Ilusi Kampus Global: Struktur Tersembunyi di Balik Internasionalisasi Perguruan Tinggi di Indonesia

Olleh Dayan Abdurrahman
Ada satu cara paling jujur untuk memahami posisi perguruan tinggi di Indonesia hari ini dalam percakapan global: bukan dengan melihat apa yang terlihat di permukaan, tetapi dengan membaca struktur yang membentuk apa yang terlihat itu. Karena di era ketika semua institusi bisa menampilkan citra “global”, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah sebuah kampus terlihat internasional, tetapi apakah ia benar-benar menjadi bagian dari sistem produksi pengetahuan dunia.
Di banyak universitas, kita melihat ekspansi simbolik yang sangat cepat. Gedung baru dibangun, laboratorium diperbarui, platform digital diperkuat, dan kerja sama internasional diumumkan dengan sangat rutin. Bahasa “world class university” menjadi bagian dari narasi resmi. Namun di balik semua itu, ada jarak yang cukup dalam antara modernisasi bentuk dan transformasi isi. Yang satu mudah dicapai dalam waktu singkat, yang lain membutuhkan akumulasi panjang yang sering tidak terlihat oleh publik.
Untuk memahami kesenjangan ini, kita perlu mundur sejenak dan melihat bagaimana universitas global sebenarnya terbentuk. Universitas seperti Oxford, Cambridge, Harvard, atau bahkan institusi riset besar di Amerika dan Eropa tidak lahir sebagai “kampus global”. Mereka tumbuh dari sejarah panjang yang sangat spesifik: interaksi antara gereja dan pengetahuan di Eropa abad pertengahan, revolusi industri yang menciptakan kebutuhan riset terapan, hingga perang dunia yang mempercepat integrasi ilmu pengetahuan dengan negara dan teknologi. Artinya, universitas global bukanlah titik awal, tetapi hasil dari proses historis yang sangat panjang, sering kali berabad-abad, di mana pengetahuan terus diproduksi, diperdebatkan, dan disebarkan secara konsisten.
Di titik ini, menjadi jelas bahwa globalisasi universitas bukan proyek infrastruktur, melainkan proses akumulasi epistemik. Namun dalam banyak konteks negara berkembang, termasuk Indonesia, proses ini sering dibalik. Kita memulai dari infrastruktur, bukan dari ekosistem pengetahuan. Kita membangun gedung terlebih dahulu, berharap bahwa sistem akan mengikuti. Kita memperkuat branding sebelum memperkuat produksi riset. Kita memperbanyak kerja sama sebelum memastikan bahwa kerja sama itu benar-benar menghasilkan pengetahuan baru.
Di sinilah muncul apa yang bisa disebut sebagai ilusi kampus global. Ilusi ini tidak berarti bahwa tidak ada kemajuan, tetapi bahwa kemajuan tersebut sering berhenti pada level representasi. Universitas terlihat global, tetapi belum sepenuhnya bekerja sebagai node dalam jaringan pengetahuan global yang hidup.
Untuk memahami mengapa hal ini terjadi, kita perlu masuk ke dalam struktur yang lebih dalam, yaitu struktur geopolitik pengetahuan global. Dunia akademik tidak pernah netral. Ia memiliki hierarki yang terbentuk secara historis, di mana bahasa, institusi, jurnal, dan jaringan akademik tertentu memiliki posisi dominan dalam menentukan apa yang dianggap sebagai “pengetahuan sah”. Teoretikus seperti Altbach dan Marginson menjelaskan bahwa sistem pendidikan tinggi global adalah sistem yang sangat terstratifikasi, di mana universitas tidak hanya bersaing berdasarkan kualitas internal, tetapi juga berdasarkan posisi mereka dalam jaringan global yang sudah mapan. Bourdieu bahkan menambahkan bahwa dalam dunia akademik, modal simbolik—seperti reputasi, sitasi, dan pengakuan institusional—memiliki kekuatan yang sering kali lebih menentukan daripada sekadar kapasitas teknis.
Dalam struktur seperti ini, universitas di Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan internal, tetapi juga harus berhadapan dengan sistem global yang sudah lebih dulu terbentuk. Artinya, “menjadi global” bukan hanya soal meningkatkan kualitas, tetapi juga soal masuk ke dalam sistem yang sudah memiliki aturan main, hierarki, dan distribusi pengaruh yang tidak setara.
