah dan Ketua HUDA Aceh Selatan

Di tengah derasnya arus informasi hari ini, manusia sering kali tidak lagi menilai sebuah gagasan berdasarkan kebenaran isinya, tetapi berdasarkan siapa yang mengucapkannya. Sebuah pendapat dianggap benar karena disampaikan tokoh terkenal. Sebaliknya, sebuah gagasan ditolak mentah-mentah hanya karena berasal dari kelompok yang tidak disukai.

Fenomena ini sebenarnya bukan masalah baru. Hampir seribu tahun lalu, Imam Al-Ghazali telah mengidentifikasi penyakit intelektual tersebut dalam karya monumentalnya, Al-Munqidz min al-Dhalal. Ia menyebutnya sebagai salah satu petaka terbesar yang mengancam akal manusia.

Dalam kajian Dewan Guru Babussaadah, pembahasan ini muncul ketika Al-Ghazali mengulas cabang filsafat yang berkaitan dengan ilmu akhlak (al-khuluqiyyah). Menariknya, Al-Ghazali mengakui bahwa banyak pembahasan etika para filosof sebenarnya berbicara tentang upaya memahami jiwa manusia, mengenali penyakit-penyakit hati, serta cara menyucikannya.

Namun, di balik itu, beliau menemukan sebuah kenyataan yang jarang disadari.

Ketika Filsafat Meminjam Warisan Tasawuf

Menurut Al-Ghazali, banyak konsep akhlak yang dibahas para filosof bukanlah hasil murni pemikiran mereka. Sebagian besar diambil dari khazanah para sufi yang telah lebih dahulu menempuh jalan penyucian jiwa melalui zikir, mujahadah, dan pengendalian hawa nafsu.

Para sufi menemukan berbagai rahasia tentang karakter manusia melalui pengalaman spiritual yang panjang. Pengetahuan tersebut kemudian dicatat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebagian filosof mengambil mutiara-mutiara hikmah itu, lalu memasukkannya ke dalam bangunan filsafat mereka. Di sinilah muncul persoalan. Menurut Al-Ghazali, sebagian pemikiran yang benar dicampur dengan gagasan-gagasan yang keliru, sehingga masyarakat kesulitan membedakan mana emas dan mana lumpur.

Dari kondisi tersebut lahirlah dua penyakit besar dalam cara berpikir umat.

Petaka Pertama: Menolak Kebenaran Karena Membenci Pembawanya. 

Kelompok pertama adalah mereka yang menolak semua yang datang dari seseorang atau kelompok yang dianggap salah.

Logikanya sederhana: jika pembicara dianggap sesat, maka seluruh perkataannya pasti sesat.

Al-Ghazali mengkritik cara berpikir ini dengan sangat tajam. Beliau memberikan ilustrasi bahwa seseorang tidak boleh menolak kalimat tauhid hanya karena kalimat itu diucapkan oleh seorang Nasrani. Kekeliruan seorang Nasrani bukan terletak pada pengakuannya terhadap keesaan Allah, tetapi pada aspek lain dari keyakinannya.

Sayangnya, pola berpikir seperti ini masih sering kita jumpai hingga hari ini. Banyak orang lebih sibuk mencari identitas pembicara daripada menguji substansi pembicaraannya. Akibatnya, kebenaran bisa ditolak hanya karena datang dari pihak yang tidak disukai.

Inilah yang oleh Al-Ghazali disebut sebagai ciri orang yang lemah nalarnya.

Mereka mengenal kebenaran melalui manusia, bukan mengenal manusia melalui kebenaran.

Petaka Kedua: Menerima Segalanya Karena Terpesona. 

Jika kelompok pertama terlalu mudah menolak, kelompok kedua justru terlalu mudah menerima.

Mereka terpesona oleh kecerdasan, popularitas, gelar akademik, atau reputasi seseorang. Akibatnya, apa pun yang diucapkan tokoh tersebut diterima tanpa proses kritik dan verifikasi.

