Oleh Ridwan al-Makassary
Hampir dua bulan perang Iran 2026 telah berlangsung dengan jatuhnya korban jiwa dan harta benda yang tidak terhitung nilainya. Saat ini perang Iran berada dalam jeda (gencatan senjata), di mana upaya negosiasi diplomatik sedang diupayakan para aktor perang, khususnya Iran dan Amerika Serikat (AS).
Satu pertanyaan terbit mengenai perang Iran 2026 yang berkecamuk tersebut adalah di mana Cina dan Rusia berdiri dalam perang ini? Tulisan ini akan mengulas persoalan ini untuk memahami posisi Cina dan Rusia dalam perang ini dari sebuah perspektif yang lebih luas.
Penulis berpandangan bahwa jawaban atas pertanyaan pembuka di atas tidak sederhana. Sulit dipahami (elusive).
Pertama, karena kedua negara besar tersebut tidak mengirim pasukan, tidak menurunkan jet tempur, dan juga tidak secara resmi masuk ke medan perang. Namun, kita bisa membaca bahwa ketidakhadiran keduanya di garis depan bukan berarti mereka tidak berperan sama sekali.
Dalam geopolitik modern, kekuatan acap bekerja dari balik layar. Dan, dalam perang Iran 2026, Beijing dan Moskow tampaknya memilih memainkan permainan itu. Singkatnya, mereka, baik Cina dan Rusia, tidak terang-terangan membantu Iran.
Reuters melaporkan bahwa Cina kini memprioritaskan keamanan energi dan perlindungan rantai pasok di tengah dampak perang Iran. Pemerintah Cina menilai konflik ini sebagai “guncangan eksternal” yang berpotensi mengganggu ekonomi domestik mereka.
Bagi Cina, Iran bukan sekadar mitra politik, ia juga simpul penting dalam arsitektur energi Asia . Lebih dari itu, selama bertahun-tahun Cina merupakan salah satu pembeli utama minyak Iran, bahkan ketika sanksi barat mencekik ekonomi Teheran. Dalam bahasa sederhananya, Cina tidak membutuhkan kemenangan Iran, tetapi Cina membutuhkan Iran tetap ada untuk menjamin pasokan energi.
Memang, Cina secara khusus tidak pernah melakukan sesuatu tanpa hitungan ekonomi bak pedagang. Mereka membutuhkan jalur Sutra—baik yang lama maupun yang digital. Iran adalah pintu gerbang ke Lebanon, Suriah, dan Yaman. Jika Iran runtuh, maka investasi triliunan dolar Beijing di kawasan itu ikut hancur.
Karenanya, Cina membiayai perang itu layaknya pemodal ventura mendanai startup rintisan. Mereka kirim droen Shahed versi upgraded dengan chip Huawei, tapi mereka tak kirim satu pun tentara. Maka, Cina memainkan peran ganda, di mana di depan kamera, mereka memeluk pemimpin Tertinggi Iran; di belakang layar, mereka terus berbisik kepada Arab Saudi dan AS tidak ikut-ikutan membantu Iran.
Dalam perang ini Beijing tampaknya mengambil jalur yang khas, yaitu diplomasi tanpa konfrontasi. Mereka mengecam serangan terhadap Iran, menyerukan stabilitas, tetapi berhati-hati agar tidak terseret pada perang terbuka melawan AS.
Bahkan, berperan di balik negosiasi diplomatic antara Iran dan AS, melalui mediasi Pakistan. Singkatnya, Cina ingin tampil sebagai penyeimbang global, bukan petarung baru yang meramaikan medan tempur. Ini pola yang konsisten, yaitu meraih pengaruh tanpa menanggung biaya perang.
Sementara Rusia memainkan peran yang sedikit berbeda.Moskow memiliki hubungan militer yang lebih dekat dengan Teheran. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara semakin rapat menjalin hubungan karena sama-sama menghadapi tekanan Barat.
Reuters mencatat Iran bahkan memperkuat kerja sama pertahanan dengan Rusia dan Belarus pascaperang. Ini menandakan bahwa perang justru mendorong konsolidasi blok anti-Barat.
Rusia selama ini menjual senjata ke Israel dan Iran secara bergantian.
Dalam perang 2026 ini, Rusia seperti wasit yang ikut bermain bola. Mereka memanfaatkan Iran untuk mengalihkan perhatian NATO dari Ukraina. Setiap rudal Iran yang meledak di pangkalan AS di Qatar adalah hadiah untuk Moskow.
Namun, ketika Iran membutuhkan aksi darat, Rusia hanya angkat bahu. Namun, Rusia juga sadar keterbatasan yang dimilikinya. Perang Ukraina yang belum selesai dan juga ekonomi Rusia masih dibebani sanksi. Membuka front baru secara langsung dengan AS, yang dilakukan demi Iran adalah perjudian mahal.
Karena itu, Kremlin tampaknya memilih strategi dukungan terbatas berupa intelijen, koordinasi diplomatik, bantuan logistik, dan tekanan narasi terhadap AS.
Secara keseluruhan, Moskow dan Beijing hadir sebagai penyelamat ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) macet oleh veto Barat, Rusia memasok sistem S-500 ke Isfahan.
Cina, dengan tenang, mengirim tim siber untuk melumpuhkan radar musuh. Bahkan, kedua negara tersebut memblokir setiap resolusi kecaman yang diajukan AS di New York. Sikap ini menunjukkan realisme Rusia dan Cina, yaitu mendukung Iran sejauh menguntungkan, tetapi tidak sampai mengorbankan kepentingan negara mereka masing-masing.
Di sinilah letak pelajaran paling penting yang jarang dipahami orang kebanyakan. Banyak orang membayangkan blok Cina-Rusia-Iran sebagai aliansi militer solid seperti NATO versi tandingan. Perang Iran 2026 justru memperlihatkan sebaliknya.
Mereka adalah mitra strategis, bukan saudara seperjuangan tanpa syarat. Hubungan mereka dibangun di atas kepentingan bersama melawan dominasi Barat, bukan janji sehidup semati mendukung satu sama lain di medan perang.
Pungkasannya, di meja catur perang tersebut, Cina serta Rusia tampaknya memilih menjadi pemain yang tidak terlihat menggerakkan bidak, tetapi turut menentukan arah papan catur. Iran mungkin sedang berperang dengan senjata. Sedangkan Amerika mungkin berperang dengan Iran dan dengan tekanan, baik dalam negeri dan dunia internasional.
Namun, Cina dan Rusia berperang dengan waktu, yaitu menunggu siapa yang mundur duluan dari medan tempur dan membantu diam-diam, jika perdamaian permanen tidaktercapai.
Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Centerfor the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).








Diskusi