Jika kita melihat negara-negara seperti China, Korea Selatan, dan Singapura, kita akan menemukan bahwa proses “naik kelas” mereka dalam pendidikan tinggi tidak terjadi melalui infrastruktur semata. China, misalnya, melakukan reformasi besar dalam sistem riset, meningkatkan pendanaan secara agresif, membangun universitas berbasis kompetisi global, dan mendorong publikasi internasional sebagai indikator utama kinerja akademik. Korea Selatan mengintegrasikan universitas dengan industri teknologi dan riset secara sangat erat, menciptakan siklus inovasi yang berkelanjutan. Singapura, di sisi lain, membangun universitas sebagai node global yang secara langsung terhubung dengan jaringan riset internasional melalui strategi rekrutmen global, kolaborasi riset intensif, dan tata kelola berbasis performa.
Yang penting untuk dicatat bukan hanya hasil akhirnya, tetapi mekanisme di baliknya. Mereka tidak sekadar membangun institusi pendidikan, tetapi membangun ekosistem pengetahuan yang terintegrasi. Mereka tidak berhenti pada simbol internasionalisasi, tetapi memastikan bahwa internasionalisasi itu berubah menjadi produksi pengetahuan yang berkelanjutan.
Dalam konteks Indonesia, salah satu tantangan yang paling nyata adalah fenomena internasionalisasi simbolik. MoU ditandatangani, program pertukaran dijalankan, seminar internasional digelar, dan International Office bekerja secara administratif. Namun dalam banyak kasus, hubungan tersebut tidak berkembang menjadi kolaborasi riset jangka panjang yang menghasilkan publikasi bersama atau kontribusi signifikan dalam percakapan ilmiah global. Internasionalisasi hadir sebagai aktivitas, bukan sebagai struktur.
Hal ini diperparah oleh struktur insentif akademik yang belum sepenuhnya mendukung produksi pengetahuan jangka panjang. Dosen dan peneliti sering berada dalam tekanan beban kerja yang kompleks, di mana pengajaran, administrasi, dan tuntutan institusional menyita sebagian besar energi akademik. Dalam situasi seperti ini, riset tidak selalu menjadi pusat gravitasi universitas, tetapi sering menjadi aktivitas tambahan yang harus dikerjakan di sela-sela kewajiban lain. Padahal dalam universitas riset global, logika ini dibalik secara total: semua aktivitas akademik berputar di sekitar produksi pengetahuan.
Di sisi lain, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan sumber daya manusia. Banyak akademisi Indonesia telah menempuh pendidikan di luar negeri, bekerja dalam jaringan riset global, dan memiliki kapasitas intelektual yang tidak kalah dengan negara lain. Namun tantangan utamanya bukan pada individu, melainkan pada sistem yang belum mampu mengintegrasikan potensi tersebut menjadi ekosistem pengetahuan yang kohesif. Tanpa sistem yang mengikat, talenta menjadi tersebar, dan potensi kolektif tidak terakumulasi secara maksimal.
Dalam konteks ini, diaspora akademik menjadi salah satu aset strategis yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Banyak peneliti Indonesia di luar negeri sebenarnya bisa menjadi jembatan penting dalam integrasi pengetahuan global, tetapi ini membutuhkan mekanisme repatriasi pengetahuan yang lebih sistemik, bukan sekadar ajakan individual.
Jika kita bergerak ke arah masa depan, universitas juga sedang mengalami transformasi struktural yang lebih besar. Dengan hadirnya kecerdasan buatan, big data, dan kolaborasi digital lintas negara, universitas tidak lagi berdiri sebagai institusi tertutup, tetapi semakin menjadi bagian dari jaringan pengetahuan global yang terdistribusi. Dalam model ini, universitas tidak lagi bersaing sebagai entitas tunggal, tetapi sebagai node dalam ekosistem pengetahuan yang sangat terhubung.
Dalam konteks tersebut, pertanyaan tentang “kampus global” juga berubah. Ia tidak lagi hanya tentang reputasi atau peringkat, tetapi tentang kemampuan untuk berkontribusi secara aktif dalam jaringan produksi pengetahuan dunia yang terus bergerak.
Pada akhirnya, “ilusi kampus global” bukan berarti bahwa tidak ada kemajuan yang terjadi. Kemajuan itu nyata, tetapi masih berada dalam fase transisi antara modernisasi simbolik dan integrasi sistemik. Kita sudah melampaui tahap infrastruktur dasar, tetapi belum sepenuhnya memasuki tahap ekosistem pengetahuan yang matang.
Dan mungkin di titik inilah kesadaran paling penting muncul: bahwa menjadi global bukan tentang terlihat global, tetapi tentang menjadi bagian dari sistem pengetahuan yang hidup, terhubung, dan berkelanjutan. Dan itu adalah proses panjang yang tidak bisa disederhanakan menjadi proyek jangka pendek, tidak bisa dipercepat hanya dengan kebijakan, dan tidak bisa diukur hanya dengan simbol. Ia adalah kerja sunyi yang berjalan perlahan, tetapi menentukan arah masa depan akademik sebuah bangsa.












