Mendobrak Pintu Kebuntuan lo Menulis, Menerima Imbalan “Gaji” Dari Tuhan

Oleh: Anies Septivirawan
Sinar matahari belum terlalu garang menyentuh kulit. Masih menyapa lembut bersama desir angin menjelang siang kerontang di kotaku. Tepatnya di warung kopi “Ngopi Sehat” .
Orang-orang penikmat kopi di samping kiri dan kananku ngobrol ngalor ngidul. Dari politik dunia hingga tingkat rumah tangga masing-masing. Dari peperangan antar negara hingga perang batin masing-masing.
Ada yang ngobrol dengan gestur tubuh dan aksen bak Rocky Gerung. Ada juga yang ngobrol dengan sorot mata bermakna kekhawatiran, kekhawatiran deadline hutang dan pencapaian laba yang tidak sesuai ekspektasi di benak masing-masing.
Aku sendiri terpaku menatap kursor di layar android, berkedip – kedip seperti lampu traffic light yang mengisyaratkan agar para pengguna jalan berhati – hati melintas atau menyeberang jalan.
Mata kursor itu menatapku lebih lama, seperti tatapan mata indah nan bolak bak aktris Bollywood. Namun aku mampu menghindari “tatapan” yang mematikan inspirasiku itu. Namun aku punya cara untuk menghindari hal itu. Kutemukan cara menghindari “tatapan” kursor yang membuat jemariku berhenti mengetik. Caranya, aku berpaling dari “tatapan” itu dan selalu kuingat momen -monen terindah bersama sang kekasih atau sang mantan, maka mengalirlah kembali air inspirasi itu mendobrak pintu kebuntuan menulisku.
Aku bisa melewati fase-fase itu berkali-kali setiap aku menjalani proses aktivitas menulisku. Stagnan menulis adalah hal biasa bagi para penulis di seluruh dunia. Apakah yang dicari para penulis? Motivasi hoby kepenulisan seorang penulis tidak sama.
Kalau menurutku, aktivitas menulis adalah berawal dari rasa gelisah yang mesti dituangkan. Rasa kegelisahan yang mesti diwujudkan lalu dirangkai menjadi sepotong kalimat. Dan kalimat itu kuhiasi dengan pernak pernik yang indah dan enak didengar oleh telinga, indah dirasa oleh hati. Maka, jadilah sepotong kalimat itu menjadi puisi pendek.
Dan ketika kubaca sepotong kalimat yang telah kurias menjadi puisi pendek itu, puisi pendek itu berdiri gagah dengan wajah garang, pedang di tangan. Ia mengayunkan pedang dan menebas seonggok penyakit yang bernama kegelisahan di hati.
Aku pun terbebas dari penyakit bernama kegelisahan karena sepotong kalimat dengan rasa puisi pendek itu. Aku menjadi manusia yang sehat jiwa dan raga. Dan kesehatan yang kudapatkan ini kuanggap “gaji” dari tahun yang maha esa. Maha memberi, maha segalanya. Terima kasih, ya tuhan.
Situbondo, awal Mei 26