Dalam dunia modern, fenomena ini semakin mudah ditemukan. Banyak orang menganggap sebuah pernyataan pasti benar karena diucapkan oleh figur terkenal, influencer, atau tokoh yang memiliki jutaan pengikut.

Padahal, kecerdasan seseorang dalam satu bidang tidak otomatis menjadikannya benar dalam semua bidang.

Al-Ghazali mengingatkan bahwa kekaguman yang berlebihan sering kali membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis. Kebenaran akhirnya tenggelam di bawah bayang-bayang kultus individu.

Prinsip Emas Ali bin Abi Thalib. 

Untuk keluar dari dua jebakan tersebut, Al-Ghazali menghadirkan sebuah prinsip agung yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.:

“Jangan kenali kebenaran melalui orangnya. Kenalilah kebenaran, maka engkau akan mengetahui siapa pemiliknya.”

Prinsip ini mengajarkan kedewasaan intelektual yang luar biasa.

Kebenaran tidak bergantung pada status sosial, popularitas, organisasi, kelompok, ataupun jumlah pengikut seseorang. Kebenaran harus diukur dengan dalil, argumentasi, dan fakta.

Jika sebuah pendapat benar, maka ia layak diterima meskipun datang dari orang yang tidak kita sukai. Sebaliknya, jika sebuah pendapat keliru, maka ia harus ditolak meskipun datang dari tokoh yang kita hormati.

Inilah sikap ilmiah yang menjadi ciri para ulama besar sepanjang sejarah.

Tambang Emas di Dalam Tanah. 

Al-Ghazali bahkan melangkah lebih jauh. Menurut beliau, seorang pencari kebenaran sejati tidak takut menemukan hikmah dari siapa pun.

Beliau mengibaratkannya seperti seseorang yang mencari emas.

Tambang emas tidak berada di atas meja yang bersih. Ia berada di dalam tanah, bercampur dengan lumpur dan batu. Tugas seorang ahli bukan menolak seluruh tanah itu, tetapi memisahkan emas dari kotorannya.

Demikian pula dalam dunia ilmu. Kebenaran terkadang ditemukan di tengah lingkungan yang penuh kekeliruan. Karena itu, seorang yang berilmu harus memiliki kemampuan memilah, bukan sekadar membenci atau mengagumi.

Relevansi di Era Digital. 

Pesan Al-Ghazali ini terasa semakin relevan pada zaman media sosial.

Hari ini, banyak perdebatan tidak lagi berfokus pada isi argumen, tetapi pada identitas pembicara. Orang lebih cepat bertanya, “Siapa yang mengatakan?” daripada “Apakah yang dikatakan itu benar?”

Sebagian menolak karena fanatisme kelompok. Sebagian menerima karena fanatisme tokoh.

Padahal, peradaban ilmu dibangun oleh orang-orang yang berani menimbang setiap gagasan secara adil. Mereka tidak membiarkan kebencian menutup mata terhadap kebenaran, dan tidak pula membiarkan kekaguman membunuh daya kritis.

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa krisis terbesar umat bukanlah kurangnya informasi, melainkan hilangnya kemampuan membedakan antara kebenaran dan figur yang membawanya.

Ketika label menggantikan analisis, dan kultus menggantikan nalar, saat itulah masyarakat mulai menjauh dari cahaya ilmu.

Maka, tugas kita hari ini bukan sekadar memperbanyak informasi, tetapi membangun keberanian untuk menilai segala sesuatu dengan timbangan kebenaran. Sebab kebenaran tetaplah kebenaran, siapa pun yang mengucapkannya. Dan kesalahan tetaplah kesalahan, meskipun datang dari orang yang kita kagumi.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua HUDA Aceh Selatan Periode 2024-2029 dan Pimpinan Dayah Madinatud Diniyah Babussaadah
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...